Zaid bin Arqam geregetan! Daun cuping telinganya seketika merah dan berdiri tegak. Darah panas serasa menggelegak memenuhi seluruh lekuk tubuhnya.

“Cobalah lihat wahai saudaraku kaum Khazraj! Mereka kaum Muhajirin sudah mengalahkan kita, memperbanyak jiwa di negeri kita, menyingkirkan agama kita!” kata Abdullah bin Ubay berapi-api. Kaum Muhajirin dan Anshar baru saja nyaris terlibat bentrokan bersenjata hanya karena sebuah kesalahpahaman di sumur Muraisi. “Kita tidak menyangka, mereka akan seperti kata pepatah orang tua kita dahulu ‘Gemukkanlah olehmu anjingmu biar ia menggigitmu!’”

Perkataan ini penuh fitnah! Seperti api dalam sekam, ia bisa menyambar apapun dan membakar liar ke segala arah.

“Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah,” lanjut dedengkot kaum munafik itu dengan sombongnya, “niscaya orang yang mulia akan mengusir orang yang hina dina dari Madinah!”

“Kamulah yang hina dina pada sisi kaummu, wahai Ibnu Ubay!” sahut Zaid seketika dengan gigi gemeretak mendengar ejekan itu. “Adapun Muhammad adalah mulia di sisi Allah dan berkekuatan dari kaum muslimin.”

Abdullah bin Ubay tak menyangka pemuda Muhajirin itu akan menyahut perkataannya. “Diamlah kisanak! Aku tidak akan berbuat apa-apa,” katanya pada Zaid. “Aku hanya bergurau belaka!”

***

Rasulullah sedang berkumpul bersama beberapa orang sahabat. Bagaimanapun dari tangan Bani Musthaliq yang baru saja ditaklukkan, kaum muslimin memperoleh ghanimah yang banyak. Tak kurang 2.000 ekor unta, 5.000 ekor kambing, dan 700 orang tawanan laki-laki dan perempuan telah jatuh ke tangan mereka.

Namun karena didorong oleh persoalan yang menurutnya harus segera disampaikan, maka Zaid pun memberanikan diri menghadap lelaki kinasih itu. Ketika diberikan kesempatan, maka ia pun lantas menuturkan perkataan Abdullah bin Ubay yang didengarnya dengan telinganya sendiri itu.

Raut muka lelaki agung itu berubah seketika. Sesaat ruang itu mendadak sunyi. Dengan berhati-hati, lelaki mulia itu lantas bertanya pada Zaid, “Barangkali kamu saja yang marah-marah padanya, wahai Ibnu Arqam?”

Zaid agak tersentak dengan jawaban lelaki agung itu. Ia tak menduga mendapatkan jawaban berupa pertanyaan demikian. Dengan tangkas ia lalu menyahut, “Demi Allah, ya Rasulullah! Sungguh aku mendengarnya benar-benar demikian itu.”

“Barangkali kamu saja yang salah mendengarnya, wahai Zaid?”

“Ya Rasulullah! Betul-betul saya mendengarnya demikian.”

Pemuda Muhajirin itu tampak merasa susah dan malu ketika Rasulullah seperti tidak percaya dengan laporannya. Namun ia agak sedikit terobati ketika salah seorang sahabat yang hadir di tempat itu ikut angkat bicara.

“Ya, Rasulullah,” kata Umar bin Khatthab dengan nada berat. “Jika yang dikatakan Zaid itu benar, maka ijinkan saya memenggal batang leher Ibnu Ubay sekarang juga!”

Rasulullah seketika menjawab, “Bagaimanakah wahai Umar jika orang-orang membicarakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya?”

“Wahai Rasulullah,” sambung Umar belum akan berhenti, “jika saja Baginda tidak suka orang Muhajirin membunuh Ibnu Ubay, maka perintahkanlah Muhammad bin Maslamah (seorang Anshar) untuk membunuhnya.”

Berkali Ibnu Khatthab meminta ijin. Berkali pula Rasulullah tetap bergeming. Bahkan beliau kemudian memerintahkan pasukan kaum muslimin segera kembali ke Madinah. Padahal, matahari begitu teriknya hingga kerontang tanah mengeluarkan hawa panas serupa bongkahan bara api. Dan Nabi sendiri tidak biasa berjalan jauh dalam musim panas seperti ini. Bahkan sehari semalam mereka berjalan tanpa henti. Ketika berhenti pun pada siang hari berikutnya, banyak yang kemudian berbaring dan tidur untuk beristirahat. Cerita tentang Abdullah bin Ubay pun lenyap ditelan mimpi-mimpi.

***

“Hai Ibnu Ubay!” kata Nabi kepada Abdullah bin Ubay ketika mereka bertemu dalam perjalanan kembali ke Madinah itu. “Jika telah telanjur perkataanmu sebagaimana yang telah aku dengar, tobatlah kamu kepada Allah. Jika tidak, hendaklah kamu menunjukkan kebenaran kamu dengan sumpah kepada Allah. Yang demikian itu agar menunjukkan bahwa kamu tidak berkata sebagaimana dikatakan oleh Zaid kepadaku.”

“Demi Dzat yang telah menurunkan kitab atas Baginda, Muhammad!” jawab Abdullah bin Ubay penuh penghormatan. “Sungguh saya tidak berkata seperti dikatakan Zaid sedikitpun. Bahkan, sungguh Zaid-lah yang berdusta kepada Baginda!”

Ibnu Ubay terus menyangkal hingga Nabi tak lagi menanyainya. Justru seorang keluarga Zaid mendatangi pemuda itu dan berkata, “Kamu ini tidak lain hendak meminta kepada Rasulullah supaya kamu didustakan dan dimurkai olehnya. Bukan begitu, Zaid?”

“Demi Allah! Sungguh aku telah mendengar perkataan Ibnu Ubay!” sanggah Zaid. “Jika aku mendengar perkataan seperti itu dari bapakku, niscaya akan aku sampaikan juga kepada Rasulullah.”

***

Berita itu akhirnya tiba juga di telinganya. Tentang perkataan penuh ejekan ayahnya kepada Baginda Nabi. Umar bin Khatthab bahkan telah berulang kali meminta ijin kepada Rasulullah untuk membunuh ayahnya. Maka ia pun segera menemui lelaki agung itu.

“Ya Rasulullah! Telah sampai kabar kepada saya bahwa Baginda hendak membunuh ayah saya,” kata pemuda itu kepada Nabi. “Jika kabar itu benar, saya minta hendaklah Baginda perintahkan saya. Nanti sayalah yang akan membawa kepalanya ke hadapan Baginda.”

“Tidak, wahai Abdullah!” Lelaki agung itu menggeleng tegas. Seperti seorang ayah menasihati anaknya, ia pun berkata kepada putra Ibnu Ubay itu, “Tidak. Aku tidak berkehendak menyuruh seseorang membunuh ayahmu. Aku tidak berkehendak membunuhnya. Bahkan aku sahabat baiknya, selama ia bersahabat denganku.”

Abdullah memandang junjungannya itu. Sorot mata lelaki agung itu memancar penuh kasih, serasa mengisi kesejukan rongga dadanya yang sesak.

“Wahai Abdullah,” kata Nabi menyambung pembicaraan. “Berbuat baiklah kamu pada ayahmu!”

***

Tepat ketika tiba di dusun Walid Aqiq, seorang pemuda mendahului perjalanan barisan tentara itu. Dan di sebuah tempat dekat Madinah, ia berbalik arah, berhenti, dan menanti barisan itu lewat. Bukan. Lebih tepatnya, ia tengah menanti seseorang.

“Apa maksudmu berada di sini, hai Khubab[1]?” tanya seorang laki-laki pada pemuda di pintu gerbang Madinah itu.

“Demi Allah!” jawab sang pemuda. “Janganlah Ayah masuk ke Madinah sebelum mengakui bahwa Ayahlah yang hina dina dan Rasulullah yang mulia.”

Merah-padamlah raut muka Ibnu Ubay, laki-laki itu. “Sungguh, akulah yang lebih hina daripada perempuan dan sungguh aku lebih hina daripada anak-anak,” jawabnya pada pemuda itu. “Adakah kamu ikut kemauan orang-orang itu atau tak mau ikut kepadaku?”

Pemuda itu menjawab dengan tegas. “Ya. Aku ikut orang-orang itu.”

Abdullah bin Ubay memalingkan mukanya. Ketika Nabi datang ke tempat itu, laki-laki itu memarahi anaknya, lalu menuturkan perbuatan anaknya kepada lelaki agung itu.

Rasulullah menyuruh Abdullah membiarkan ayahnya memasuki Madinah.

Kata Abdullah, “Jika Ayah tidak mengakui bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya, niscaya sayalah yang akan memenggal leher Ayah!”

“Apakah kamu akan berbuat begitu padaku, Khubab?” tanya laki-laki itu gusar. Tetapi dengan bersungut-sungut, akhirnya ia berkata, “Aku menyaksikan bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.”

Rasulullah tersenyum. Sabdanya pada pemuda itu, “Wahai Abdullah! Mudah-mudahan Allah membalas kebaikanmu dari Rasul-Nya dan dari orang-orang yang beriman.”

***

Akhirnya wahyu Allah pun turun untuk menetralisir peristiwa itu [2]. Ketika itu Nabi sedang mengendarai untanya menuju Madinah. Tiba-tiba beliau mendekati unta Zaid bin Arqam, menarik telinga pemuda itu, lalu bersabda, “Sempurnakanlah pendengaranmu, hai pemuda. Allah telah membenarkan perkataanmu dan mendustakan orang-orang munafik.”

***

Selalu saja yang remang-remang, abu-abu, samar, syubhat, atau apapun istilahnya bagi sesuatu atau seseorang yang tidak jelas posisinya membuat sulit bersikap. Demikian juga bersikap terhadap orang munafik, yang jelas bukan kafir, tetapi selalu merecoki perjuangan. Mungkin karena itulah, pada pembukaan Q.S. Al-Baqarah, jumlah ayat yang membahas orang-orang munafik ini jauh lebih banyak dibanding orang mukmin ataupun kafir.

Karena posisinya yang demikian, maka tidaklah serta merta mereka halal darahnya. Bagaimanapun mereka beriman atau setidaknya mengaku beriman, meski di belakang mereka berkata lain. Namun ketika diajak membela agama Allah, pergi ke medan perang misalnya, ada saja alasannya untuk tidak ikut serta. Meski sudah berangkat bersama kaum muslimin lainnya, dalam perang Khandaq maupun Tabuk misalnya, tetapi di tengah jalan mereka memutuskan untuk kembali dan meninggalkan medan. Yang lebih memuakkan adalah ketika di depan kita mereka memuji, di belakang kita mereka mengejek dan menghina. Itulah yang dilakukan Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik Madinah, terhadap Nabi Saw.

Sikap yang demikian sungguh merepotkan. Dihabisi tidak boleh. Dibiarkan hanya akan menjadi sandungan. Bahkan boleh jadi mereka menjadi “musuh dalam selimut.” Pada posisi inilah Rasulullah Saw. dituntut bersikap bijak. Berbeda dengan musuh-musuh Allah yang sudah sangat jelas kekafiran dan permusuhannya terhadap Islam, Nabi bersikap lebih sabar dan cenderung menahan diri terhadap ulah kaum munafik, dalam hal ini diwakili oleh Abdullah bin Ubay. Apa saja yang mereka katakan, hinaan dan ejekan terhadap pribadinya, paling menyakitkan hati sekalipun, selalu saja Nabi tetap sabar dan menahan diri. Kebijaksanaan seperti inilah yang kiranya harus beliau tunjukkan, meski sahabat di sekeliling beliau, terutama Umar, sudah tak sabar untuk menutup mulut Ibnu Ubay selamanya dan habis perkara.

Bahkan Abdullah, putra Abdullah bin Ubay pun sampai mengajukan diri untuk mengeksekusi ayahnya daripada keduluan orang lain. Tetapi, lelaki yang agung itu tetap bergeming. Hatinya begitu luas untuk menampung pedih-perih. Juga gelegak marah.

***

Pada sebuah kesempatan, Rasulullah tengah meminum air. Abdullah datang menguluk salam, lantas duduk di hadapan beliau.

“Ya, Rasulullah!” katanya pada lelaki agung itu. “Demi Allah! Sudikah engkau menyisakan barang sedikit saja dari air yang engkau minum itu? Nanti air sisa engkau itu akan aku sampaikan kepada ayahku agar diminumnya. Mudah-mudahan dengan minum air sisa engkau, ayahku dibersihkan hatinya oleh Allah.”

Nabi menyisakan air minum beliau dan memberikannya pada anak berbudi itu.

Abdullah lalu membawa air sisa minum Rasulullah itu kepada ayahnya, menyerahkannya dan meminta ayahnya untuk meminumnya.

“Apa ini, Khubab?” tanya Ibnu Ubay kepada Abdullah.

“Ini adalah sisa air minum Rasulullah yang sengaja saya bawa untuk Ayah agar Ayah sudi meminumnya,” kata Abdullah apa adanya. “Dengan demikian, semoga Allah membersihkan hati Ayah.”

Laki-laki itu seketika tersenyum sinis. “Mengapa kamu tidak datang kepadaku dengan membawa air kencing ibumu saja?” katanya mengejek. “Karena air kencing ibumu itu lebih bersih daripada sisa air Muhammad. Bukan begitu, Khubab?”

Darah Abdullah menggelegak ke ubun-ubun. Seketika ia meninggalkan ayahnya. Ia lalu menghadap Nabi dan melaporkan kejadian itu.

“Ya, Rasulullah,” katanya memohon kepada lelaki agung itu. “Perkenankanlah saya membunuh Ayah saya yang jahat itu.”

Lelaki mulia itu, dengan kesabaran seluas samudera, menjawab permintaan Abdullah. “Bertemanlah dengan ayahmu, hai Abdullah,” sabdanya dengan penuh kasih. “Dan berbuat baiklah kamu kepadanya.”

***

[1] Khubab, nama lain Abdullah bin Abdullah bin Ubay.

[2] Yakni Q.S. Al-Munâfiqûn: 1-8

“Maha suci Allah, ya Rasulullah!” seru mereka dalam ketidakpuasan setelah memperhatikan rancangan perjanjian itu. “Bagaimana mungkin jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, namun engkau harus menolaknya? Sementara jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka orang-orang musyrik Quraisy karena hendak murtad, mereka tidak harus mengembalikannya kepada engkau?”

Hari ini di bulan Dzulqadah tahun keenam selepas hijrah.

Di Tsanuyyatul Mirar rombongan ihram itu berhenti. Tak kurang 1.400 orang Muhajirin dan Anshar berpakaian serba putih mengelilingi lelaki kinasih itu pada sebuah lembah bernama Hudaibiyah, laksana sekawanan malaikat bersayap cahaya terbang bercengkerama mengitari matahari. Setiap hati telah berazam untuk membela agama Allah hingga titik darah penghabisan. Setiap diri telah bersiap untuk siap bertempur, pantang mundur setapak pun, dan mati berkalang tanah. Satu demi satu, tanpa kecuali, mereka telah berikrar dalam Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon Sidr* di tempat ini.

“Barangsiapa pergi dari kita kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjauhkannya,” jawab lelaki agung itu penuh kearifan. “Dan barangsiapa dari mereka datang kepada kita, lalu kita mengembalikannya kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjadikan keluasaan dan keringanan untuknya.”

Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian itu. Ia lantas mendapati Abu Bakar, berdiri di hadapannya, seperti hendak menerkamnya bulat-bulat.

”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?” tanyanya penasaran tak habis mengerti.

”Benar, wahai Umar!” jawab sahabat terkasih itu. “Beliau adalah Rasulullah!”

”Bukankah kita ini kaum muslimin?”

”Ya, kita ini kaum muslimin.”

”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”

”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”

”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”

Abu Bakar menghela napas sebentar. Menjinakkan sepuluh kuda liar padang pasir mungkin masih lebih mudah ketimbang mengendalikan lelaki di depannya ini ketika sedang naik darah.

”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”

”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar. Namun, ia lantas berlalu mencari Rasulullah. Baginya, rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr, utusan orang Quraisy itu, banyak merugikan kaum muslimin.

”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.

”Benar,” jawab Rasulullah Saw. ” Aku ini Rasulullah.”

”Bukankah kami ini kaum muslimin?”

”Ya, benar.”

”Bukankah mereka itu musyrikin?”

”Ya, betul.”

”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”

Rasulullah Saw. terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda lelaki agung itu sesaat kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”

Umar masih menyela sekali lagi. Lelaki putra al-Khaththab itu belum puas dengan jawaban Nabi. ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”

Sang Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”

Kali ini, Umar terdiam dan tak bertanya lagi.

***

”Tulislah olehmu ’Bismillâhirrahmânirrahîm’ wahai Ali!”

Ali menggerakkan pena di tangannya.

”Aku tidak mengerti ini,” Suhail bin Amr langsung menggerakkan tangannya, memotong ucapan lelaki agung itu. Tangan Ali pun berhenti bergerak. ”Tetapi tulislah ’Bismikallôhumma’.”

Nabi melirik utusan Quraisy Mekah itu. Benar kata orang, Suhail seorang yang cakap, berpembawaan tenang, dan seorang juru runding pilihan. Lalu Rasul pun bersabda, ”Tulislah olehmu ’Bismikallôhumma’ya Ali.”

Ali meneruskan tulisannya sesuai perintah Nabi.

Lelaki kinasih itu lalu melanjutkan sabdanya kepada Ali. ”Tulislah olehmu ’Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr’.”

Suhail kembali menggerakkan tangannya. Ia terlihat tidak senang dengan kalimat ’Muhammad Rasulullah’ itu. ”Demi Allah!” katanya tenang tetapi penuh penekanan, kata demi kata. ”Jika kami mengakui bahwa engkau itu Rasulullah, niscaya kami tidak menghalang-halangimu ke Baitullah dan tidak pula kami memerangimu.”

Angin mengalir perlahan. Segenap yang hadir berkeringat dingin. Di sini, di tempat ini, sebuah peperangan tanpa pedang sedang berlangsung.

Lelaki juru runding Quraisy itu pun melanjutkan kata-katanya, “Karena itu, tulislah ’Muhammad bin Abdullah’.”

“Demi Allah ! Sesungguhnya aku ini benar-benar Rasulullah,” sahut Baginda Nabi seketika, “meskipun kamu mendustakanku sekalipun.”

Sesaat udara seperti berhenti mengalir. Tangan-tangan segera memegang hulu pedang lebih kuat lagi. Keringat berjatuhan setetes demi setetes.

Perintah Rasul pun segera memecah ketegangan. “Hapuskanlah tulisan Rasulullah itu, wahai Ali!”

Ali terhenyak. Juga sekalian sahabat yang hadir. ”Tidak!” kata Ali meski tak berkehendak membantah lelaki agung itu. ”Demi Allah, saya tidak akan mengubahnya, ya Rasulullah!”

Rasul pun mendekati suami Fathimah itu. ”Tunjukkan kepadaku tempatnya, Ali.”

Pemuda itu dengan berat tangan menunjukkan tempat dituliskannya ’Muhammad Rasulullah’ itu kepada Nabi. Tulisan itu kemudian dihapus Nabi dengan tangannya sendiri. Lalu Ali menulis penggantinya ’Muhammad bin Abdullah’.

Rasul pun memerintahkan Ali menuliskan isi perjanjian itu.

”Dengan nama Engkau, ya Allah. Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amr. Keduanya telah berjanji menghindari peperangan atas segala manusia selama sepuluh tahun. Pada masa itu, orang-orang memperoleh keamanan dan sebagian mereka menahan diri atas sebagian yang lain. Barangsiapa dari orang Quraisy yang datang kepada Muhammad dengan tidak seizin walinya, hendaklah Muhammad mengembalikannya kepada mereka; dan barangsiapa dari orang yang beserta Muhammad datang kepada orang Quraisy, kaum Quraisy tidak berkewajiban mengembalikannya kepada Muhammad ….”

Suhail menambahkan, ”Engkau pada tahun ini harus kembali, maka tidak boleh masuk Mekah kepada kami. Tahun depan, kami akan keluar dari Mekah, maka engkau boleh masuk dengan para sahabatmu, lalu berdiam di sana selama tiga hari ….”

***

Orang Jawa boleh jadi benar. Kata mereka, wani ngalah luhur wekasane. Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna.

Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan. Tentu bukan mengalah dalam arti semata-mata karena lemah dan penuh keterbatasan, melainkan dalam konteks stratak, strategi dan taktik dalam perjuangan.

Inilah sikap yang dipraktekkan Rasul ketika perjanjian Hudaibiyah diteken. Secara lahiriah, akad perjanjian itu sangat merugikan kaum muslimin. Bagaimana tidak? Penduduk Mekah yang datang ke Madinah harus dikembalikan ke Mekah. Namun, tidak berlaku sebaliknya. Kaum muslimin yang sudah siap berpakaian ihram harus kembali ke Madinah saat itu juga dan ditolak memasuki Baitullah. Mereka baru boleh berziarah ke tanah suci pada tahun berikutnya.

Tidak heran orang seperti Umar sampai mempertanyakan, ”Bukankah engkau itu Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslimin?”

Namun tidak demikian dengan Rasulullah. Ia memang dihinakan. Direndahkan, sedemikian hingga menulis dirinya sebagai utusan Allah saja ditolak oleh kaum Quraisy. Tetapi, lelaki agung itu tidak meladeninya dengan gelegak kemarahan. Justru ia mengedepankan kelemahlembutan dan cinta kasih, sehingga seperti mengiyakan begitu saja apa yang menjadi kemauan Suhail bin Amr, juru runding pihak Quraisy. Ia mengalah. Apakah ia kalah?

Di atas kertas, orang-orang Quraisy Mekah jelas merasa menang. Tetapi, di sebalik kertas, di tengah lapangan, kenyataan yang terjadi sungguh sangat berkebalikan.

***

Setahun telah lewat. Bulan Dzulqadah tahun ketujuh hijriyah pun hadir.

Rombongan itu kini berjumlah tak kurang dari 2000 orang Muhajirin dan Anshar. Berpakaian ihram serba putih, mereka berbondong dengan penuh kegembiraan menuju gerbang kota Mekah. Rindu yang tertahan akan Baitullah yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun serasa membuncah menunggu tumpah. Masjidil Haram pun menjadi lautan putih dipenuhi sekalian kaum muslimin. Dan talbiyah pun mengalun syahdu memenuhi langit Mekah,

Labbaikallôhumma labbaik
Labbaika lâ syarîka laka labbaik
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka
Lâ syarîka laka

Dari atas Bukit Abi Qubais, Bukit Hira, dan tempat tinggi lainnya di sekeliling Mekah, kaum Quraisy menyaksikan perhelatan akbar itu. Orang yang dulu dihinakan, disakiti, dianiaya, dikejar-kejar, diboikot, diancam bunuh, kini telah kembali dengan kemenangan yang besar. Perjanjian yang mereka buat setahun lalu di Hudaibiyah ternyata tidak membuat cahaya itu redup. Justru sebaliknya, kini makin berpijar menerangi sekalian jazirah Arab.

***

“Hudzail! Hudzail! Hudzail!”

Utusan dari Adhal dan Qarah itu tiba-tiba berteriak-teriak, seperti seorang kepala perampok memanggil gerombolan tengiknya. Seketika bermunculan orang-orang Bani Hudzail di sekeliling mereka, beramai-ramai, serasa seperti keluar begitu saja dari dalam bumi tempat mereka berpijak. Tak kurang 200 orang berwajah tak ramah kini meringsek maju mendekati mereka. Pedang-pedang terhunus dan teracung di tangan. Pasukan yang tiba-tiba muncul itu bergerak merapat membentuk formasi lingkaran, membuat rombongan kecil itu terkepung tanpa celah untuk meloloskan diri.

Ashim bin Tsabit, Martsad bin Abi Martsad, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, Khalid bin Bukair, dan Abdullah bin Thariq merapatkan tubuh mereka satu dengan lainnya. Naluri mereka sama: ini sebuah jebakan! Mereka telah masuk perangkap utusan Adhal dan Qarah yang telah meminta Nabi mengirim utusan untuk mengajari mereka akan Islam. Semua itu ternyata hanyalah dusta!

Keenam sahabat yang dipilih Nabi sebagai utusan itu pun mencabut pedang masing-masing: senjata yang biasa mereka bawa, yang sama sekali tak memadai untuk bertempur menghadapi musuh dalam peperangan. Karena itu, melawan dua ratus orang bersenjata lengkap adalah hal gila yang pernah mereka putuskan dalam hidup. Tetapi, buat mereka tak ada pilihan lain. Lebih baik berputih mata berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Mereka pun bertarung sengit, melayani serangan demi serangan yang datang tak seimbang, mengikhlaskan luka demi luka tergores dan tertoreh di badan mereka.

“Kami tidak memerangi kamu sekalian!” seru seorang dari pengepung itu. ”Demi Allah, kami tidak akan membunuh kalian! Tetapi kami hanya bermaksud mencari upah dari orang-orang Quraisy Mekah terhadap diri kalian!”

Tetapi keenam sahabat itu sudah menulikan telinga mereka. Tak ada perkataan yang layak dipercaya di belakang dusta. Mereka dengan gagah berani meladeni musuh yang silih berganti datang menyerang dari segala sudut.

”Kami tidak akan membunuh kalian!” seru seorang musuh diantara percik denting pedang yang sengit beradu. ”Kami hendak mengantarkan kalian kembali ke Mekah. Kembali kepada keluarga kalian sendiri!”

Kembali ke Mekah sebagai tawanan Quraisy adalah aib besar dan kehinaan yang tak bisa mereka terima. Mereka lalu menjawab perkataan itu dengan lebih sengit meningkatkan serangan terhadap musuh. Tetapi, apalah daya enam orang melawan berpuluh kali lipat musuh yang mengepung mereka. Lambat laun, serangan mereka pun semakin lemah. Dan pada gilirannya, pedang-pedang musuh menghunjam tubuh mereka satu demi satu.

”Mati itu haq dan hidup itu bathil,” jawab Ashim bin Tsabit di tengah serangan musuh. ”Tiap-tiap apa yang telah diputuskan Tuhan, tentu datang pada seseorang dan orang itu pasti kembali kepada-Nya!” Itulah kata-kata terakhir sebelum Ashim akhirnya gugur. Khalid pun menyusul bersimbah darah berkalang tanah. Demikian juga Martsad ambruk tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya. Pasukan tengik itu pun segera mengerubut ketiga sahabat yang tersisa, yang terus mengadakan perlawanan. Ketiganya berhasil diringkus, ditangkap, dan diikat dengan tali yang kuat, dan digelandang menuju Mekah sebagai tawanan.

Di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan ikatan tangannya. Ia segera menghunus pedang dan menyerang kembali pengawal di sekelilingnya. Ia pun dikeroyok puluhan orang, dilempari bertubi batu-batu besar, hingga akhirnya rebah, jatuh terhempas ke atas tanah dengan koyakan luka menganga di setiap bagian tubuhnya.

***

Hari itu Khubaib dibawa keluar dari kota Mekah. Seluruh tubuhnya masih ngilu dan pedih diantara luka yang belum sembuh, bekas aniaya dan siksaan Hujair bin Ihab, seorang dari keturunan al-Harits. Khubaib menjadi tumbal balas dendam atas kematian Uqbah bin al-Harits di tangan kaum muslimin dalam sebuah pertempuran.

Pada suatu tempat telah berkumpul segenap ketua dan kepala kabilah Quraisy atas undangan Hujair. Sebuah panggung bertiang gantungan telah disiapkan untuk Khubaib, ditonton oleh sekalian orang dari kalangan Quraisy. Khubaib dengan tenang memandang berkeliling tempat itu. Tak ada sedikit pun rasa takut hinggap di hatinya. Ia pun mengajukan sebuah permintaan terakhir kepada mereka. ”Tinggalkan aku barang sebentar, aku akan mengerjakan shalat.”

Segenap yang hadir meluluskan permintaannya. Khubaib pun bertakbir, menghadapkan wajahnya kepada sang Khaliq, dan bersujud syahdu menyelesaikan dua rakaat shalat terakhirnya. ”Demi Allah, jika sekiranya aku tidak khawatir bahwa kalian menyangka aku memanjang-manjangkan shalat karena takut dibunuh, niscaya aku menambah dan memperbanyak shalatku,” kata Khubaib seusai shalat kepada mereka yang hadir.

Ia pun diikat dan dinaikkan ke tiang gantungan. Matanya pun berlinang-linang bahagia. Semangat itu masih menyala-nyala sembari melihat kemarahan dan dendam terpancar dari wajah sekalian yang hadir kepadanya.

”Ya Allah! Hitunglah bilangan mereka!” serunya dalam bait doa. “Bunuhlah mereka dengan bercerai-berai. Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari mereka itu!”

Tali dilehernya pun kini dieratkan. Napasnya seperti terhenti di tenggorokan. ”Ya Allah!” serunya dalam sengal kesesakan. ”Beritakanlah dari kami kepada Rasul Engkau!” Lantas ia pun bersyair,

”Maka tidaklah mengapa ketika aku dibunuh dengan Islam;
atas belahan manapun bagi Allah, aku terbunuh.
Dan yang demikian itu, pada Zat Tuhan jika Ia berkehendak,
Ia akan memberkahi atas anggota tubuh yang dipotong-potong.”

Tali pun seketika ditarik. Tubuh itu kini melambung di udara dengan kaki tak menjejak tanah. Tergantung dengan leher nyaris patah dan napas terputus satu demi satu. Khubaib pun rela menemui syahid demi selembar iman yang terhunjam di dalam dada.

***

Hidup adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, hidup penuh kemuliaan dan kehormatan adalah sebuah pilihan hidup yang lebih baik. Mati pun adalah sebuah kepastian. Tetapi, mati secara syahid, membela iman di dalam dada, adalah sebuah pilihan mati yang jauh lebih baik.

Sekedar hidup atau sekedar mati begitu saja, karenanya, hanyalah kesia-siaan belaka. Sebuah kesalahan besar seseorang dalam hidup. Karena itu, dalam hidup, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan. Pun demikian dalam menggapai kematian, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan; agar hidup atau mati itu menjadi bermakna.

’Isy Kâriman au Mut Syâhidan!

Jika tak bisa hidup penuh kehormatan dan kemuliaan, berkalang tanah sebagai syahid adalah pilihan yang lebih baik. Bahkan syahid adalah cita-cita seorang muslim.

Hanyalah ketika dalam posisi yang notabene tak berdayalah seseorang justru akan teruji betul terhadap kesetiaannya pada apa yang dibela dan diperjuangkan. Apatah ia dalam kondisi serba kekurangan, serba dalam keterbatasan, kelaparan yang amat sangat, atau tak berpunya apa-apa. Dalam kondisi seperti ini, idealismenya akan perjuangan dan apa-apa yang dibelanya berada di ujung tanduk. Sedikit saja ia salah mengambil keputusan, maka tergelincirlah dia.

Dan kondisi paling kritis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hidup atau mati. Bagaimanapun, mati adalah keniscayaan yang kebanyakan orang takut kepadanya. Keniscayaan yang bakal pasti datangnya, tetapi orang seringkali lupa bahwa ia suatu saat akan datang tanpa diundang. Justru pada kondisi seperti inilah, ujian terberat terhadap idealisme dilangsungkan.

Itulah yang terjadi dengan keenam sahabat yang dikirim Nabi ke kabilah Bani Hudzail untuk mengajarkan Islam itu. Ketika dihadapkan pada 200 orang bersenjata yang menjebak mengepung mereka, maka kematian sudah pasti di pelupuk mata. Bagaimana tidak? Enam orang melawan dua ratus orang adalah hal yang secara nalar mustahil bisa selamat kecuali mengorbankan idealisme atau terjadi hal-hal yang luar biasa atas izin Allah. Dan keenam pahlawan dalam peritiwa Ar-Raji itu memilih memperjuangkan idealismenya hingga tetes darah penghabisan. Mereka memilih mempertahankan iman di dalam dadanya dan rela menyerahkan nyawanya demi seorang yang dicintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri.

***

”Hai Zaid!” kata Abu Sufyan. ”Apakah sekarang ini kamu suka jika sahabatmu, Muhammad, dijadikan ganti dirimu untuk dipotong batang lehernya, dan kamu pulang dan bersenang-senang di rumah keluargamu?”

Tiba-tiba saja Abu Sufyan datang tepat sebelum Nasthas, budak Shafwan bin Umayyah, membunuhnya. Dedengkot Quraisy itu datang menawarkan ampunan dan kebebasan asal ia meninggalkan Islam.

Zaid bin Datsinah tersenyum dan menjawab dengan tegas, ”Hmm, demi Allah! Tidak sekali-kali aku suka Nabiku Muhammad terkena sakit, bahkan lantaran tusukan sebatang duri sekalipun di atas tubuhnya, sementara aku bersenang-senang bersama keluargaku.”

Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya berkata, ”Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mencintai sahabatnya sebagaimana sahabat Muhammad mencintai dirinya.”

Nasthas pun langsung menuntaskan tugasnya. Zaid mati seketika, menggapai syahid, menyusul kelima sahabatnya menuju pintu surga.

***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.