You are currently browsing the monthly archive for Maret, 2007.

Mendung tebal menggelantung di atas Madinah. Langit muram, semuram hati setiap kaum muslimin di Madinah. Setiap hari, bergantian, mereka berjaga di sekitar masjid. Menanti dalam harap dan cemas yang mendebarkan serta kekhawatiran yang tak ingin sekali-kali terjadi. Menjaga lelaki kinasih mereka yang sedang berjuang terhadap sakit yang semakin parah.

Kain yang membungkus kulitnya yang mulia terasa panas serupa bara di tengah kobaran api dalam terik sahara. Kondisi badannya semakin letih dan payah. Berulang-kali, lelaki itu bahkan pingsan tak sadarkan diri.

Fathimah terus membasah pipinya dengan linang air mata. Mengetahui keadaan ayah tercintanya seperti itu, ia terus mengeluh, seperti berharap bisa menggantikan penderitaan tiada tara lelaki itu. “Ya Allah! Alangkah beratnya penderitaan ayahku!” katanya dalam isak yang tertahan. “Aduh! Alangkah beratnya penderitaan ayahku!”

Lelaki yang tengah terbaring itu mendengar tangis dan keluh putri tercintanya. “Ya Fathimah!” katanya setengah berbisik, “Tidak akan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini.”

Bertambah deras air mata wanita terkasih itu mendengar bisik ayahnya. Akankah waktunya segera tiba? Akankah apa yang pernah diucapkan ayahnya tiga bulan lalu di ‘Arafah akan segera menjadi kenyataan? “Sesungguhnya aku tidak mengetahui,“ kata ayahnya waktu itu dari atas unta al-Qushwa, di hadapan tak kurang 140.000 kaum muslimin yang memenuhi setiap jengkal tanah di lembah Bathnul Wadi, “barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempatku berdiri sesudah tahun ini.”

Bagaimanapun, lelaki kinasih itu tak ingin diobati dengan apapun kecuali air dingin yang disapukan ke kepala dan wajahnya. Betapa marah dirinya ketika tahu bahwa Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya, telah meminumkan obat ramuan Asma binti Umais ketika ia tengah tak sadarkan diri.

“Siapakah yang membuat ini kepadaku?” tanya beliau. Wajahnya memerah di tengah panas tubuhnya yang sangat. Dalam mulutnya masih terkecap rasa obat itu.

Tak seorangpun dari isteri beliau berani menjawab. Juga Abbas. Akhirnya salah seorang keluarga beliau menjawab, “Paman engkau, Ya Rasulullah.”

Abbas menunduk menekuri tanah.

“Obat ini dibawa oleh perempuan-perempuan dari negeri itu,” kata Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah Habsyi. “Mengapa engkau berbuat demikian?”

Abbas, dalam rasa bersalah, menjawab, “Kami khawatir ya Rasulullah, mungkin engkau terserang penyakit bengkak kulit rabu.”

“Bukankah aku telah melarangmu meminumkan obat kepadaku?”

Abbas semakin menunduk. Juga sekalian yang hadir di tempat itu.

“Sesungguhnya penyakit itu,” kata Nabi selanjutnya, “tidak akan ditimpakan Allah kepadaku.”

Akhirnya beliau menyuruh semua yang hadir untuk meminum sisa obat itu kecuali Abbas.

Sejenak kemudian, lelaki yang agung itu teringat bahwa ia masih menyimpan uang sebanyak tujuh dinar. Uang itu ia letakkan di bawah tempat tidur yang selama ini ditempatinya. Beliau kemudian berpesan kepada ‘Aisyah untuk menyedekahkan uang itu kepada mereka yang membutuhkan.

***

Hari ini hari Ahad. Kondisi tubuh lelaki itu terasa membaik. Badannya serasa lebih segar. Panas badannya turun. Mungkin obat itu telah bereaksi.

Tiba-tiba teringatlah ia dengan uang tujuh dinar itu.

“Ya, ‘Aisyah!” panggil beliau pada isteri tercintanya. “Bagaimana dengan uang tujuh dinar itu? Apakah engkau sudah sedekahkan pada mereka yang membutuhkan?”

‘Aisyah, karena kesibukannya merawat Nabi, telah lupa menyedekahkan uang itu. “Uang itu …”, jawabnya, dengan rasa bersalah, “Uang itu masih ada padaku, ya Rasulullah.”

Nabi kemudian menyuruh ‘Aisyah mengambilnya. “Bagaimana jawaban Muhammad kepada Tuhannya, ya ‘Aisyah,“ kata lelaki itu kemudian, “jika ia datang menghadap Allah, sedangkan uang itu masih ada padanya?”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, beliau meminta ‘Aisyah untuk menyedekahkan tujuh dinar itu pada fakir-miskin.

***

Apakah yang harusnya lebih prioritas kita siapkan dalam hidup?

Mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab: hari tua. Atau setidaknya: masa depan. Tetapi tak sedikit yang merancang “hari tua” atau “masa depan” itu dalam koridor waktu “di bumi ini”. Padahal, hidup tidaklah hanya “di sini” karena sifatnya yang fana dan karenanya sementara. Hidup senyatanya abadi. Itu berarti ada “hidup” yang lain setelah “hidup” yang “di sini”.

Pada kenyataannya, kita mengalami kematian dua kali dan hidup dua kali pula (Q.S. 40: 11). Redaksional ayat ini juga mengisyaratkan bahwa yang pertama (mati) adalah lebih dulu daripada yang kedua (hidup). Karenanya memahami mati sebagai ketiadaan hidup hanya bisa diterima untuk kematian yang pertama dan tidak untuk yang kedua. Karena itu, “mati” hanyalah “pintu” untuk kehidupan berikutnya. Dan tak ada mati lagi setelah hidup yang terakhir.

Karena itu, orientasi hidup “di sini” seharusnya diarahkan untuk hidup di etape terakhir — yang karenanya abadi itu. Itulah sikap Al-Kayyis. Disorientasi terhadap tujuan akhir hidup ini hanya akan menjerumuskan kita pada hidup yang tak kekal, di sini. Itulah sikap Al-‘Ajis, yakni manusia yang bodoh dan keliru dalam menyikapi hidup.

Oleh karena itu, layaklah jika kita selalu mengulang tanya: apakah yang akan kita bawa ketika mati menghadap ke haribaan ilahi untuk hidup yang kedua itu?

Rasulullah SAW memberi jawab: terputus semua amal kita ketika ajal tiba, kecuali hanya 3 (tiga) perkara. Selain ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh, Rasul menyebut shadaqah jariyah, bahkan pada urutan pertama. Inilah shadaqah yang ganjarannya terus mengalir meski kita sudah mati. Dan justru inilah “harta” yang pada hakekatnya kita “miliki”. Ia adalah investasi berharga yang memperberat pundi-pundi amal baik dalam buku catatan amal kita. Bukan harta yang kita tinggalkan pada anak-cucu kita ketika mati, yang akan menjadi bagian yang justru harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya kelak di yaumil hisab.

Inilah teladan luar biasa yang diberikan Rasulullah SAW menjelang menghadap ke haribaan-Nya. Membersihkan harta yang masih ada di genggaman untuk mereka yang lebih membutuhkan. Mengubahnya menjadi investasi masa depan yang sebenar masa depan dan memudahkan jawab kelak ketika harta itu dipertanyakan.

***

Petang dan malam harinya, badan Nabi serasa agak segar. Panas badannya pun agak turun. Nabi merasa penyakitnya sudah agak ringan, sehingga ketika Senin menjelang Shubuh, dengan kepala masih dibelit kain, beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah.

Girang bukan kepalang sekalian kaum muslimin yang hadir di masjid. Hampir saja mereka membatalkan shalat kalau tidak dicegah Nabi. Bahkan lelaki kinasih itu pun ikut shalat di belakang Abu Bakar sembari duduk.

Seusai shalat, Nabi menghadapkan wajahnya pada sekalian para sahabatnya dengan tenang. Air mata beliau pun berlinang membasahi pipi. Diperhatikannya wajah mereka yang hadir. Satu demi satu. Serasa ingin menikmati pancar kegembiraan ketika mengetahui beliau ada di tengah-tengah mereka kembali. Kemudian beliau berpesan, yang tak pernah terlupakan oleh sekalian yang hadir. “Wahai sekalian manusia! Api neraka sudah dinyalakan, fitnah-fitnah telah datang seperti datangnya malam gelap-gulita. Demi Allah, kalian tidak akan berpegang kepadaku dengan sesuatu pun. Sesungguhnya aku tidaklah pernah menghalalkan sesuatu, melainkan apa yang telah dihalalkan oleh Al-Qur’an; dan tidak pula mengharamkan sesuatu, melainkan apa yang telah diharamkan oleh Al-Qur’an.”

Setelah mendengar pesan Nabi dan melihat wajah beliau, mereka pun merasa gembira. Nabi terlihat telah sembuh dari penyakitnya. Maka, pamitlah Abu Bakar untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda. Juga Umar, ‘Ali dan sekalian kaum muslimin.

Dan, mereka sama sekali tidak menyangka, tak lama kemudian, ketika matahari sedang beranjak naik dengan sinarnya yang terang-benderang, Muhammad SAW, Rasulullah, penutup sekalian Nabi, menjumpai Sang Rafiqul a’la dan meninggalkan mereka semua dalam pangkuan ‘Aisyah.

***

Dimuat di napak tilas Al-Mu’tashim edisi Juni 2007

Lelaki itu menghampiri ‘Aisyah dan berdiri di depannya.

Meski telah beranjak 60 tahun, namun hari itu, ia terlihat seperti muda kembali. Wajahnya sungguh bercahaya sesempurna bulan purnama tanggal lima belas karena kegembiraan yang meluap. Bagaimanapun, seorang bayi laki-laki yang masih merah berada dalam dekapannya yang hangat. Ia adalah Ibrahim, anaknya yang baru saja lahir dari rahim Mariyah, istrinya yang berdarah Mesir itu.

Ditimangnya Ibrahim dengan penuh cinta di hadapan istri yang mula pertama bersama Saudah dinikahinya selepas Khadijah wafat itu, seperti ia menimang anak-anak Fathimah dalam gendongannya. Dipandanginya paras elok bayi merah itu seperti bercermin pada diri sendiri. “Bukankah ia mirip denganku, ya ‘Aisyah?”

‘Aisyah sejenak memperhatikan bayi itu, sementara seribu sembilu seperti menusuk relung hatinya. Kemudian ia berkata, datar saja, “Aku tidak melihat kemiripan sedikitpun antara engkau dan dia.”

Ketika dua tahun yang lalu Hathib bin Abi Balta’ah membawa Mariyah dan Sirin dari Mesir beserta sepucuk surat dari Raja Muqauqis, lalu Nabi menikahi Mariyah, ‘Aisyah tidaklah terlalu risau. Bagaimanapun gadis Qibthiy itu seorang sariyah* dan karenanya tak sepantasnya menyandang ummahatul mu’minin seperti dirinya dan istri-istri Nabi yang lain. Tetapi, semenjak hamil dan beberapa waktu yang lalu dari rahimnya lahir seorang bayi laki-laki dari benih Nabi, kerisauan itu muncul dan semakin menjadi. Bahkan, tak seperti biasa, api cemburu itu telah merambat ke seluruh ummahatul mu’minin seperti bara dalam setumpukan daun kurma kering yang tertiup angin padang pasir siang hari.

Bagaimanapun, mereka yang telah berbilang tahun bersama Nabi tak satupun yang beroleh keturunan dari beliau sebagaimana Mariyah, yang belum juga genap dua tahun berada di samping suami mereka.

Apalagi ia hanya seorang hamba sahaya.

***

Hafshah berdiri termangu di depan pintu. Hari itu giliran Nabi bersamanya. Tapi jelas terdengar dari tempatnya berdiri kini percakapan suaminya dengan seorang perempuan di dalam rumahnya. Bahkan sepertinya, di dalam … kamarnya!

Wajahnya seketika memerah panas membara. Hatinya menggelegak serupa air yang mendidih di tengah sahara bulan ramadhan ketika matahari di atas kepala. Panas badannya serasa bergerak naik ke puncak ubun-ubun. Tak salah, perempuan itu tak lain adalah Mariyah! Beraninya perempuan sahaya itu berada di kamarnya ketika ia tak sedang berada di rumah!

Ia beringsut ketika tahu Mariyah hendak pergi. Ketika kemudian ia masuk dan mendapati Nabi, tertumpahlah seluruh isi kepalanya seperti hiruk pasukan muslimin ketika benteng Khaibar berhasil dirobohkan ‘Ali bin Abi Thalib.

“Aku melihat siapa yang ada di samping engkau tadi!” katanya ketus berapi-api. Ia seperti lupa telah berkata-kata sebagaimana perempuan lain berkata kepada suaminya. Ia seperti lupa bahwa suaminya adalah seorang Nabi. “Demi Allah, engkau telah menghinakanku! Engkau tidak akan melakukan demikian jika engkau tidak memandangku hina!”

Nabi hanya mendengarkan perkataan puteri Umar itu dalam diam. Ia tahu bahwa setiap wanita memiliki sepetak ruang cemburu di dalam dadanya. Maka meski kemarahan Hafshah memuncak, lelaki agung itu tetap tenang dan sabar. Bahkan, untuk meredam agar kemarahan itu tak merembet kepada istri-istrinya yang lain, ia sampaikan pada Hafshah bahwa ia mengharamkan Mariyah buat dirinya! Dengan satu syarat: Hafshah harus merahasiakan hal itu dari ummahatul mu’minin yang lain.

Tetapi demikianlah, rahasia itu akhirnya menyebar kepada istri-istri Nabi yang lain seperti minyak kesturi yang tumpah dari tempatnya. Hanya saja rahasia ini tidaklah sedap didengar telinga.

Seperti menyiram api dengan minyak, bocornya rahasia itu akhirnya justru membuat keruh suasana rumah tangga Nabi.

***

Hari itu, masjid sedang ramai oleh para sahabat. Mereka masygul demi mendengar Rasulullah akan menceraikan semua isterinya. Mereka tenggelam dalam renungan tentang bagaimana nasib isteri-isteri beliau jika hal itu benar-benar terjadi. Sebuah persoalan rumit, tentu, yang tak seorangpun berani turut campur-tangan.

Kekeruhan rumah tangga Nabi memang memuncak lebih dari sekedar badai padang pasir di malam pekat. Semua bermula dari kecemburuan para istri beliau terhadap Mariyah. Bahkan keputusan Nabi mengharamkan Mariyah untuk dirinya, yang tak lagi rahasia itu, sama sekali tak bisa meredam gejolak tersebut. Lelaki agung itu bahkan terpaksa mengambil keputusan yang begitu berat: ia meninggalkan isteri-isterinya di rumah masing-masing dan bersumpah tidak akan menghampiri mereka selama satu bulan!

Kini hampir sebulan sudah Nabi meninggalkan para isterinya. Tidak pernah digilir, tidak dikunjungi, tidak pula diajak bicara sedikitpun. Bahkan gerutu dan cercaan sebagian kaum muslimin mulai tertumpah pada para isteri Nabi. Kemarahan yang dulu memuncak, akhirnya kini berubah menjadi kekhawatiran dan ketakutan kalau-kalau wahyu turun memerintahkan kepada Nabi untuk menceraikan mereka.

Tiba-tiba Umar berdiri diantara kerumunan sahabat. Ia lalu menuju tempat Nabi mengasingkan diri. Sebagai salah seorang mertua Nabi disamping Abu Bakar, ia adalah orang yang paling khawatir karena persoalan rumah tangga Nabi ini menyangkut puterinya sendiri. Dilihatnya Rabah, bujang penjaga tempat Nabi mengasingkan diri berdiri di depan pintu serupa patung berhala Hubal di sekitar Ka’bah sebelum Fathul Ma’kah.

“Rabah!” teriaknya kepada bujang itu. “Mintakanlah izin kepada Rasulullah bahwa aku akan menghadap!”

Bujang itu sejenak termangu, lalu masuk ke bilik Nabi. Tak lama kemudian ia keluar dengan pandangan kosong tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

“Hai, Rabah!” teriak Umar lagi. Ia tahu Nabi tidak berkenan. Tapi laki-laki yang jika lewat di sebuah jalan bahkan setan pun akan terbirit itu bertekad tak akan pergi sebelum berjumpa dengan beliau. “Mintakanlah izin untukku kepada Rasulullah, aku akan masuk. Barangkali beliau menyangka bahwa aku datang untuk kepentingan Hafshah. Tidak! Sekali-kali tidak! Bahkan, demi Allah, jika sekiranya Rasulullah memerintahkan aku untuk memancung batang leher Hafshah niscaya akan kulakukan sekarang juga!”

Umar sengaja mengulang-ulang perkataannya dengan keras karena berharap Nabi mendengarnya. Akhirnya, Rabah memberi isyarat bahwa Nabi telah berkenan menerimanya.

Bergegas Umar masuk ke dalam bilik Nabi. Tempat itu begitu sempit dan amat sederhana, hanya berpunya tangga dari batang-batang pohon kurma. Nabi hanya menghamparkan sehelai tikar kasar sebagai alas, yang ketika beliau bangun dari tidurnya, maka membekaslah tikar kasar itu pada tubuhnya. Umar juga hanya melihat sedikit gandum, biji-bijian, dan daun-daunan sebagai bekal sekadar menjaga kondisi jasmani lelaki agung itu.

Tanpa terasa air mata Umar meleleh demi memperhatikan bilik Nabi itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi beliau selama sebulan berada di tempat ini tanpa bantuan seorang isteri pun di sampingnya.

“Wahai Umar,” kata Nabi begitu melihat Umar menangis. “Mengapa engkau menangis?”

“Aku menangis, karena melihat tempat tinggal engkau ini, ya Rasulullah,” jawab Umar diantara isak. “Engkau hanya berhamparkan tikar ini sampai membekas pada lambung engkau, di tempat yang tidak berisikan apa-apa kecuali sedikit gandum dan sebuah labu yang menggantung.”

Umar pun lalu menyampaikan kekhawatiran para sahabat.

“Ya Rasulullah,” kata Umar parau. “Apakah yang menyebabkan hati engkau kesal kepada isteri-isteri engkau? Sekiranya mereka engkau cerai, Allah akan ada di samping engkau, malaikat Jibril dan Mikail bersama engkau, demikian pula Abu Bakar, Umar dan segenap kaum muslimin tentu ada bersama engkau.”

Lelaki agung itu pun kini tersenyum.

Umar pun melanjutkan pertanyaannya, “Betulkah demikian, ya Rasulullah?”

“Tidak,” jawab Rasulullah singkat. “Mereka itu belum kuceraikan.”

Seketika hati Umar bergembira begitu rupa. Ia pun bergegas kembali ke masjid setelah meminta izin Nabi. Ia lalu mengumumkan kepada segenap kaum muslimin bahwa Nabi tidak menceraikan para isterinya kecuali hanya ingin memberi pelajaran saja.

***

Kata “manage” (Inggris) berasal dari kata “maneggiare” (Italia) yang berarti “to handle” (menangani). Ini tidak mengherankan karena “maneggiare” merupakan turunan dari kata “manus” (Latin) yang berarti “tangan”. Dengan begitu, manajemen boleh berarti “proses bagaimana menangani sesuatu”. Pada mulanya, kata ini biasa dihubungkan dengan “menangani kuda”. Namun, Mary Parker Follett (1868 – 1933) yang menulis tentang hal ini di awal abad 20 mendefinisikan manajemen sebagai “the art of getting things done through
people”.

Pada abad 21 ini, manajemen merupakan kajian yang berkembang pesat dan sangat luas, hingga terlalu sulit untuk memilahnya lagi ke dalam 5 kelompok fungsionalnya (planning hingga controlling) seperti dikatakan Henry Fayol (1841 – 1925) dalam bukunya Administration Industrielle et Générale yang ditulisnya di tahun 1917. Bahkan area manajemen kini meliputi tak kurang 64 cabang, mulai dari administrative management yang konvensional hingga information technology management pada era sekarang ini.

Tetapi, semua area manajemen di atas – bahkan manajemen IT sekalipun – relatif mudah untuk dilakukan, karena sudah banyak tools bisa dipakai, standart operation procedure (SOP) yang bisa diterapkan, berikut berbagai standarisasi bisa digunakan semacam ISO (International Standarts Organization). Bahkan kinerja manajemen atau korporat sudah bisa diukur dengan berbagai metode seperti misalnya Balanced Scorecard (BSC).

Lalu, manajemen macam apa yang paling sulit di dunia?

Kiranya tak ada yang lebih sulit dari “menangani manusia” di mana rasa keadilan sudah diklaim sekali-kali tidak akan bisa bekerja. Itulah manajemen rumah tangga poligami. Allah sendiri sudah menjatuhkan nash-Nya, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian; karena itu janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (Q.S. An-Nisa’: 129). Poligami, karenanya, adalah serupa terowongan jalan keluar bagi manusia yang disiapkan Tuhan, tetapi ditutup dengan batu besar yang kokoh. Tak seorangpun bisa keluar dari padanya kecuali mampu mengatasi batu besar itu.

Sebagai role-model atau uswah bagi sekalian manusia, maka Rasulullah pun haruslah sosok yang “bisa dicontoh dari sisi apa saja.” Itu berarti, termasuk contoh untuk manajemen yang paling sulit ini. Jika kita sudah kesulitan hanya sekadar membayangkan memiliki isteri dua orang saja, Rasulullah setidaknya telah diberi-Nya amanah 9 orang isteri; ada yang masih gadis perawan, juga janda-janda; ada yang remaja maupun nenek-nenek; ada yang lugu, juga yang cerdas; dan ada yang cantik maupun yang biasa-biasa saja. Semuanya memiliki karakteristik yang totally different satu dengan lainnya. Bayangkan, betapa rumitnya beliau membagi nafkah lahir termasuk sandang dan pangan, mengatur giliran ke masing-masing isterinya, juga mengelola “konflik” antar mereka. Sementara beliau sendiri nyaris tak pernah beristirahat dari tugas dakwah yang harus diemban setiap harinya.

Itu belum lagi jika kita membayangkan pula bagaimana Nabi membagi cintanya.

Bagaimanapun para ummatul mu’minin adalah juga wanita. Mereka bisa ngambek sebagaimana wanita biasa lainnya, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Hingga Rasulullah pun sampai perlu memberikan mereka – juga kita — pelajaran yang amat berharga: menjauhi isteri-isterinya selama sebulan (atau istilah mutakhirnya mungkin semacam pisah-ranjang).

Inilah praktek manajemen paling hebat yang pernah ada di dunia, bahkan berbilang abad sebelum Henry Fayol disebut-sebut sebagai “the father of modern operational management theory” pada abad ke-19.

***

Hari itu suasana tampak cerah seperti matahari musim semi sedang membelah cakrawala Madinah di ufuk timur. Mendung kelabu yang bergelayut selama sebulan itu telah lenyap.

Kegembiraan segenap ummahatul mu’minin membuncah melihat suami mereka kini pulang. Semua berdiri di depan pintu kediamannya sambil menatapkan pandangan mata pada suami tercinta. Hanya ‘Aisyah yang tetap berada di rumahnya, berkemas menyambut Rasulullah. Ia yakin, kediamannya adalah tempat yang pertama akan dikunjungi suami tercintanya itu.

Jantungnya semakin berdegup demi mendengar langkah Rasulullah mendekat memasuki kediamannya. Dan berdirilah di pintu masuk itu Rasulullah yang agung.

“Ya Rasulullah! Sesungguhnya apa yang telah aku ucapkan kepada engkau tidaklah keluar dari hatiku,” sambut ‘Aisyah mesra. “Tetapi … engkau marah padaku.”

Rasulullah bergeming dan belum sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Engkau bersumpah akan menjauhi kami selama satu bulan,” sambung istri tercintanya itu, tersenyum, sambil bercanda. “Padahal, sekarang baru dua puluh sembilan hari!”

Lelaki agung itu kini tersenyum. Wajah bulan purnama itu bersinar kembali. Ia mengerti, ‘Aisyah tentu siang-malam telah menghitung hari-hari selama beliau jauhi.

Masih dalam senyuman yang terindah, beliau menjawab, “Bukankah bulan ini … memang hanya dua puluh sembilan hari, ‘Aisyah?”

***

* sariyyah = istri sah menurut syara’, tetapi berstatus sama dengan hamba sahaya.