You are currently browsing the monthly archive for Mei, 2007.

6 Syawal selepas penaklukan kota Mekkah yang gemilang.

Abdullah bin Abi Hadrad al-Islami telah kembali tanpa secuil kulit pun yang terluka. Bagaimanapun penyusupannya seorang diri ke dalam pasukan kabilah Hawazin yang telah bersekutu dengan kabilah Tsaqif, Nashr, Jusyam, dan Bani Bakr sama sekali tak terendus. Ia kini bahkan membawa berita penting: sejumlah pasukan besar telah bersiap dengan pedang di tangan. Mereka bermaksud mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Dua puluh ribu orang dengan dua puluh ribu pedang! Di lembah Hunain, lebih dari sehari perjalanan dari Mekkah menuju Thaif.

Nabi SAW segera mempersiapkan pasukan perang. Maka terkumpullah 10.000 personil dari Muhajirin dan Anshar berikut 2.000 orang penduduk Mekkah yang baru saja masuk Islam. Bahkan kaum musyrikin Mekkah pun turut bergabung dalam pasukan Nabi sejumlah 80 orang, termasuk Shafwan bin Umayyah, pada siapa Nabi telah meminjam 100 buah baju besi lengkap dengan persenjataannya.

Pasukan besar itu pun segera bertolak ke Hunain. Barisan berjalan kaki dan barisan pasukan berkuda tentara Islam bergerak serentak diiringi barisan beratus unta yang membawa perbekalan makanan serta persenjataan lengkap. Tiap-tiap kabilah membawa benderanya masing-masing yang berkibar-kibar di tiup angin lembah padang pasir dari balik bukit-bukit. Sementara setiap orang memegang pedang, busur gandewa berikut warastra penuh anak panah, ataupun tombak panjang bermata besi yang berkilat-kilat. Debu-debu beterbangan di setiap hentakan kaki-kaki mereka, membubung tinggi memenuhi langit, meninggalkan jejak yang panjang di belakang barisan.

Setiap wajah terlihat begitu bangga dan gembira. Bagaimanapun, baru sekali itu pasukan muslimin bergerak dalam jumlah yang begitu besar. Persenjataan lengkap. Persediaan makanan dan perlengkapan perang lebih dari cukup. Bahkan pada saat itu, mereka diiringi pula oleh kaum perempuan dari Mekkah yang baru saja masuk Islam. Kekuatan mereka kini hampir empat puluh kali lipat dibanding ketika menghadapi musuh pertama kali di Badar!

Tercetuslah dari mulut sebagian anggota pasukan dalam perjalanan itu di tengah debu-debu yang beterbangan, “Kita yakin, kemenangan pasti jatuh ke tangan kita. Pihak musuh tidak akan dapat mengalahkan kita.”

 

***

Pagi menyingsing. Namun gelap pekat masih membayang, karena matahari belum juga muncul di ufuk timur. Hunain yang berbukit-bukit sudah di depan kelopak mata pasukan muslimin.

Setelah beristirahat dalam semalam, Nabi SAW lalu memberangkatkan lebih dulu pasukan Khalid bin Walid dan kabilah Bani Sulaim. Nabi beserta sekalian Muhajirin dan Anshar berada di barisan belakang mereka.

Kedua pasukan pelopor itu tak lama kemudian menuruni gurun Tihamah. Pedang-pedang masih berada dalam sarungnya. Tombak-tombak masih teracung ke atas. Busur panah masih dalam kalungan di dada. Namun, belum genap kaki dilangkahkan menuruni gurun, seketika terdengar suara menggemuruh membelah udara yang dingin dan gelap. Beberapa anggota pasukan tiba-tiba sudah bertumbangan tanpa sadar dan sempat mengelak. Panah-panah tertancap di tubuh-tubuh mereka!

Teriakan histeris lantas menggema memenuhi gurun itu! Ribuan panah terus datang susul-menyusul. Seketika puluhan tubuh berjatuhan mencium tanah yang kering seperti pohon-pohon yang ditumbangkan serentak. Pasukan kocar-kacir di tengah kepanikan dan ketakutan. Juga kegelapan pagi. Mereka tak dapat melihat dimana lawan dan dari arah mana panah-panah itu diluncurkan. Bahkan karenanya, anggota pasukan muslimin saling baku hantam dengan kawan sendiri!

Mereka kemudian lari tunggang-langgang meninggalkan medan peperangan demi sepotong nyawa yang masih tersisa. Lari ke garis belakang dan melupakan rasa malu! Musuh pun turun dari bukit dan keluar dari gua-gua tersembunyi, mengejar pasukan besar yang tercerai-berai itu, dan menghujaninya dengan panah-panah maut. Jerit kematian pun datang susul-menyusul.

Nabi SAW segera berseru dari atas bighal-nya, “Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?”

Pasukan yang kocar-kacir itu pun masih terus mundur menyelamatkan diri mereka sendiri-sendiri.

“Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?” Sekali lagi Nabi berseru. “Marilah kalian datang kepadaku. Aku Rasulullah! Aku Muhammad bin Abdullah!”

Teriakan Nabi itu seperti hilang tertelan hiruk-pikuk pasukan yang tengah putus-asa. Lari tak terkendali. Telinga mereka seperti tuli, tak mendengar sedikitpun seruan Nabi. Bahkan karenanya, justru pasukan musuhlah yang kini mengarahkan serangannya pada diri lelaki yang agung itu!

Dan Nabi kini dalam bahaya!

 

***

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang seseorang yang membocorkan dasar kapal ketika rasa hausnya tak segera terlampiaskan. Tak ada air di dalam kapal itu yang bisa ia teguk kecuali air lautan. Namun, tindakan itu justru telah menenggelamkan tidak saja dirinya sendiri, melainkan seluruh penumpang dan isi kapal.

Begitulah jika gerak perjuangan sebuah kelompok (jama’ah) ternoda meski hanya dilakukan oleh segelintir anggota. Bukankah Nabi pernah bersabda, bahwa setiap muslim ibaratnya adalah anggota tubuh? Sakit salah satu diantaranya, maka sakit pula seluruh tubuh itu. Maka apa yang dilakukan oleh salah seorang diantaranya berpengaruh pada kaum muslimin secara keseluruhan.

Banyak peperangan kaum muslimin dengan musuhnya telah mengajarkan bahwa jumlah yang besar saja belum tentu menang. Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang begitu besar berlipat-lipat dengan izin dan pertolongan Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah: 249). Di Badar, Khandaq, Khaibar, juga Mu’tah. Dan pada perang Uhud pun kaum muslimin sebenarnya sudah pernah mendapatkan pelajaran berharga, bagaimana ketika perintah dilanggar oleh segelintir pemanah dapat mencelakakan seluruh pasukan.

Itulah yang kemudian terjadi pada Perang Hunain. Jumlah pasukan muslimin yang begitu besar dengan persenjataan dan perlengkapan yang lengkap telah membuat takjub, bangga dan sombong sebagian anggota pasukan. Sebagian anggota saja! Namun kebesaran pasukan itu seperti tak ada artinya ketika ternyata harus kocar-kacir oleh serangan musuh yang tidak disangka-sangka datangnya. Bahkan, mereka sempat lari terbirit-birit meninggalkan medan peperangan.

Hanya karena izin Allah SWT dan kokohnya pendirian Nabi SAW sajalah situasi kacay ini akhirnya dapat berbalik dan pulih kembali.

 

***

Keadaan semakin genting dan sulit. Nabi tetap bergeming di atas bighal-nya. Sementara Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan bin Harits, Usamah bin Zaid,  berikut segenap sahabatnya yang setia tetap berada di sekeliling Nabi dan melindunginya.

Atas permintaan Nabi, Abbas kemudian berseru, “Wahai orang-orang Anshar yang pernah menjadi pelindung dan penolong Nabi!”

Suara paman Nabi ini keras menggema memenuhi lembah itu.

“Wahai orang-orang Muhajirin yang pernah bersumpah setia di bawah pohon*!”

Suara teriakan itu mengatasi jerit kesakitan dan bahkan desingan panah-panah!

“Sesungguhnya Muhammad masih hidup! Muhammad masih hidup!”

Berulang kali Abbas meneriakkan kalimat-kalimat itu. Berulang kali suara itu menggema memenuhi bukit, menembus relung-relung hati yang putus-asa. Berulang kali. Pada akhirnya, sayup-sayup terdengarlah sambutan-sambutan itu di setiap tempat:

Labbaik! Labbaik! Labbaik!

Maka berkumpullah kembali pasukan yang telah tercerai-berai itu di sekitar Nabi yang tak pernah surut langkah sedikitpun dari tempatnya berpijak. Mereka kini bersatu kembali dan siap berbalik menggilas musuh.

 

***

Keterangan.

* bersumpah di bawah pohon = maksudnya di bawah pohon Samurah dimana kaum muslimin pernah bersumpah setia membela Islam hingga titik darah penghabisan saat di Hudaibiyah sebelum Fathu Makkah.

Dimuat dalam Al-Mu’tashim rubrik Napak Tilas edisi bulan Juli 2007