You are currently browsing the monthly archive for Agustus, 2007.

Asap putih mengepul. Angin gurun yang bertiup memerahkan bara, mengobarkan api di antara serak kayu kering. Seekor kambing panggang tengah digantung di atasnya. Aroma lezatnya memenuhi udara, membangkitkan selera makan siapa saja. Seorang wanita tua tengah membolak-balik onggokan daging itu, seperti khawatir ada bagian yang terlewatkan dari jilat api.

Ia kemudian mengingat kembali selaksa peristiwa yang menimpanya dan takkan pernah dilupakannya sepanjang hidup. Khaibar telah jatuh. Salam bin Misykam, suaminya, mati di medan perang. Juga saudaranya, Marhaban, prajurit andalan kaum Yahudi.

Hidupnya mendadak berubah drastis. Ia kini sebatang kara dengan kesumat terpendam di dalam dada. Ia harus membalaskan dendam itu! Dan kesempatan itu kiranya telah datang ketika ia berjumpa dengan Shafiyyah, bibi Nabi, pada suatu siang yang terik.

“Ya, Shafiyyah,” kata wanita itu dengan senyum simpul yang paling manis terukir di bibirnya. “Sudah lama aku ingin memberi hadiah kepada Rasulullah sebagai wujud terima kasih kami atas kembalinya kedamaian di kampung kami dan atas perdamaian di antara kita.”

Shafiyyah memandang sosok wajah di depannya itu seakan tak percaya. Wanita Yahudi itu belum lama dikenalnya selepas benteng Khaibar ditaklukkan kaum muslimin. “Hadiah macam apa, wahai Zainab?” tanya bibi Nabi itu.

“Sebuah kambing panggang yang lezat,” kata Zainab bersungguh-sungguh. Matanya bertabur binar. “O, ya. Bagian tubuh kambing mana yang paling disukai Rasulullah, Shafiyyah?”

Shafiyyah tampak berpikir sesaat. “Tidak ada yang lebih disukai Rasulullah melebihi lengannya.”

Wanita tua itu pun tersenyum. Dibakarnya kambing itu dengan sempurna. Meresapkan campuran racun yang telah dioleskannya ke setiap serat daging dan tulang. Terutama lengan-lengan itu.

Ia lalu mengenakan perhiasan paling indah yang pernah ia punya, membawakan kambing panggang itu kepada Shafiyyah, dan memintanya untuk diberikan kepada Rasulullah SAW sebagai tanda terima kasih.

***

Siang itu Rasulullah datang ke tempat Shafiyyah. Bisyr bin Barra’ tampak bersamanya. Shafiyyah pun menghidangkan kambing panggang itu kepada keduanya.

“Apa ini, wahai ibu saudaraku?” tanya lelaki kinasih itu.

“Ini hadiah, ya Abal Qashim,” jawab Shafiyyah.

Dengan tangannya yang mulia, ia kemudian mencomot bagian lengan. Lantas menggigitnya. Bisyr pun mengikutinya, mengambil sekerat daging, menggigitnya dan mengunyahnya. Lalu menelannya.

“Angkat tangan kalian!” seru Rasulullah tiba-tiba sambil memuntahkan segumpal daging di mulutnya. “Lengan kambing ini telah memberitahuku bahwa kematianku telah diberitakan di dalamnya.”

Bisyr tetap menelan daging di mulutnya. “Demi dzat yang telah memuliakanmu. Aku telah mendapatinya dalam makanan yang kumakan dan aku akan memuntahkannya, aku khawatir engkau mengira makanan kesenanganmu tidak aku sukai,” jawab sahabat itu. “Aku tidak akan mementingkan diriku atas dirimu dengan mengharapkanmu menjadi korban. Biarlah aku saja, ya Rasulullah!”

Rasul pun menanyakan asal kambing itu pada Shafiyyah. Bibinya itu pun menyebut sebuah nama. “Dia Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam!”

***

Agaknya tidak ada Nabi sebanyak yang diutus untuk mendakwahi Bani Israel, nenek moyang kaum Yahudi. Meski begitu, mereka selalu saja membuat ulah, mengingkari ayat-ayat Allah, membangkang perintahNya, dan menyelewengkan ajaranNya. Bahkan tak cukup sampai di situ saja, mereka pun dengan kejam membunuh para Nabi. (Q.S. Al-Baqarah: 61).

Hal itu, nampaknya terus berlangsung hingga detik ini. Bahkan hingga dunia berakhir kelak sesaat setelah orang Yahudi terakhir terbunuh di bawah bayang pohon Gharqat.

Ruth Anderson, wartawan penulis dari The Palestine Chronicle, dengan penuh kegetiran menulis, “… Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu, kecuali orang-orang Israel dan Amerika.” Begitulah Rizki Ridyasmara mengutip majalah online itu dalam bukunya Knight Templar Knight of Christ. Itulah mengapa, tulisnya lebih lanjut, Israel dengan dukungan penuh Amerika setiap hari terus saja membunuhi bayi-bayi Palestina dengan dalih memerangi terorisme. Mereka adalah tunas-tunas yang akan tumbuh dan pada gilirannya menjadi penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia.

Reagan, Clinton, dan dua Bush adalah orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat (janji) Tuhan seperti tercantum dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Ketika terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia nanti, antara Tuhan melawan Iblis, maka Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Karena itu, mereka harus melempangkan jalan bagi suatu hari dimana Kristus akan datang kedua kalinya ke bumi. Tak lain di tanah Palestina. Bekerjasama dengan Yahudi Israel, Amerika pun berupaya menguasai tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya pada orang-orang Yahudi untuk rencana besar itu. Bukankah kaum Yahudi yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin? (Q.S. Al-Maidah: 82)

Inilah konspirasi global. Ini adalah tipu-daya yang telah berusia ribuan tahun. Hingga kalian mengikuti millah mereka, begitu Al-Qur’an menulis (Q.S. Al-Baqarah: 120). Konspirasi ini sudah dimulai sejak Samiri menciptakan patung sapi emas untuk menandingi Tuhan ketika Nabi Musa menuju Thursina. Bahkan Harun Yahya mencatat bibitnya sudah ada jauh sebelumnya ketika zaman Mesir Kuno. Ada yang menyebut, mereka itulah kaum Kabbalah, yang menjadi biang-kerok perubahan Taurat, penulisan Talmud yang sarat dengan kesesatan, menjunjung tinggi kaumnya dan menganggap kaum di luar mereka sebagai ghoyim (manusia kelas dua), yang boleh dijadikan budak ataupun sekalian dibinasakan. Tak heran jika Ralph Schoenman menulis dalam The Hidden History of Zionism pada 1988, bahwa antara 29 Nopember 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas PBB, hingga 15 Mei 1948, jumlah orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 orang!

Akar konspirasi ribuan tahun itulah yang kemudian melahirkan dalam sejarah apa yang disebut Biara Sion, Orde Ksatria Templar, Fremason, kelompok Neo-Con di Amerika, Judeo-Christian atau Zionis-Kristen, Oikumene negeri-negeri Eropa dan sebagainya yang membawa kita pergi jauh ke masa silam ketika Fir’aun disembah sebagai Tuhan dan Samiri menciptakan Tuhan berupa patung sapi emas. Oleh karena itu, pengkhianatan Yahudi Bani Quraidah, Bani Nadzir, termasuk upaya meracuni Rasulullah SAW yang dilakukan Zainab binti Harits, adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan untuk membungkam dakwah kepada al-haq ini. Juga penindasan di Palestina, peristiwa 9/11, penyerbuan Afghanistan dan Irak dan sebagainya.

Jangan lupa kalau itu juga termasuk tontotan TV yang melenakan di sudut kamar kita.

***

“Apakah kamu yang meracuni kambing ini?”

Zainab binti Harits, tanpa berusaha mengelak, menjawab, “Benar. Siapa yang memberitahumu?”

Rasul yang agung itu pun menjawab, ”Aku diberitahu oleh yang ada di tanganku ini.” Beliau lalu menunjuk lengan kambing itu dan bertanya, “Apa maksudmu meracuni kambing ini?”

Wanita itu lantas menceritakan nasib yang menimpa keluarganya dalam perang Khaibar. “Engkau telah melakukan hal yang sangat tragis kepada kaumku. Lalu aku berkata, ‘Jika dia seorang Nabi, dia tidak akan dapat diracun dan akan diberitahu. Namun jika ia bukan Nabi, kami akan beristirahat dari mengurusinya.’”

Mendengar penuturan Zainab, dan tak seorang pun terbunuh saat itu, maka Rasulullah pun melepaskan Zainab dan membiarkannya pergi*.

***

* Dalam sebuah riwayat, ketika beberapa hari kemudian Bisyr bin Barra meninggal karena racun yang menyebar di tubuhnya, maka Zainab pun dihukum bunuh (qishash).