You are currently browsing the monthly archive for November, 2007.

Madinah kering-kerontang. Debu beterbangan di setiap tempat, seperti kabut tipis yang dimainkan angin. Butirannya panas seperti bara ketika memercik wajah, ngilu serta perih ketika bersarang pada sudut mata. Pelepah kurma meranggas-ranggas dengan buahnya berjuntai-juntai mendekati ranum. Sumur-sumur dan kolam air kini tinggal kubangan tanah merekah yang merana dan sepi.

Hujan sudah lama tidak pernah turun.

Suatu hari, orang-orang datang kepada Rasûlullâh Saw. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Rasûlullâh. Hujan sudah lama tidak turun di Madinah. Sudilah kiranya engkau mintakan hujan kepada Rabb engkau!”

Laki-laki itu memandang lekat-lekat kepada setiap wajah yang hadir. Ia lalu memerintahkan mereka untuk memasang mimbar di tanah lapang tempat shalat. Dan sebuah hari telah dipilih agar orang-orang berkumpul di tanah lapang itu.

Hari yang ditetapkan itu pun tiba. Sekalian orang berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing menuju tanah lapang.

Rasul yang mulia itu pun keluar bersama dengan mereka. Ia lalu berdiri di atas mimbar, bertakbir menggelegar, dan bertahmid kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan kekeringan tempat tinggal kalian. Kalian juga mengadukan mundurnya turun hujan dari permulaan waktunya. Sementara Allâh telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk memenuhi permintaan kalian.”

Laki-laki kinasih itu kemudian memandang ke arah langit yang tinggi. Para sahabat yang berkumpul di tanah lapang itu pun menjadi saksi atas langit yang bersih, tempat tak sepotong mendung pun menggantung menghiasinya. Seperti tak ada harapan sedikitpun hujan bakal bisa ditumpahkan dari celah-celahnya.

Rasul Saw. lalu mengangkat kedua belah tangannya. Tinggi-tinggi menunjuk langit, sampai-sampai tampak kulit ketiaknya yang putih bercahaya diterpa sinar matahari. Kemudian ia membelakangi orang-orang dan mengalihkan kain selendangnya. Tangannya tetap terangkat ke udara. Tak lama kemudian, ia membalikkan badannya lagi dan menghadap ke orang banyak. Setelah itu, ia turun dari mimbar dan shalat dua rakaat.

Tiba-tiba, langit yang cerah itu berubah. Mendung berdatangan seperti payung-payung langit. Guntur menggelegar. Kilat menyambar-nyambar. Hujan pun turun deras seperti ditumpahkan dari langit. Tanah-tanah basah. Tempat shalat pun dialiri air yang deras.

Kerumunan di tanah lapang itu pun semburat pergi. Bergegas berlari-lari, pulang ke rumah masing-masing.

Melihat orang-orang yang bergegas pergi, Rasul yang agung itu pun tersenyum, hingga gusinya terlihat. Ia lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

***

Hujan pun terus turun dari Jum’at hingga ke Jum’at berikutnya. Seperti dituangkan dari kolam air langit yang sumbernya tak pernah habis, yang tak hendak berhenti. Kota menjadi tergenang oleh air.

Ketika itu, Rasul sedang menyampaikan khutbahnya di masjid. Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Ya, Rasulullah. Kami kini tenggelam sebab hujan yang tak henti-henti. Sudilah kiranya engkau berdoa kepada Rabb engkau agar Ia menghentikan hujan ini dari kami.”

Rasul yang penuh kasih itu pun tersenyum mendengarnya. Lalu laki-laki kinasih itu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan kepada kami.”

Tak lama kemudian, sekumpulan mendung seperti diperintah menyingkir ke arah kiri dan kanan, menjauhi kota Madinah. Hujan pun kini beralih hanya di sekitar kota itu. Dan Madinah seketika reda dari hujan.

***

Mulutmu, Harimaumu.

Itu berarti, mulut adalah sebuah kekuatan dua arah. Di satu sisi, ia bisa mempengaruhi orang lain dengan kekuatannya. Tetapi di sisi lain, jika salah arah, maka sebab mulut, kekuatan itu bisa berbalik arah memakan diri sendiri. Seperti ketika kau salah melepas harimaumu, maka ia sangat mungkin akan menerkam dirimu sendiri.

Karena itu, mulut harus dijaga ketat; tidak saja dalam artian fisik, tetapi juga maknawi. Ia adalah salah satu dari dua lubang yang kita miliki — disamping farji, yang rawan menghantarkan seseorang masuk ke lubang lain yang lebih mengerikan: neraka. Penjagaan itu tidak saja terbatas pada apa yang mulut keluarkan – berupa kata-kata dan segala macam suara – melainkan juga apa yang ia kesankan. Oleh karena itu, kata orang, mulut mampu mengeluarkan berjuta makna bahkan tanpa perlu berkata-kata. Mulut sangat elastis hingga bisa menekuk, mengatup, menganga, memanjang, membentuk huruf O; dimana setiap bentuk mewakili sejuta arti.

Apa yang Anda rasakan jika sedang berbicara dengan seseorang, tetapi mulutnya terkatup rapat dan kaku serupa gembok karatan menguncinya? Atau apa yang Anda rasakan setelah penat peras keringat banting tulang seharian menjumpai putri tercinta menyambut Anda di pintu rumah dengan tawa yang riang?

Itulah kekuatan mulut. Karena itu, bahkan sesungging senyum di bibir mulut yang tulus bisa berarti sangat dalam. Rasûlullâh Saw. sampai-sampai mengatakan bahwa senyuman di bibir yang menghias wajah menjadi sumringah ketika bertemu dengan seseorang merupakan shadaqah.

Bahkan Rasûlullâh Saw. adalah orang yang paling banyak tersenyum. Tetapi senyum beliau adalah senyum ketika saatnya memang layak tersenyum. Paling banter menampakkan gigi atau gusinya, tanpa terbahak-bahak. Senyum yang demikian merupakan senyum yang penuh kharisma.

Aisyah ra. sendiri pernah ditanya seseorang, “Bagaimana keadaan Rasûlullâh saat berada di rumahnya?” Istri baginda tercinta itu menjawab, “Beliau adalah orang yang paling lemah-lembut, paling murah hati, dan tak berbeda dengan seorang laki-laki diantara kalian. Hanya saja, beliau sering tertawa yang berupa senyuman.”

Senyum Rasul itu bahkan terjadi pada banyak situasi dan kondisi. Ahmad Musthafa Qasim ath-Thahthawy menulis dalam Shifatu Dhahki wa Buka’in Nabi wa Muzajuhu Ma’a Ash-habihi, bahwa senyum Rasulullah bisa dikarenakan gembira, hal-hal yang kontradiktif, pemahaman yang tepat, salah paham, canda, dan perbuatan para sahabat beliau. Rasul Saw. pun tersenyum pada musuhnya sekalipun. Ini tentu contoh tersenyum yang sangat berat untuk diteladani.

Bahkan senyum Rasûlullâh Saw. itupun bisa terukir pada sebuah kecamuk peperangan, antara hidup dan mati.

***

Thaif sementara terlalu kuat untuk ditaklukkan. Musuh telah menguasai medan yang berbukit-bukit. Sementara kaum muslimin kesulitan menembusnya, meski sudah mengerahkan pasukan yang cukup banyak jumlahnya.

Rasul Saw. pun lalu bersabda, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”

Segolongan orang dari para sahabat segera menyampaikan keberatannya. “Janganlah engkau pergi petang ini, ya, Rasûlullâh, “ kata mereka sungguh-sungguh, “sebelum kita menaklukkan Thaif!”

Rasul diam sejenak, untuk kemudian bersabda, “Kalau begitu mau kalian, lanjutkan pertempuran besok pagi!”

Maka, ketika matahari menyingsing dari ufuk Timur keesokan harinya, para sahabat pun meneruskan pertempuran. Mereka bertarung dengan sengit melawan tentara musuh. Tetapi, bagaimanapun, musuh terlalu kuat untuk ditundukkan. Bahkan, ketika pertempuran usai, banyak anggota pasukan kaum muslimin yang jatuh terluka.

Rasul pun, sekali lagi, bersabda kepada mereka, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”

Kali ini, para sahabat itu, tak satu pun yang angkat bicara. Semua diam. Membisu.

Rasulullah Saw. yang agung itu pun tersenyum penuh arti.

***