Zaid bin Arqam geregetan! Daun cuping telinganya seketika merah dan berdiri tegak. Darah panas serasa menggelegak memenuhi seluruh lekuk tubuhnya.

“Cobalah lihat wahai saudaraku kaum Khazraj! Mereka kaum Muhajirin sudah mengalahkan kita, memperbanyak jiwa di negeri kita, menyingkirkan agama kita!” kata Abdullah bin Ubay berapi-api. Kaum Muhajirin dan Anshar baru saja nyaris terlibat bentrokan bersenjata hanya karena sebuah kesalahpahaman di sumur Muraisi. “Kita tidak menyangka, mereka akan seperti kata pepatah orang tua kita dahulu ‘Gemukkanlah olehmu anjingmu biar ia menggigitmu!’”

Perkataan ini penuh fitnah! Seperti api dalam sekam, ia bisa menyambar apapun dan membakar liar ke segala arah.

“Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah,” lanjut dedengkot kaum munafik itu dengan sombongnya, “niscaya orang yang mulia akan mengusir orang yang hina dina dari Madinah!”

“Kamulah yang hina dina pada sisi kaummu, wahai Ibnu Ubay!” sahut Zaid seketika dengan gigi gemeretak mendengar ejekan itu. “Adapun Muhammad adalah mulia di sisi Allah dan berkekuatan dari kaum muslimin.”

Abdullah bin Ubay tak menyangka pemuda Muhajirin itu akan menyahut perkataannya. “Diamlah kisanak! Aku tidak akan berbuat apa-apa,” katanya pada Zaid. “Aku hanya bergurau belaka!”

***

Rasulullah sedang berkumpul bersama beberapa orang sahabat. Bagaimanapun dari tangan Bani Musthaliq yang baru saja ditaklukkan, kaum muslimin memperoleh ghanimah yang banyak. Tak kurang 2.000 ekor unta, 5.000 ekor kambing, dan 700 orang tawanan laki-laki dan perempuan telah jatuh ke tangan mereka.

Namun karena didorong oleh persoalan yang menurutnya harus segera disampaikan, maka Zaid pun memberanikan diri menghadap lelaki kinasih itu. Ketika diberikan kesempatan, maka ia pun lantas menuturkan perkataan Abdullah bin Ubay yang didengarnya dengan telinganya sendiri itu.

Raut muka lelaki agung itu berubah seketika. Sesaat ruang itu mendadak sunyi. Dengan berhati-hati, lelaki mulia itu lantas bertanya pada Zaid, “Barangkali kamu saja yang marah-marah padanya, wahai Ibnu Arqam?”

Zaid agak tersentak dengan jawaban lelaki agung itu. Ia tak menduga mendapatkan jawaban berupa pertanyaan demikian. Dengan tangkas ia lalu menyahut, “Demi Allah, ya Rasulullah! Sungguh aku mendengarnya benar-benar demikian itu.”

“Barangkali kamu saja yang salah mendengarnya, wahai Zaid?”

“Ya Rasulullah! Betul-betul saya mendengarnya demikian.”

Pemuda Muhajirin itu tampak merasa susah dan malu ketika Rasulullah seperti tidak percaya dengan laporannya. Namun ia agak sedikit terobati ketika salah seorang sahabat yang hadir di tempat itu ikut angkat bicara.

“Ya, Rasulullah,” kata Umar bin Khatthab dengan nada berat. “Jika yang dikatakan Zaid itu benar, maka ijinkan saya memenggal batang leher Ibnu Ubay sekarang juga!”

Rasulullah seketika menjawab, “Bagaimanakah wahai Umar jika orang-orang membicarakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya?”

“Wahai Rasulullah,” sambung Umar belum akan berhenti, “jika saja Baginda tidak suka orang Muhajirin membunuh Ibnu Ubay, maka perintahkanlah Muhammad bin Maslamah (seorang Anshar) untuk membunuhnya.”

Berkali Ibnu Khatthab meminta ijin. Berkali pula Rasulullah tetap bergeming. Bahkan beliau kemudian memerintahkan pasukan kaum muslimin segera kembali ke Madinah. Padahal, matahari begitu teriknya hingga kerontang tanah mengeluarkan hawa panas serupa bongkahan bara api. Dan Nabi sendiri tidak biasa berjalan jauh dalam musim panas seperti ini. Bahkan sehari semalam mereka berjalan tanpa henti. Ketika berhenti pun pada siang hari berikutnya, banyak yang kemudian berbaring dan tidur untuk beristirahat. Cerita tentang Abdullah bin Ubay pun lenyap ditelan mimpi-mimpi.

***

“Hai Ibnu Ubay!” kata Nabi kepada Abdullah bin Ubay ketika mereka bertemu dalam perjalanan kembali ke Madinah itu. “Jika telah telanjur perkataanmu sebagaimana yang telah aku dengar, tobatlah kamu kepada Allah. Jika tidak, hendaklah kamu menunjukkan kebenaran kamu dengan sumpah kepada Allah. Yang demikian itu agar menunjukkan bahwa kamu tidak berkata sebagaimana dikatakan oleh Zaid kepadaku.”

“Demi Dzat yang telah menurunkan kitab atas Baginda, Muhammad!” jawab Abdullah bin Ubay penuh penghormatan. “Sungguh saya tidak berkata seperti dikatakan Zaid sedikitpun. Bahkan, sungguh Zaid-lah yang berdusta kepada Baginda!”

Ibnu Ubay terus menyangkal hingga Nabi tak lagi menanyainya. Justru seorang keluarga Zaid mendatangi pemuda itu dan berkata, “Kamu ini tidak lain hendak meminta kepada Rasulullah supaya kamu didustakan dan dimurkai olehnya. Bukan begitu, Zaid?”

“Demi Allah! Sungguh aku telah mendengar perkataan Ibnu Ubay!” sanggah Zaid. “Jika aku mendengar perkataan seperti itu dari bapakku, niscaya akan aku sampaikan juga kepada Rasulullah.”

***

Berita itu akhirnya tiba juga di telinganya. Tentang perkataan penuh ejekan ayahnya kepada Baginda Nabi. Umar bin Khatthab bahkan telah berulang kali meminta ijin kepada Rasulullah untuk membunuh ayahnya. Maka ia pun segera menemui lelaki agung itu.

“Ya Rasulullah! Telah sampai kabar kepada saya bahwa Baginda hendak membunuh ayah saya,” kata pemuda itu kepada Nabi. “Jika kabar itu benar, saya minta hendaklah Baginda perintahkan saya. Nanti sayalah yang akan membawa kepalanya ke hadapan Baginda.”

“Tidak, wahai Abdullah!” Lelaki agung itu menggeleng tegas. Seperti seorang ayah menasihati anaknya, ia pun berkata kepada putra Ibnu Ubay itu, “Tidak. Aku tidak berkehendak menyuruh seseorang membunuh ayahmu. Aku tidak berkehendak membunuhnya. Bahkan aku sahabat baiknya, selama ia bersahabat denganku.”

Abdullah memandang junjungannya itu. Sorot mata lelaki agung itu memancar penuh kasih, serasa mengisi kesejukan rongga dadanya yang sesak.

“Wahai Abdullah,” kata Nabi menyambung pembicaraan. “Berbuat baiklah kamu pada ayahmu!”

***

Tepat ketika tiba di dusun Walid Aqiq, seorang pemuda mendahului perjalanan barisan tentara itu. Dan di sebuah tempat dekat Madinah, ia berbalik arah, berhenti, dan menanti barisan itu lewat. Bukan. Lebih tepatnya, ia tengah menanti seseorang.

“Apa maksudmu berada di sini, hai Khubab[1]?” tanya seorang laki-laki pada pemuda di pintu gerbang Madinah itu.

“Demi Allah!” jawab sang pemuda. “Janganlah Ayah masuk ke Madinah sebelum mengakui bahwa Ayahlah yang hina dina dan Rasulullah yang mulia.”

Merah-padamlah raut muka Ibnu Ubay, laki-laki itu. “Sungguh, akulah yang lebih hina daripada perempuan dan sungguh aku lebih hina daripada anak-anak,” jawabnya pada pemuda itu. “Adakah kamu ikut kemauan orang-orang itu atau tak mau ikut kepadaku?”

Pemuda itu menjawab dengan tegas. “Ya. Aku ikut orang-orang itu.”

Abdullah bin Ubay memalingkan mukanya. Ketika Nabi datang ke tempat itu, laki-laki itu memarahi anaknya, lalu menuturkan perbuatan anaknya kepada lelaki agung itu.

Rasulullah menyuruh Abdullah membiarkan ayahnya memasuki Madinah.

Kata Abdullah, “Jika Ayah tidak mengakui bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya, niscaya sayalah yang akan memenggal leher Ayah!”

“Apakah kamu akan berbuat begitu padaku, Khubab?” tanya laki-laki itu gusar. Tetapi dengan bersungut-sungut, akhirnya ia berkata, “Aku menyaksikan bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.”

Rasulullah tersenyum. Sabdanya pada pemuda itu, “Wahai Abdullah! Mudah-mudahan Allah membalas kebaikanmu dari Rasul-Nya dan dari orang-orang yang beriman.”

***

Akhirnya wahyu Allah pun turun untuk menetralisir peristiwa itu [2]. Ketika itu Nabi sedang mengendarai untanya menuju Madinah. Tiba-tiba beliau mendekati unta Zaid bin Arqam, menarik telinga pemuda itu, lalu bersabda, “Sempurnakanlah pendengaranmu, hai pemuda. Allah telah membenarkan perkataanmu dan mendustakan orang-orang munafik.”

***

Selalu saja yang remang-remang, abu-abu, samar, syubhat, atau apapun istilahnya bagi sesuatu atau seseorang yang tidak jelas posisinya membuat sulit bersikap. Demikian juga bersikap terhadap orang munafik, yang jelas bukan kafir, tetapi selalu merecoki perjuangan. Mungkin karena itulah, pada pembukaan Q.S. Al-Baqarah, jumlah ayat yang membahas orang-orang munafik ini jauh lebih banyak dibanding orang mukmin ataupun kafir.

Karena posisinya yang demikian, maka tidaklah serta merta mereka halal darahnya. Bagaimanapun mereka beriman atau setidaknya mengaku beriman, meski di belakang mereka berkata lain. Namun ketika diajak membela agama Allah, pergi ke medan perang misalnya, ada saja alasannya untuk tidak ikut serta. Meski sudah berangkat bersama kaum muslimin lainnya, dalam perang Khandaq maupun Tabuk misalnya, tetapi di tengah jalan mereka memutuskan untuk kembali dan meninggalkan medan. Yang lebih memuakkan adalah ketika di depan kita mereka memuji, di belakang kita mereka mengejek dan menghina. Itulah yang dilakukan Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik Madinah, terhadap Nabi Saw.

Sikap yang demikian sungguh merepotkan. Dihabisi tidak boleh. Dibiarkan hanya akan menjadi sandungan. Bahkan boleh jadi mereka menjadi “musuh dalam selimut.” Pada posisi inilah Rasulullah Saw. dituntut bersikap bijak. Berbeda dengan musuh-musuh Allah yang sudah sangat jelas kekafiran dan permusuhannya terhadap Islam, Nabi bersikap lebih sabar dan cenderung menahan diri terhadap ulah kaum munafik, dalam hal ini diwakili oleh Abdullah bin Ubay. Apa saja yang mereka katakan, hinaan dan ejekan terhadap pribadinya, paling menyakitkan hati sekalipun, selalu saja Nabi tetap sabar dan menahan diri. Kebijaksanaan seperti inilah yang kiranya harus beliau tunjukkan, meski sahabat di sekeliling beliau, terutama Umar, sudah tak sabar untuk menutup mulut Ibnu Ubay selamanya dan habis perkara.

Bahkan Abdullah, putra Abdullah bin Ubay pun sampai mengajukan diri untuk mengeksekusi ayahnya daripada keduluan orang lain. Tetapi, lelaki yang agung itu tetap bergeming. Hatinya begitu luas untuk menampung pedih-perih. Juga gelegak marah.

***

Pada sebuah kesempatan, Rasulullah tengah meminum air. Abdullah datang menguluk salam, lantas duduk di hadapan beliau.

“Ya, Rasulullah!” katanya pada lelaki agung itu. “Demi Allah! Sudikah engkau menyisakan barang sedikit saja dari air yang engkau minum itu? Nanti air sisa engkau itu akan aku sampaikan kepada ayahku agar diminumnya. Mudah-mudahan dengan minum air sisa engkau, ayahku dibersihkan hatinya oleh Allah.”

Nabi menyisakan air minum beliau dan memberikannya pada anak berbudi itu.

Abdullah lalu membawa air sisa minum Rasulullah itu kepada ayahnya, menyerahkannya dan meminta ayahnya untuk meminumnya.

“Apa ini, Khubab?” tanya Ibnu Ubay kepada Abdullah.

“Ini adalah sisa air minum Rasulullah yang sengaja saya bawa untuk Ayah agar Ayah sudi meminumnya,” kata Abdullah apa adanya. “Dengan demikian, semoga Allah membersihkan hati Ayah.”

Laki-laki itu seketika tersenyum sinis. “Mengapa kamu tidak datang kepadaku dengan membawa air kencing ibumu saja?” katanya mengejek. “Karena air kencing ibumu itu lebih bersih daripada sisa air Muhammad. Bukan begitu, Khubab?”

Darah Abdullah menggelegak ke ubun-ubun. Seketika ia meninggalkan ayahnya. Ia lalu menghadap Nabi dan melaporkan kejadian itu.

“Ya, Rasulullah,” katanya memohon kepada lelaki agung itu. “Perkenankanlah saya membunuh Ayah saya yang jahat itu.”

Lelaki mulia itu, dengan kesabaran seluas samudera, menjawab permintaan Abdullah. “Bertemanlah dengan ayahmu, hai Abdullah,” sabdanya dengan penuh kasih. “Dan berbuat baiklah kamu kepadanya.”

***

[1] Khubab, nama lain Abdullah bin Abdullah bin Ubay.

[2] Yakni Q.S. Al-Munâfiqûn: 1-8