Bismillahirrahmaanirrahim,
Hamidan lillah tabaaraka wata’alaa wa musholliyan ‘alaa Rosulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallama,
Amma ba’du,
Ada semacam kerinduan yang menyergap begitu rupa untuk menghadirkan sebuah bacaan sejarah (tarikh) Rasulullah SAW beserta orang-orang yang ittiba’ fii sabiilih, yang menarik untuk dibaca, mudah dipahami dan bisa diambil hikmahnya. Bagaimanapun, buku tarikh yang ada sekarang ini lebih mendekati buku-buku teks sekolah daripada sebuah bacaan yang menggugah.
Padahal, mengutip Abuya Assayid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani dalam kitab beliau Qudwatul Hasanah fii Tarikhil Musthofa Rosulillah SAW, para hamlud da’wah seyogyanya membaca dan mengetahui tarikh Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai salah satu bekal dalam menjalankan da’wah di jalan masing-masing. Bagaimanapun, di dalam tarikh terkandung banyak sekali hikmah dan teladan dari Baginda Nabi SAW yang bisa diambil sebagai pelajaran yang baik. Apalagi, beliau adalah panutan (qudwah) dan contoh manusia terbaik (uswatun hasanah) bagi sekalian manusia.
Berangkat dari kerinduan dan dorongan semacam itulah Napak Tilas ini lahir. Mengapa Napak Tilas? Mengambil istilah dari bahasa Jawa, Napak Tilas berarti menapaki / menyusuri kembali jalan yang pernah ditempuh seseorang. Boleh jadi untuk mengenang perjuangannya, ikut merasakan penderitaannya, mencontoh suri-tauladannya, atau bahkan menghidupkan kembali semangatnya yang dulu pernah ada. Sedangkan Napak Tilas yang dimaksud dengan tulisan ini adalah berkaitan dengan perjuangan, suri-tauladan, dan semangat Baginda Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dan mereka yang melanjutkan perjuangannya di jalan yang sama.
Saya sengaja “mengolah kembali” cara bertutur sejarah (tarikh) yang pernah saya baca, yang kurang greget dan terasa kering — kalau boleh dinilai begitu, yang karenanya kurang menarik untuk dibaca. Saya meramunya dengan sedikit bumbu sastra sebagai penyedap dan juga membuat sebuah segmen sisipan sebagai refleksi terhadap sekuel yang sedang saya angkat dalam sebuah judul. Refleksi itu merupakan interpretasi pribadi saya terhadap sekuel tarikh itu dikaitkan dengan apa yang ada saat ini (aspek kekinian). Tentu saja, saya tidak mengubah esensi tarikh yang ada sehingga melahirkan cerita sejarah yang sama sekali berbeda dari kitab tarikh rujukan yang saya baca.
Ini saya maksudkan untuk bersama-sama dengan Anda, para pembaca, mencoba mengambil hikmah dan teladan dari sekuel itu. Tentu saja sifatnya menjadi sangat subyektif dan individualistik, mengingat refleksi saya tentu tak sepenuhnya Anda sepakati dan amini. Tetapi paling tidak, saya pengin memercikkan kerinduan yang sama itu pada Anda. Kerinduan pada Baginda Nabi SAW. Kerinduan untuk selalu meneladani dirinya dan mengikuti tapak kakinya. Seperti rindu Taufik Ismail dan Bimbo ketika berdendang:
Rindu kami padamu, Ya Rasul,
Rindu tiada terperi.
Berabad jarak darimu, Ya Rasul,
Seakan dikau di sini.
Cinta ikhlasmu pada manusia,
Bagai cahaya suwarga.
Dapatkah kami membalas cintamu,
Secara bersahaja.
Shallallahu ‘alan Nabiy Muhammad!
Ya Rasulullah! Hanya sesahaja inilah cara yang kutahu untuk bisa membalas cintamu. Untuk mengekalkan rinduku padamu. Untuk mencintaimu, meski hanya lewat kata-kata.
Wassalaamu’alaikum,
Bahtiar HS

1 comment
Comments feed for this article
April 16, 2007 pada 4:52 am
Nurudin
Assalamu’alaikum,
Bila ada satu rindu yang begitu menggebu, susah untuk diungkapkan. Bila ada satu rindu yang sulit menemukan labuhannya. Bila ada satu rindu yang tak tahu untuk dibawa kemana.
Maka, secercah cahaya kutemukan membimbingku pada tapak-tapak mulia.
Selama ini hati ini merindu, bibir ini berucap rindu, tapi belum jua langkah ini mengikuti jejak yang kan membawa kerinduan berlabuh.
Alhamdulillah, kutemukan penawar rindu itu di sini. Kegamangan, kebimbangan bahkan ketidak tahuan akan jalan, kudapat jawabannya di sini.
Tanpa menyanjung, tanpa mengkritik, Alhamdulillah, terima kasih sekali karna inilah yang slama ini kubutuhkan, untuk membawa rinduku.
Wassalam,
Nurudin.