You are currently browsing the category archive for the 'Kasih-sayang' category.
Matahari memancar terang di cakrawala timur seperti bola raksasa yang terlontar dari balik bukit-bukit.
Pasar kota Madinah pagi itu begitu ramai. Orang berlalu-lalang, datang dan pergi dengan unta ataupun keledai. Juga sekadar berjalan kaki. Riuh-rinai para pedagang yang beradu suara menawarkan barang dagangannya seperti sekumpulan lebah yang tengah membangun sarangnya. Dirham dan dinar segera bertukar tempat dengan sekarung gandum, setangkup daging, sebungkus roti, sepasang baju besi, atau sebotol minyak wangi kesturi.
Pada sebuah sudut, seorang pengemis sedang duduk. Tulang-belulang lelaki Yahudi itu telah renta. Badannya lusuh, kusut-masai. Sebuah tongkat kayu ada di tangannya, tergenggam erat, seperti sesuatu yang tak hendak dilepaskannya meski barang sesaat. Sesekali tangannya yang lain menggapai-gapai sesuatu di sekelilingnya. Ia buta, hingga menggantungkan hidupnya di sudut pasar itu pada orang yang mau memberinya sesuap makanan untuk mengarungi sisa hidup.
Namun seperti tak pernah berhenti, dari mulutnya keluar serangkaian perkataan, setengah berteriak, kepada orang yang lewat di dekatnya. Bukan menawarkan semacam barang dagangan. Bukan pula rintihan menghiba mengharap belas-kasihan. Tapi, rentetan pesan berisi caci-maki.
“Wahai saudaraku. Jangan dekati Muhammad! Jangan dekati Muhammad!” teriaknya seperti tukang syair kesetanan. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kalian mendekatinya, kalian pasti akan terkena pengaruhnya!”
Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya datang ke tempat itu dengan makanan di tangan. Didekatinya lelaki buta itu. Perlahan, seperti tak ingin mengusiknya. Dan tanpa sepatah katapun terucap, ia kemudian menyuapinya makanan dengan tangannya sendiri. Lembut. Santun. Telaten, hingga suap terakhir.
Lelaki buta itu tampak merasa nyaman mendapatkan suapan makanan hari ini. Dari seorang lelaki paruh baya yang dengan lembut menyuapinya. Ia pun menyampaikan terima kasih dan juga sebuah pesan, sebagaimana disampaikannya pada setiap orang. “Jangan dekati Muhammad, kisanak!” katanya berapi. Keroncongan perutnya sudah lenyap. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kamu mendekatinya, kamu pasti akan terkena pengaruhnya!”
Lelaki paruh baya itu pun diam menyimak. Kemudia ia pamit, untuk kemudian kembali ke sudut pasar itu pada suatu pagi yang cerah keesokan harinya. Ia membawa makanan seperti kemarin. Ia juga menyuapi lelaki pengemis buta itu dengan kelembutan yang sama seperti sebelumnya. Dengan tangannya sendiri. Ia pun mendapatkan pesan yang sama dari pengemis buta itu sebelum pamit pergi.
Demikian hal itu berlangsung berbilang hari hingga pada suatu hari, lelaki paruh baya yang lembut itu tak pernah datang lagi. Dan suapan lembut itu pun berakhir sudah.
***
Suatu hari, Abu Bakar ra. datang kepada ‘Aisyah ra., anaknya yang istri tercinta Baginda Nabi. Ia bertanya, “Wahai anakku. Adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan?”
’Aisyah mengernyitkan dahi sesaat, seperti mengingat sesuatu. “Wahai Ayahku. Engkau adalah ahli sunnah Rasulullah,” kata ummul mu’minin itu lembut. “Hampir tidak ada sunnah Rasulullah yang belum engkau kerjakan kecuali satu hal saja.”
“Sunnah apakah itu, anakku?” tanya Abu Bakar dengan penuh penasaran.
“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berkunjung ke sudut pasar kota Madinah,” terang ‘Aisyah mengingat kembali kebiasaan suami tercintanya itu sebelum hari wafatnya. “Beliau membawakan makanan untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”
Tanpa menunggu waktu, pagi keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke sudut pasar kota Madinah. Ia membawa makanan di tangan. Didapatinya seorang pengemis Yahudi di sana. Tulangnya telah renta dengan badan yang lusuh dan kusut-masai. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mulai menyuapinya dengan makanan.
Tiba-tiba, lelaki pengemis buta itu pun berteriak marah. “Siapa kamu?” tanyanya ketus.
“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar. Sesuap makanan berikutnya telah siap di tangannya.
“Bukan! Bukan!” sergah si Yahudi dengan tongkat tergenggam erat di kedua tangannya. Matanya seperti memicing. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku!”
Abu Bakar termangu. “Bagaimana mungkin engkau tahu, wahai kisanak?”
“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah,” lanjut pengemis itu pada Abu Bakar. “Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan lembut.”
Abu Bakar seketika tak kuasa menahan bulir air di matanya jatuh satu demi satu. Ia pun sesenggukan di hadapan pengemis itu. “Wahai, kisanak! Aku memang bukanlah orang yang biasa datang kepadamu,” lanjut Abu Bakar diantara isak. “Aku hanyalah salah seorang sahabatnya.”
“O, ya? Dimana dia?”
“Orang yang mulia itu kini telah tiada.”
“Telah tiada? Siapakah dia? Siapa dia sebenarnya, wahai kisanak?”
“Dialah Muhammad! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
***
Cintailah kekasihmu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi kekasihmu. Ada yang mengatakan ini sebuah hadits atau setidaknya sebuah nasihat yang berharga. Apapun itu, tetapi cinta dan benci mungkin memang tak dapat mengisi tempat yang sama. Keduanya berhadapan secara diametral. Ketika salah satu menipis, maka yang lain akan menebal. Jika yang satu pergi, maka yang lain akan datang.
Jika cinta dan benci mengisi sebuah waktu, dan waktu terus berlalu, maka cinta dan benci pun ikut berlalu. Jika cinta dan benci mengisi ruang hati, dan hati (kalbu) itu bersifat “berbolak-balik”, maka cinta dan benci pun bisa bersifat berbolak-balik, fluktuatif: kadang naik dan kadang turun. Maka, tidak ada cinta sebenar-benar cinta kecuali cinta sebagaimana mencintai diri sendiri. Bahkan mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri, kata Nabi, merupakan salah satu tanda beriman seseorang. Bukanlah sebuah kebetulan jika iman itu juga bersifat yazidu wa yanqusu, kadang naik dan kadang turun.
Implementasi mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri tercermin pada bagaimana memperlakukan seseorang sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Senangnya seseorang adalah senangnya juga. Derita seseorang tak lain deritanya juga. Jika kesadaran ini yang muncul pada diri seseorang, maka sesungguhnya tidak akan ada rasa benci dalam hatinya pada seseorang yang lain, sebagaimana dia pada dasarnya tidak akan pernah membenci diri sendiri. Tidak akan ada ruang di dalam hatinya kecuali dipenuhi dengan: cinta, cinta, dan cinta. Bahkan kepada seseorang yang membenci dirinya sekalipun.
Itulah yang dipraktekkan Baginda Rasul di sudut pasar Madinah itu untuk kita teladani. Kebencian seorang Yahudi kepada al-Musthofa tidak menghalangi langkahnya untuk datang berbagi dengannya. Bahkan tanpa perlu menyebutkan jati diri, laksana tangan kiri yang tak tahu-menahu ketika tangan kanannya mengulur memberi. Penyebutan jati diri hanya akan memberi warna cinta dengan setitik noktah pamrih, sehingga tak lagi putih bersih.
Tidaklah itu semua terjadi kecuali berangkat dari rasa cinta dan kasih sayang Baginda Nabi yang tak terkira. Tidak saja untuk sesama muslim, tetapi untuk semesta alam (rahmatan lil’âlamîn). Sebuah teladan yang tak mudah diteladani, memang. Bahkan oleh seorang Abu Bakar sekalipun.
***
“Dia Muhammad? Benarkah demikian?”
Abu Bakar mengiyakan.
Linang air matapun membahasi pelupuk pengemis itu. Ia sesenggukan, meratap teramat sangat. Menyesali apa yang sudah terjadi pada dirinya.
“Wahai kisanak! Selama ini aku telah menghinanya. Memfitnahnya!” katanya diantara tangis. “Dan ia tidak pernah marah kepadaku sedikitpun. Ia justru mendatangiku setiap hari, dengan membawa makanan di tangannya. Ia bahkan menyuapiku dengan tangannya yang lembut. Betapa mulia dirinya! Betapa mulia dirinya!”
Lelaki itupun lalu bersyahâdat di depan Abu Bakar.
***
Asap putih mengepul. Angin gurun yang bertiup memerahkan bara, mengobarkan api di antara serak kayu kering. Seekor kambing panggang tengah digantung di atasnya. Aroma lezatnya memenuhi udara, membangkitkan selera makan siapa saja. Seorang wanita tua tengah membolak-balik onggokan daging itu, seperti khawatir ada bagian yang terlewatkan dari jilat api.
Ia kemudian mengingat kembali selaksa peristiwa yang menimpanya dan takkan pernah dilupakannya sepanjang hidup. Khaibar telah jatuh. Salam bin Misykam, suaminya, mati di medan perang. Juga saudaranya, Marhaban, prajurit andalan kaum Yahudi.
Hidupnya mendadak berubah drastis. Ia kini sebatang kara dengan kesumat terpendam di dalam dada. Ia harus membalaskan dendam itu! Dan kesempatan itu kiranya telah datang ketika ia berjumpa dengan Shafiyyah, bibi Nabi, pada suatu siang yang terik.
“Ya, Shafiyyah,” kata wanita itu dengan senyum simpul yang paling manis terukir di bibirnya. “Sudah lama aku ingin memberi hadiah kepada Rasulullah sebagai wujud terima kasih kami atas kembalinya kedamaian di kampung kami dan atas perdamaian di antara kita.”
Shafiyyah memandang sosok wajah di depannya itu seakan tak percaya. Wanita Yahudi itu belum lama dikenalnya selepas benteng Khaibar ditaklukkan kaum muslimin. “Hadiah macam apa, wahai Zainab?” tanya bibi Nabi itu.
“Sebuah kambing panggang yang lezat,” kata Zainab bersungguh-sungguh. Matanya bertabur binar. “O, ya. Bagian tubuh kambing mana yang paling disukai Rasulullah, Shafiyyah?”
Shafiyyah tampak berpikir sesaat. “Tidak ada yang lebih disukai Rasulullah melebihi lengannya.”
Wanita tua itu pun tersenyum. Dibakarnya kambing itu dengan sempurna. Meresapkan campuran racun yang telah dioleskannya ke setiap serat daging dan tulang. Terutama lengan-lengan itu.
Ia lalu mengenakan perhiasan paling indah yang pernah ia punya, membawakan kambing panggang itu kepada Shafiyyah, dan memintanya untuk diberikan kepada Rasulullah SAW sebagai tanda terima kasih.
***
Siang itu Rasulullah datang ke tempat Shafiyyah. Bisyr bin Barra’ tampak bersamanya. Shafiyyah pun menghidangkan kambing panggang itu kepada keduanya.
“Apa ini, wahai ibu saudaraku?” tanya lelaki kinasih itu.
“Ini hadiah, ya Abal Qashim,” jawab Shafiyyah.
Dengan tangannya yang mulia, ia kemudian mencomot bagian lengan. Lantas menggigitnya. Bisyr pun mengikutinya, mengambil sekerat daging, menggigitnya dan mengunyahnya. Lalu menelannya.
“Angkat tangan kalian!” seru Rasulullah tiba-tiba sambil memuntahkan segumpal daging di mulutnya. “Lengan kambing ini telah memberitahuku bahwa kematianku telah diberitakan di dalamnya.”
Bisyr tetap menelan daging di mulutnya. “Demi dzat yang telah memuliakanmu. Aku telah mendapatinya dalam makanan yang kumakan dan aku akan memuntahkannya, aku khawatir engkau mengira makanan kesenanganmu tidak aku sukai,” jawab sahabat itu. “Aku tidak akan mementingkan diriku atas dirimu dengan mengharapkanmu menjadi korban. Biarlah aku saja, ya Rasulullah!”
Rasul pun menanyakan asal kambing itu pada Shafiyyah. Bibinya itu pun menyebut sebuah nama. “Dia Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam!”
***
Agaknya tidak ada Nabi sebanyak yang diutus untuk mendakwahi Bani Israel, nenek moyang kaum Yahudi. Meski begitu, mereka selalu saja membuat ulah, mengingkari ayat-ayat Allah, membangkang perintahNya, dan menyelewengkan ajaranNya. Bahkan tak cukup sampai di situ saja, mereka pun dengan kejam membunuh para Nabi. (Q.S. Al-Baqarah: 61).
Hal itu, nampaknya terus berlangsung hingga detik ini. Bahkan hingga dunia berakhir kelak sesaat setelah orang Yahudi terakhir terbunuh di bawah bayang pohon Gharqat.
Ruth Anderson, wartawan penulis dari The Palestine Chronicle, dengan penuh kegetiran menulis, “… Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu, kecuali orang-orang Israel dan Amerika.” Begitulah Rizki Ridyasmara mengutip majalah online itu dalam bukunya Knight Templar Knight of Christ. Itulah mengapa, tulisnya lebih lanjut, Israel dengan dukungan penuh Amerika setiap hari terus saja membunuhi bayi-bayi Palestina dengan dalih memerangi terorisme. Mereka adalah tunas-tunas yang akan tumbuh dan pada gilirannya menjadi penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia.
Reagan, Clinton, dan dua Bush adalah orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat (janji) Tuhan seperti tercantum dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Ketika terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia nanti, antara Tuhan melawan Iblis, maka Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Karena itu, mereka harus melempangkan jalan bagi suatu hari dimana Kristus akan datang kedua kalinya ke bumi. Tak lain di tanah Palestina. Bekerjasama dengan Yahudi Israel, Amerika pun berupaya menguasai tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya pada orang-orang Yahudi untuk rencana besar itu. Bukankah kaum Yahudi yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin? (Q.S. Al-Maidah: 82)
Inilah konspirasi global. Ini adalah tipu-daya yang telah berusia ribuan tahun. Hingga kalian mengikuti millah mereka, begitu Al-Qur’an menulis (Q.S. Al-Baqarah: 120). Konspirasi ini sudah dimulai sejak Samiri menciptakan patung sapi emas untuk menandingi Tuhan ketika Nabi Musa menuju Thursina. Bahkan Harun Yahya mencatat bibitnya sudah ada jauh sebelumnya ketika zaman Mesir Kuno. Ada yang menyebut, mereka itulah kaum Kabbalah, yang menjadi biang-kerok perubahan Taurat, penulisan Talmud yang sarat dengan kesesatan, menjunjung tinggi kaumnya dan menganggap kaum di luar mereka sebagai ghoyim (manusia kelas dua), yang boleh dijadikan budak ataupun sekalian dibinasakan. Tak heran jika Ralph Schoenman menulis dalam The Hidden History of Zionism pada 1988, bahwa antara 29 Nopember 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas PBB, hingga 15 Mei 1948, jumlah orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 orang!
Akar konspirasi ribuan tahun itulah yang kemudian melahirkan dalam sejarah apa yang disebut Biara Sion, Orde Ksatria Templar, Fremason, kelompok Neo-Con di Amerika, Judeo-Christian atau Zionis-Kristen, Oikumene negeri-negeri Eropa dan sebagainya yang membawa kita pergi jauh ke masa silam ketika Fir’aun disembah sebagai Tuhan dan Samiri menciptakan Tuhan berupa patung sapi emas. Oleh karena itu, pengkhianatan Yahudi Bani Quraidah, Bani Nadzir, termasuk upaya meracuni Rasulullah SAW yang dilakukan Zainab binti Harits, adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan untuk membungkam dakwah kepada al-haq ini. Juga penindasan di Palestina, peristiwa 9/11, penyerbuan Afghanistan dan Irak dan sebagainya.
Jangan lupa kalau itu juga termasuk tontotan TV yang melenakan di sudut kamar kita.
***
“Apakah kamu yang meracuni kambing ini?”
Zainab binti Harits, tanpa berusaha mengelak, menjawab, “Benar. Siapa yang memberitahumu?”
Rasul yang agung itu pun menjawab, ”Aku diberitahu oleh yang ada di tanganku ini.” Beliau lalu menunjuk lengan kambing itu dan bertanya, “Apa maksudmu meracuni kambing ini?”
Wanita itu lantas menceritakan nasib yang menimpa keluarganya dalam perang Khaibar. “Engkau telah melakukan hal yang sangat tragis kepada kaumku. Lalu aku berkata, ‘Jika dia seorang Nabi, dia tidak akan dapat diracun dan akan diberitahu. Namun jika ia bukan Nabi, kami akan beristirahat dari mengurusinya.’”
Mendengar penuturan Zainab, dan tak seorang pun terbunuh saat itu, maka Rasulullah pun melepaskan Zainab dan membiarkannya pergi*.
***
* Dalam sebuah riwayat, ketika beberapa hari kemudian Bisyr bin Barra meninggal karena racun yang menyebar di tubuhnya, maka Zainab pun dihukum bunuh (qishash).
