You are currently browsing the category archive for the 'Keberanian' category.

“Hudzail! Hudzail! Hudzail!”

Utusan dari Adhal dan Qarah itu tiba-tiba berteriak-teriak, seperti seorang kepala perampok memanggil gerombolan tengiknya. Seketika bermunculan orang-orang Bani Hudzail di sekeliling mereka, beramai-ramai, serasa seperti keluar begitu saja dari dalam bumi tempat mereka berpijak. Tak kurang 200 orang berwajah tak ramah kini meringsek maju mendekati mereka. Pedang-pedang terhunus dan teracung di tangan. Pasukan yang tiba-tiba muncul itu bergerak merapat membentuk formasi lingkaran, membuat rombongan kecil itu terkepung tanpa celah untuk meloloskan diri.

Ashim bin Tsabit, Martsad bin Abi Martsad, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, Khalid bin Bukair, dan Abdullah bin Thariq merapatkan tubuh mereka satu dengan lainnya. Naluri mereka sama: ini sebuah jebakan! Mereka telah masuk perangkap utusan Adhal dan Qarah yang telah meminta Nabi mengirim utusan untuk mengajari mereka akan Islam. Semua itu ternyata hanyalah dusta!

Keenam sahabat yang dipilih Nabi sebagai utusan itu pun mencabut pedang masing-masing: senjata yang biasa mereka bawa, yang sama sekali tak memadai untuk bertempur menghadapi musuh dalam peperangan. Karena itu, melawan dua ratus orang bersenjata lengkap adalah hal gila yang pernah mereka putuskan dalam hidup. Tetapi, buat mereka tak ada pilihan lain. Lebih baik berputih mata berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Mereka pun bertarung sengit, melayani serangan demi serangan yang datang tak seimbang, mengikhlaskan luka demi luka tergores dan tertoreh di badan mereka.

“Kami tidak memerangi kamu sekalian!” seru seorang dari pengepung itu. ”Demi Allah, kami tidak akan membunuh kalian! Tetapi kami hanya bermaksud mencari upah dari orang-orang Quraisy Mekah terhadap diri kalian!”

Tetapi keenam sahabat itu sudah menulikan telinga mereka. Tak ada perkataan yang layak dipercaya di belakang dusta. Mereka dengan gagah berani meladeni musuh yang silih berganti datang menyerang dari segala sudut.

”Kami tidak akan membunuh kalian!” seru seorang musuh diantara percik denting pedang yang sengit beradu. ”Kami hendak mengantarkan kalian kembali ke Mekah. Kembali kepada keluarga kalian sendiri!”

Kembali ke Mekah sebagai tawanan Quraisy adalah aib besar dan kehinaan yang tak bisa mereka terima. Mereka lalu menjawab perkataan itu dengan lebih sengit meningkatkan serangan terhadap musuh. Tetapi, apalah daya enam orang melawan berpuluh kali lipat musuh yang mengepung mereka. Lambat laun, serangan mereka pun semakin lemah. Dan pada gilirannya, pedang-pedang musuh menghunjam tubuh mereka satu demi satu.

”Mati itu haq dan hidup itu bathil,” jawab Ashim bin Tsabit di tengah serangan musuh. ”Tiap-tiap apa yang telah diputuskan Tuhan, tentu datang pada seseorang dan orang itu pasti kembali kepada-Nya!” Itulah kata-kata terakhir sebelum Ashim akhirnya gugur. Khalid pun menyusul bersimbah darah berkalang tanah. Demikian juga Martsad ambruk tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya. Pasukan tengik itu pun segera mengerubut ketiga sahabat yang tersisa, yang terus mengadakan perlawanan. Ketiganya berhasil diringkus, ditangkap, dan diikat dengan tali yang kuat, dan digelandang menuju Mekah sebagai tawanan.

Di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan ikatan tangannya. Ia segera menghunus pedang dan menyerang kembali pengawal di sekelilingnya. Ia pun dikeroyok puluhan orang, dilempari bertubi batu-batu besar, hingga akhirnya rebah, jatuh terhempas ke atas tanah dengan koyakan luka menganga di setiap bagian tubuhnya.

***

Hari itu Khubaib dibawa keluar dari kota Mekah. Seluruh tubuhnya masih ngilu dan pedih diantara luka yang belum sembuh, bekas aniaya dan siksaan Hujair bin Ihab, seorang dari keturunan al-Harits. Khubaib menjadi tumbal balas dendam atas kematian Uqbah bin al-Harits di tangan kaum muslimin dalam sebuah pertempuran.

Pada suatu tempat telah berkumpul segenap ketua dan kepala kabilah Quraisy atas undangan Hujair. Sebuah panggung bertiang gantungan telah disiapkan untuk Khubaib, ditonton oleh sekalian orang dari kalangan Quraisy. Khubaib dengan tenang memandang berkeliling tempat itu. Tak ada sedikit pun rasa takut hinggap di hatinya. Ia pun mengajukan sebuah permintaan terakhir kepada mereka. ”Tinggalkan aku barang sebentar, aku akan mengerjakan shalat.”

Segenap yang hadir meluluskan permintaannya. Khubaib pun bertakbir, menghadapkan wajahnya kepada sang Khaliq, dan bersujud syahdu menyelesaikan dua rakaat shalat terakhirnya. ”Demi Allah, jika sekiranya aku tidak khawatir bahwa kalian menyangka aku memanjang-manjangkan shalat karena takut dibunuh, niscaya aku menambah dan memperbanyak shalatku,” kata Khubaib seusai shalat kepada mereka yang hadir.

Ia pun diikat dan dinaikkan ke tiang gantungan. Matanya pun berlinang-linang bahagia. Semangat itu masih menyala-nyala sembari melihat kemarahan dan dendam terpancar dari wajah sekalian yang hadir kepadanya.

”Ya Allah! Hitunglah bilangan mereka!” serunya dalam bait doa. “Bunuhlah mereka dengan bercerai-berai. Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari mereka itu!”

Tali dilehernya pun kini dieratkan. Napasnya seperti terhenti di tenggorokan. ”Ya Allah!” serunya dalam sengal kesesakan. ”Beritakanlah dari kami kepada Rasul Engkau!” Lantas ia pun bersyair,

”Maka tidaklah mengapa ketika aku dibunuh dengan Islam;
atas belahan manapun bagi Allah, aku terbunuh.
Dan yang demikian itu, pada Zat Tuhan jika Ia berkehendak,
Ia akan memberkahi atas anggota tubuh yang dipotong-potong.”

Tali pun seketika ditarik. Tubuh itu kini melambung di udara dengan kaki tak menjejak tanah. Tergantung dengan leher nyaris patah dan napas terputus satu demi satu. Khubaib pun rela menemui syahid demi selembar iman yang terhunjam di dalam dada.

***

Hidup adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, hidup penuh kemuliaan dan kehormatan adalah sebuah pilihan hidup yang lebih baik. Mati pun adalah sebuah kepastian. Tetapi, mati secara syahid, membela iman di dalam dada, adalah sebuah pilihan mati yang jauh lebih baik.

Sekedar hidup atau sekedar mati begitu saja, karenanya, hanyalah kesia-siaan belaka. Sebuah kesalahan besar seseorang dalam hidup. Karena itu, dalam hidup, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan. Pun demikian dalam menggapai kematian, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan; agar hidup atau mati itu menjadi bermakna.

’Isy Kâriman au Mut Syâhidan!

Jika tak bisa hidup penuh kehormatan dan kemuliaan, berkalang tanah sebagai syahid adalah pilihan yang lebih baik. Bahkan syahid adalah cita-cita seorang muslim.

Hanyalah ketika dalam posisi yang notabene tak berdayalah seseorang justru akan teruji betul terhadap kesetiaannya pada apa yang dibela dan diperjuangkan. Apatah ia dalam kondisi serba kekurangan, serba dalam keterbatasan, kelaparan yang amat sangat, atau tak berpunya apa-apa. Dalam kondisi seperti ini, idealismenya akan perjuangan dan apa-apa yang dibelanya berada di ujung tanduk. Sedikit saja ia salah mengambil keputusan, maka tergelincirlah dia.

Dan kondisi paling kritis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hidup atau mati. Bagaimanapun, mati adalah keniscayaan yang kebanyakan orang takut kepadanya. Keniscayaan yang bakal pasti datangnya, tetapi orang seringkali lupa bahwa ia suatu saat akan datang tanpa diundang. Justru pada kondisi seperti inilah, ujian terberat terhadap idealisme dilangsungkan.

Itulah yang terjadi dengan keenam sahabat yang dikirim Nabi ke kabilah Bani Hudzail untuk mengajarkan Islam itu. Ketika dihadapkan pada 200 orang bersenjata yang menjebak mengepung mereka, maka kematian sudah pasti di pelupuk mata. Bagaimana tidak? Enam orang melawan dua ratus orang adalah hal yang secara nalar mustahil bisa selamat kecuali mengorbankan idealisme atau terjadi hal-hal yang luar biasa atas izin Allah. Dan keenam pahlawan dalam peritiwa Ar-Raji itu memilih memperjuangkan idealismenya hingga tetes darah penghabisan. Mereka memilih mempertahankan iman di dalam dadanya dan rela menyerahkan nyawanya demi seorang yang dicintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri.

***

”Hai Zaid!” kata Abu Sufyan. ”Apakah sekarang ini kamu suka jika sahabatmu, Muhammad, dijadikan ganti dirimu untuk dipotong batang lehernya, dan kamu pulang dan bersenang-senang di rumah keluargamu?”

Tiba-tiba saja Abu Sufyan datang tepat sebelum Nasthas, budak Shafwan bin Umayyah, membunuhnya. Dedengkot Quraisy itu datang menawarkan ampunan dan kebebasan asal ia meninggalkan Islam.

Zaid bin Datsinah tersenyum dan menjawab dengan tegas, ”Hmm, demi Allah! Tidak sekali-kali aku suka Nabiku Muhammad terkena sakit, bahkan lantaran tusukan sebatang duri sekalipun di atas tubuhnya, sementara aku bersenang-senang bersama keluargaku.”

Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya berkata, ”Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mencintai sahabatnya sebagaimana sahabat Muhammad mencintai dirinya.”

Nasthas pun langsung menuntaskan tugasnya. Zaid mati seketika, menggapai syahid, menyusul kelima sahabatnya menuju pintu surga.

***

Gua Tsur“Ada apa, wahai Abu Quhafah?” tanya Rasulullah heran. “Aku tidak mengerti akan perbuatanmu ini!”

Lepas dari Makkah, kedua lelaki itu segera menyusur jalan menuju Yatsrib di Utara. Menuju tanah yang ditunjukkan Tuhan seperti Musa membelah Laut Merah menuju tanah yang dijanjikan di seberang lautan yang terbelah. Sesekali Abu Bakar berjalan di depan lelaki yang dicintainya itu. Sebentar kemudian putra Abu Quhafah itu pindah di belakangnya. Sebentar kemudian, ia pindah di kanannya. Sebentar kemudian pindah pula di sisi kirinya. Demikian itu dilakukannya berulang-ulang.

“Ya, Rasulullah!” jawab Abu Bakar. “Saya teringat akan pengintai, maka saya ada di depan engkau. Saya teringat akan para pencari, maka saya ada di belakang engkau. Sesekali saya di kanan engkau. Sesekali saya di kiri engkau.”

Sampailah mereka pada malam yang larut. Gelap pekat membungkus bumi. Tak ada seberkas sinar pun di sekeliling mereka kecuali kerlip bintang di langit sahara bulan Shafar. Gunung Tsur yang kini menjulang di hadapan keduanya serupa raksasa hitam yang berdiri kokoh dan angkuh, siap menerkam bulat-bulat. Senyap menyergap. Sunyi. Tak ada suara yang tertangkap telinga kecuali derap langkah kaki telanjang mereka pada kerontang tanah padang pasir sepanjang jalan.
Kedua orang itu lantas mendaki raksasa hitam di hadapan mereka dan menemukan sebuah lubang besar di perutnya. Orang-orang menyebutnya Gua Tsur. Sebuah gua yang terkenal berbahaya karena di dalamnya berisikan binatang liar dan buas, terutama ular-ular berbisa. Tak seorang pun mau memasuki lubang itu, menyerahkan tubuhnya tercabik dan nyawanya hilang percuma pada sekelompok ular kelaparan.

Abu Bakar lantas meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk memeriksa bagian dalam gua itu. Lelaki kinasih itu pun mengiyakan. Masih membekas dalam ingatannya, bagaimana teman seperjalanannya itu menjaga dirinya ketika keluar dari Makkah beberapa saat yang lalu. Ia kini memasang badan memasuki sebuah gua yang mungkin tak seorang pun pernah merambahnya. Segala sesuatu bisa terjadi pada laki-laki itu. Tapi bagaimanapun mereka perlu tempat berteduh, bermalam, sekaligus bersembunyi. Orang-orang Quraisy Makkah pasti sedang disebar ke segenap penjuru untuk mencari jejak-jejak kaki mereka, memburu, dan menangkap mereka hidup atau mati.

Abu Bakar lalu membersihkan bagian dalam gua itu dari semak-perdu dan kotoran. Ia mengoyak kain bajunya untuk alas mengambil dan memindah batu demi batu yang teronggok di sana. Sesobek demi sesobek. Secarik demi secarik. Bagaimanapun, di dalam ruang yang gelap seperti itu siapa yang bisa membedakan antara sebongkah batu dengan ular yang sedang bertapa?

Kini seluruh bagian bajunya sudah terkoyak habis. Namun masih ada seonggok batu yang belum terpindahkan. Ia sepakkan kakinya untuk memindah batu itu. Namun tiba-tiba … crep! Seekor ular menyarangkan mulut bertaringnya dan mematuk kaki laki-laki itu. Luka pun menganga. Bekas gigitan tercipta dengan luka menetes darah. Bisa pun bertukar tempat dan kini bersemayam dalam aliran darah laki-laki itu.

Tanpa mengindahkan keadaannya, Abu Bakar mempersilakan lelaki kinasihnya itu masuk ke dalam gua. Rasulullah pun segera tertidur di pangkuan laki-laki itu karena saking payahnya.

Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya.

Terkejut lelaki kinasih itu. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” tanyanya penuh keheranan.

Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, “Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”

“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.

Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”

***

True love doesn’t need words, true love can speak for itself. Cinta sejati tak perlu ‘dikatakan’, karena cinta yang sebenar-benar cinta bisa berbicara tentang dirinya sendiri.

Orang boleh mengobral kata ketika mengungkapkan rasa cinta. Orang sah-sah saja menulis berlembar surat dan menumpahkan segala perasaan cintanya pada seseorang lewat tulisan itu. Tetapi jika semuanya berhenti hanya dalam bentuk demikian, maka rasa cinta itu tak lebih dari sebatas artifisial belaka. Ia cinta cap tong kosong. Rapuh dan hanya nyaring bunyinya.

Karena itu, cinta pada hakikatnya adalah pengorbanan. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Postulat ini sudah begitu mendarah daging dalam jagad percintaan. Cinta karenanya bukanlah jalan di tempat. Ia harus bergerak. Ia harus dibuktikan. Itulah mengapa seseorang rela menyelam ke dasar lautan, terbang menembus batas langit, berjalan bermil-mil mengitari bumi hingga ke ujungnya karena cinta yang sedemikian.

Dan puncak dari pengorbanan itu kiranya adalah pertaruhan nyawa. Puncak pengorbanan adalah ketika nyawa direlakan untuk keselamatan yang dicinta. Cinta ibunda kepada anaknya adalah contoh yang paling nyata. Saat melahirkannya, sang Ibunda ikhlas sepenuh hati seandainya terambil nyawanya sekalipun, asal anak yang dikandungnya selamat terlahir ke dunia.

Adakah pengorbanan demi cinta yang lebih besar dari itu semua?

Abu Bakar mendemonstrasikan cinta yang tak terukur itu empat belas abad yang lalu. Dalam gelap gua. Ia rela menahan perih dan lara yang tak terkira. Lebih dari itu, ia ikhlas meregang nyawa ketika bisa ular itu bekerja menyusuri aliran darahnya hingga membuat bengkak di kakinya, hanya karena tidak ingin tidur Rasulullah, seorang yang dicintanya melebihi siapapun, terusik di atas pangkuannya. Ia mengorbankan nyawanya hanya karena “takut membangunkan” Rasulullah! Amboi, betapa tidak sepadannya antara nyawa dan tidur yang terusik?

Tidaklah heran jika sahabat yang satu ini sangat tinggi kedudukannya di mata Rasulullah Saw dan para sahabat. Kepadanyalah kita patut belajar tentang cinta.

***

Fajar menyingsing. Sinarnya memasuki celah-celah gua itu.

Rasulullah pun memeriksa bengkak luka di kaki Abu Bakar. Lelaki kinasih itu lalu mengusap luka itu perlahan dengan tangannya. Seketika itu juga lenyaplah segala perih dan bengkak luka itu. Abu Bakar merasakan kakinya telah kembali seperti semula tanpa sakit yang tersisa.

Kemudian Rasulullah melihat pakaian sahabatnya yang telah habis terkoyak. “Mengapa pakaianmu, wahai Abu Bakar?”

Abu Bakar pun menceritakan semuanya yang telah terjadi.

Demi mendengar cerita lelaki budiman itu, Rasulullah pun mengangkat tangan seraya mengucap doa, “Ya Allah! Jadikanlah Abu Bakar kelak di Hari Kiamat pada derajat (pangkat)ku!”

***

Hari itu Sabtu, akhir bulan Shafar, tahun ke-13 setelah kenabian.

Darun Nadwah hari itu begitu riuh. Seratus dedengkot kepala kabilah Arab di kota Mekah dan sekitarnya hadir berkumpul. Tak ada satu kabilah pun yang tak datang kecuali mengutus perwakilannya. Tak ayal lagi, ini adalah majelis terbesar yang mewakili suara seluruh kabilah Arab. Karena bagaimanapun, tidak ada agenda pembicaraan hari itu kecuali: mencari cara bagaimana membungkam lelaki Bani Hasyim itu untuk selama-lamanya!

Pada saat yang sama, seorang lelaki berjalan terburu-buru ke arah rumah Abu Bakar. Ia menutupi muka dan kepalanya di bawah terik matahari yang membakar. Lantas dengan suara keras, ia memanggil-manggil sahabatnya itu.

“Wahai Abu Quhafah,” kata lelaki itu begitu Abu Bakar menyongsongnya dengan bergegas. Wajah sang pemiliki rumah masih diliputi keheranan, karena Rasulullah datang tidak seperti biasanya. “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah ke Madinah.”

Dengan berseri, Abu Bakar menyahut, “Berkawan dengan saya, ya Rasulullah?”

Lelaki itu pun menjawab, “Ya, dengan izin Allah.”

Tiba-tiba Abu Bakar menangis tersedu. Betapa sudah berbilang bulan ia menantikan hari itu, hari ketika Allah mengizinkan berhijrah bersama lelaki yang dicintainya itu ke negeri Yatsrib di utara.

Seperti tersadar, tiba-tiba Abu Bakar berkata, “Ya Rasulullah! Ambillah salah satu dari kedua ekor unta saya untuk kendaraan engkau.”

“Tidak, ya Abu Bakar,” jawab Rasulullah. “Aku tidak akan mengambilnya kecuali dengan membelinya lebih dulu darimu seharga ketika engkau membelinya.” Lelaki kinasih itu lantas memilih salah satu dari kedua unta itu dan membelinya seharga 800 dirham. Ia lalu bergegas kembali ke rumahnya*.

***

Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala. Terang berangsur bertukar dengan gelap. Dan Mekah pun segera dibekap gelapnya malam.

Serombongan pemuda terpilih dipimpin Khalid bin Walid segera datang ke rumah Rasulullah. Mereka bersenjata lengkap di tangan. Lalu berbondong seratus orang kepala kabilah Quraisy mengiringi para pemuda itu. Mereka lalu menyebar, mengepung rapat kediaman lelaki agung itu dari depan, belakang, kiri, dan kanan. Tak ada celah yang tersisa untuk dirinya lewat kecuali berpuluh pedang siap menebasnya.

Di dalam rumah, Rasulullah dengan suara perlahan meminta Ali bin Abi Thalib yang telah hadir untuk tidur di tempat tidurnya. “Tidurlah di tempat tidurku berselimutkan kain Hadramiku!” kata lelaki itu. “Tidak akan mengenai dirimu sesuatu yang tidak kau sukai dari mereka, Ali.”

Pemuda itu mengangguk, lantas berbaring di tempat tidur Rasulullah dan berselimutkan kain hijau dari Hadramaut. Tanpa ragu. Padahal seratus pedang terhunus haus darah di luar rumah siap menerkamnya sewaktu-waktu. Tugas lain dari Rasulullah masih menantinya esok hari untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan orang kepada beliau ke masing-masing pemiliknya.

Sementara itu, Abu Jahal berteriak-teriak dari luar rumah. “Muhammad menyangka jika kita mengikutinya, kita akan menjadi penguasa atas bangsa Arab dan menjadi raja atas bangsa-bangsa lain. Jika kita mati, kita akan dihidupkan kembali, lalu dimasukkan ke dalam surga. Di sana kita akan diberi makanan yang enak, perempuan yang cantik-cantik, pakaian dan perhiasan yang elok. Dan jika kita tidak mengikutinya, kita akan akan dibunuh, dipotong-potong seperti kambing, dan diperlakukan sebagai budak belian oleh dirinya. Sesudah mati, kita akan dibakar dengan api yang panasnya luar biasa di dalam neraka!”

“Ya, aku berkata demikian,” jawab lelaki kinasih itu dari dalam rumah. “Kaulah salah seorang diantara mereka!”

Rasulullah lantas keluar rumah dengan perlahan. Ia mengambil segenggam pasir, lalu menaburkannya ke atas kepala para pemuda terpilih yang mengepungnya sambil membaca, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. 36: 9).

***

Force Majeur atau keadaan kahar adalah suatu keadaan yang di luar prediksi, terjadi tanpa bisa dicegah dan berpotensi merusak atau mengancam sebuah usaha atau pekerjaan sehingga tak mungkin bisa diteruskan lagi. Biasanya di dalam setiap perjanjian kerja sama selalu dicantumkan klausul tentang keadaan luar biasa ini sebagai antisipasi kalau-kalau dalam masa kerja sama ternyata terjadi. Jika benar-benar terjadi, maka ada klausul-klausul yang memberikan dispensasi, kelonggaran-kelonggaran, perpanjangan waktu, dan bentuk-bentuk kemudahan dan permisif lainnya.

Bentuk-bentuk force majeur beragam. Bencana alam, huru-hara, gempa bumi, kebakaran, hingga peperangan. Secara logika, pemberian kelonggaran terhadap keadaan luar biasa seperti ini tentu sangatlah wajar.

Suasana menjelang hijrah Rasulullah adalah saat yang genting. Betapa tidak? Hampir tiap saat, jiwa Rasulullah selalu terancam. Sejak tahu bahwa kaum muslimin secara berangsur hijrah ke Yatsrib, maka kaum musyrikin Quraisy sampai pada pendapat bahwa tidak ada jalan lain untuk menghentikan dakwah ini kecuali terlebih dahulu membinasakan Rasulullah Saw. Maka, tiap saat mereka mengintai Nabi, siang malam, dengan maksud kalau dapat menjumpainya di suatu tempat yang sunyi, maka Nabi hendak dibunuh. Pada peristiwa dakwah Nabi kepada orang-orang yang berhaji di Mina misalnya, beliau dilempari batu dan pasir, dihina, dicacimaki sekeji-kejinya oleh mereka, terutama Abu Lahab. Bahkan Allah sampai menurunkan ayat, “… Allah memelihara kamu (Muhammad) dari (gangguan) manusia.” (Q.S. 5: 67).

Bahkan malam ketika Rasulullah hendak hijrah ke Madinah, sepasukan pemuda perkasa dan para ketua kabilah musyrikin Mekah mengepung rumah beliau dengan senjata terhunus. Apalagi kalau bukan mengincar nyawa beliau? Bukankah ini adalah keadaan kahar yang nyata? Keadaan genting yang jelas-jelas mengancam jiwa, dimana rukhsoh atau kemudahan pada situasi seperti ini wajar diterima.

Tetapi, itulah bedanya Rasulullah Saw., sang qudwatul hasanah. Pada keadaan terjepit itu, beliau kuasa menolak pemberian gratis Abu Bakar berupa seekor unta sebagai tunggangan. Padahal Abu Bakar adalah sahabat dekatnya yang terpercaya, kepada siapa dirinya biasa bertukar pikiran. Situasi saat itu pun menyebabkan sangatlah wajar jika beliau mendapatkan bantuan. Tetapi, kenyataannya: tidak. Beliau hanya mau menerima unta itu dengan jalan jual-beli dan bukan semata hadiah. Itu berarti, Nabi memikirkan efek jangka panjang dalam dakwah jika saja menerima hadiah unta itu dari Abu Bakar. Karena hadiah, bagaimanapun, bisa memicu perasaan keharusan membalas budi. Dan itu sungguh tak baik untuk jalannya dakwah.

Yang kedua, beliau pun masih sempat berpesan kepada Ali bin Abi Thalib sebelum pergi untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan orang kepadanya. Ini adalah akhlak yang luar biasa. Seorang yang tajam pedang sudah teracung di lehernya masih sempat menunaikan amanah yang diberikan orang kepadanya. Andai saja tak dikembalikan, barangkali mereka yang titip sesuatu kepada beliau pun tidak akan menuntut macam-macam karena sangat maklum.

Di tengah merebaknya kasus-kasus grativikasi (istilah hadiah di zaman modern ini, tetapi kebablasan) yang menimpa banyak pejabat saat ini, juga banyaknya amanah yang diabaikan dengan alasan keterpaksaan atau keadaan darurat, maka teladan Rasulullah saat hijrah ke Madinah di atas agaknya layak kita ambil sebagai ibrah.

***

Malam telah bergulir larut. Tiba-tiba seorang lelaki tua datang ke kerumunan pengepung di luar rumah itu, yang bahkan semuanya telah tertidur di tempatnya masing-masing. “Hai orang banyak!” serunya lantang. “Kalian di sini menunggu apa?”

Mereka terperanjat dan geragapan bangun dari tidurnya. Sebagian dari mereka menjawab, “Kami sedang menunggu Muhammad!”

“Mengapa kalian enak-enakan tidur dengan pulasnya?” sergah lelaki asing itu. “Kalau kalian menanti Muhammad di sini, ia tidak akan kalian dapati!”

“Mengapa begitu? Bukankah Muhammad masih di dalam rumah?”

“Oh, betapa kasihannya kalian ini! Muhammad sudah pergi dari tadi!”

“Bagaimana mungkin? Kami tahu Muhammad masih tidur di dalam rumah, mengapa kau bilang sudah pergi?”

Lelaki tua itu lalu berkata, “Kalau kalian tak percaya, cobalah lihat kepala kalian. Siapakah yang menaburkan pasir di atas kepala kalian masing-masing?”

Para pemuda perkasa itu meraba kepalanya, saling memandang satu sama lain, dan menemukan butiran pasir di atas kepalanya masing-masing.

“Kurang ajar!” sungut mereka. Lalu mereka bergegas mengetuk rumah Nabi dengan bertubi dan memanggil dengan kerasnya. “Muhammad! Muhammad! Muhammad!”

Pintu rumah itu pun kemudian dibuka dari dalam. Dengan suara lembut, seorang pemuda yang kemudian muncul di balik pintu bertanya, “Ada apa?”

Para pengepung bersenjata lengkap itu terperanjat. “Mana Muhammad? Mana Muhammad, ya Ali?”

Pemuda itu menjawab, “Entah, aku tidak tahu.”

“Lho, siapakah yang tidur di tempat tidur Muhammad dari tadi?”

“Aku.”

***

Ket.
* Kisah hijrah ini diambil dari satu versi sejarah diantara beberapa versi sejarah hijrah yang sedikit berbeda.