You are currently browsing the category archive for the 'Kesabaran' category.
Category Archive
Sebab Mengalah Belum Tentu Berarti Kalah
April 15, 2008 in Kesabaran, Keteguhan | Leave a comment
“Maha suci Allah, ya Rasulullah!” seru mereka dalam ketidakpuasan setelah memperhatikan rancangan perjanjian itu. “Bagaimana mungkin jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, namun engkau harus menolaknya? Sementara jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka orang-orang musyrik Quraisy karena hendak murtad, mereka tidak harus mengembalikannya kepada engkau?”
Hari ini di bulan Dzulqadah tahun keenam selepas hijrah.
Di Tsanuyyatul Mirar rombongan ihram itu berhenti. Tak kurang 1.400 orang Muhajirin dan Anshar berpakaian serba putih mengelilingi lelaki kinasih itu pada sebuah lembah bernama Hudaibiyah, laksana sekawanan malaikat bersayap cahaya terbang bercengkerama mengitari matahari. Setiap hati telah berazam untuk membela agama Allah hingga titik darah penghabisan. Setiap diri telah bersiap untuk siap bertempur, pantang mundur setapak pun, dan mati berkalang tanah. Satu demi satu, tanpa kecuali, mereka telah berikrar dalam Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon Sidr* di tempat ini.
“Barangsiapa pergi dari kita kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjauhkannya,” jawab lelaki agung itu penuh kearifan. “Dan barangsiapa dari mereka datang kepada kita, lalu kita mengembalikannya kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjadikan keluasaan dan keringanan untuknya.”
Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian itu. Ia lantas mendapati Abu Bakar, berdiri di hadapannya, seperti hendak menerkamnya bulat-bulat.
”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?” tanyanya penasaran tak habis mengerti.
”Benar, wahai Umar!” jawab sahabat terkasih itu. “Beliau adalah Rasulullah!”
”Bukankah kita ini kaum muslimin?”
”Ya, kita ini kaum muslimin.”
”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”
”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”
”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”
Abu Bakar menghela napas sebentar. Menjinakkan sepuluh kuda liar padang pasir mungkin masih lebih mudah ketimbang mengendalikan lelaki di depannya ini ketika sedang naik darah.
”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”
”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar. Namun, ia lantas berlalu mencari Rasulullah. Baginya, rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr, utusan orang Quraisy itu, banyak merugikan kaum muslimin.
”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.
”Benar,” jawab Rasulullah Saw. ” Aku ini Rasulullah.”
”Bukankah kami ini kaum muslimin?”
”Ya, benar.”
”Bukankah mereka itu musyrikin?”
”Ya, betul.”
”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”
Rasulullah Saw. terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda lelaki agung itu sesaat kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”
Umar masih menyela sekali lagi. Lelaki putra al-Khaththab itu belum puas dengan jawaban Nabi. ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”
Sang Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”
Kali ini, Umar terdiam dan tak bertanya lagi.
***
”Tulislah olehmu ’Bismillâhirrahmânirrahîm’ wahai Ali!”
Ali menggerakkan pena di tangannya.
”Aku tidak mengerti ini,” Suhail bin Amr langsung menggerakkan tangannya, memotong ucapan lelaki agung itu. Tangan Ali pun berhenti bergerak. ”Tetapi tulislah ’Bismikallôhumma’.”
Nabi melirik utusan Quraisy Mekah itu. Benar kata orang, Suhail seorang yang cakap, berpembawaan tenang, dan seorang juru runding pilihan. Lalu Rasul pun bersabda, ”Tulislah olehmu ’Bismikallôhumma’ya Ali.”
Ali meneruskan tulisannya sesuai perintah Nabi.
Lelaki kinasih itu lalu melanjutkan sabdanya kepada Ali. ”Tulislah olehmu ’Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr’.”
Suhail kembali menggerakkan tangannya. Ia terlihat tidak senang dengan kalimat ’Muhammad Rasulullah’ itu. ”Demi Allah!” katanya tenang tetapi penuh penekanan, kata demi kata. ”Jika kami mengakui bahwa engkau itu Rasulullah, niscaya kami tidak menghalang-halangimu ke Baitullah dan tidak pula kami memerangimu.”
Angin mengalir perlahan. Segenap yang hadir berkeringat dingin. Di sini, di tempat ini, sebuah peperangan tanpa pedang sedang berlangsung.
Lelaki juru runding Quraisy itu pun melanjutkan kata-katanya, “Karena itu, tulislah ’Muhammad bin Abdullah’.”
“Demi Allah ! Sesungguhnya aku ini benar-benar Rasulullah,” sahut Baginda Nabi seketika, “meskipun kamu mendustakanku sekalipun.”
Sesaat udara seperti berhenti mengalir. Tangan-tangan segera memegang hulu pedang lebih kuat lagi. Keringat berjatuhan setetes demi setetes.
Perintah Rasul pun segera memecah ketegangan. “Hapuskanlah tulisan Rasulullah itu, wahai Ali!”
Ali terhenyak. Juga sekalian sahabat yang hadir. ”Tidak!” kata Ali meski tak berkehendak membantah lelaki agung itu. ”Demi Allah, saya tidak akan mengubahnya, ya Rasulullah!”
Rasul pun mendekati suami Fathimah itu. ”Tunjukkan kepadaku tempatnya, Ali.”
Pemuda itu dengan berat tangan menunjukkan tempat dituliskannya ’Muhammad Rasulullah’ itu kepada Nabi. Tulisan itu kemudian dihapus Nabi dengan tangannya sendiri. Lalu Ali menulis penggantinya ’Muhammad bin Abdullah’.
Rasul pun memerintahkan Ali menuliskan isi perjanjian itu.
”Dengan nama Engkau, ya Allah. Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amr. Keduanya telah berjanji menghindari peperangan atas segala manusia selama sepuluh tahun. Pada masa itu, orang-orang memperoleh keamanan dan sebagian mereka menahan diri atas sebagian yang lain. Barangsiapa dari orang Quraisy yang datang kepada Muhammad dengan tidak seizin walinya, hendaklah Muhammad mengembalikannya kepada mereka; dan barangsiapa dari orang yang beserta Muhammad datang kepada orang Quraisy, kaum Quraisy tidak berkewajiban mengembalikannya kepada Muhammad ….”
Suhail menambahkan, ”Engkau pada tahun ini harus kembali, maka tidak boleh masuk Mekah kepada kami. Tahun depan, kami akan keluar dari Mekah, maka engkau boleh masuk dengan para sahabatmu, lalu berdiam di sana selama tiga hari ….”
***
Orang Jawa boleh jadi benar. Kata mereka, wani ngalah luhur wekasane. Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.
Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:
Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur
Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna.
Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan. Tentu bukan mengalah dalam arti semata-mata karena lemah dan penuh keterbatasan, melainkan dalam konteks stratak, strategi dan taktik dalam perjuangan.
Inilah sikap yang dipraktekkan Rasul ketika perjanjian Hudaibiyah diteken. Secara lahiriah, akad perjanjian itu sangat merugikan kaum muslimin. Bagaimana tidak? Penduduk Mekah yang datang ke Madinah harus dikembalikan ke Mekah. Namun, tidak berlaku sebaliknya. Kaum muslimin yang sudah siap berpakaian ihram harus kembali ke Madinah saat itu juga dan ditolak memasuki Baitullah. Mereka baru boleh berziarah ke tanah suci pada tahun berikutnya.
Tidak heran orang seperti Umar sampai mempertanyakan, ”Bukankah engkau itu Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslimin?”
Namun tidak demikian dengan Rasulullah. Ia memang dihinakan. Direndahkan, sedemikian hingga menulis dirinya sebagai utusan Allah saja ditolak oleh kaum Quraisy. Tetapi, lelaki agung itu tidak meladeninya dengan gelegak kemarahan. Justru ia mengedepankan kelemahlembutan dan cinta kasih, sehingga seperti mengiyakan begitu saja apa yang menjadi kemauan Suhail bin Amr, juru runding pihak Quraisy. Ia mengalah. Apakah ia kalah?
Di atas kertas, orang-orang Quraisy Mekah jelas merasa menang. Tetapi, di sebalik kertas, di tengah lapangan, kenyataan yang terjadi sungguh sangat berkebalikan.
***
Setahun telah lewat. Bulan Dzulqadah tahun ketujuh hijriyah pun hadir.
Rombongan itu kini berjumlah tak kurang dari 2000 orang Muhajirin dan Anshar. Berpakaian ihram serba putih, mereka berbondong dengan penuh kegembiraan menuju gerbang kota Mekah. Rindu yang tertahan akan Baitullah yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun serasa membuncah menunggu tumpah. Masjidil Haram pun menjadi lautan putih dipenuhi sekalian kaum muslimin. Dan talbiyah pun mengalun syahdu memenuhi langit Mekah,
Labbaikallôhumma labbaik
Labbaika lâ syarîka laka labbaik
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka
Lâ syarîka laka
Dari atas Bukit Abi Qubais, Bukit Hira, dan tempat tinggi lainnya di sekeliling Mekah, kaum Quraisy menyaksikan perhelatan akbar itu. Orang yang dulu dihinakan, disakiti, dianiaya, dikejar-kejar, diboikot, diancam bunuh, kini telah kembali dengan kemenangan yang besar. Perjanjian yang mereka buat setahun lalu di Hudaibiyah ternyata tidak membuat cahaya itu redup. Justru sebaliknya, kini makin berpijar menerangi sekalian jazirah Arab.
***
Memilih Mati Untuk Kekasih
April 15, 2008 in Cinta, Iman, Keberanian, Kesabaran | 2 comments
“Hudzail! Hudzail! Hudzail!”
Utusan dari Adhal dan Qarah itu tiba-tiba berteriak-teriak, seperti seorang kepala perampok memanggil gerombolan tengiknya. Seketika bermunculan orang-orang Bani Hudzail di sekeliling mereka, beramai-ramai, serasa seperti keluar begitu saja dari dalam bumi tempat mereka berpijak. Tak kurang 200 orang berwajah tak ramah kini meringsek maju mendekati mereka. Pedang-pedang terhunus dan teracung di tangan. Pasukan yang tiba-tiba muncul itu bergerak merapat membentuk formasi lingkaran, membuat rombongan kecil itu terkepung tanpa celah untuk meloloskan diri.
Ashim bin Tsabit, Martsad bin Abi Martsad, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, Khalid bin Bukair, dan Abdullah bin Thariq merapatkan tubuh mereka satu dengan lainnya. Naluri mereka sama: ini sebuah jebakan! Mereka telah masuk perangkap utusan Adhal dan Qarah yang telah meminta Nabi mengirim utusan untuk mengajari mereka akan Islam. Semua itu ternyata hanyalah dusta!
Keenam sahabat yang dipilih Nabi sebagai utusan itu pun mencabut pedang masing-masing: senjata yang biasa mereka bawa, yang sama sekali tak memadai untuk bertempur menghadapi musuh dalam peperangan. Karena itu, melawan dua ratus orang bersenjata lengkap adalah hal gila yang pernah mereka putuskan dalam hidup. Tetapi, buat mereka tak ada pilihan lain. Lebih baik berputih mata berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Mereka pun bertarung sengit, melayani serangan demi serangan yang datang tak seimbang, mengikhlaskan luka demi luka tergores dan tertoreh di badan mereka.
“Kami tidak memerangi kamu sekalian!” seru seorang dari pengepung itu. ”Demi Allah, kami tidak akan membunuh kalian! Tetapi kami hanya bermaksud mencari upah dari orang-orang Quraisy Mekah terhadap diri kalian!”
Tetapi keenam sahabat itu sudah menulikan telinga mereka. Tak ada perkataan yang layak dipercaya di belakang dusta. Mereka dengan gagah berani meladeni musuh yang silih berganti datang menyerang dari segala sudut.
”Kami tidak akan membunuh kalian!” seru seorang musuh diantara percik denting pedang yang sengit beradu. ”Kami hendak mengantarkan kalian kembali ke Mekah. Kembali kepada keluarga kalian sendiri!”
Kembali ke Mekah sebagai tawanan Quraisy adalah aib besar dan kehinaan yang tak bisa mereka terima. Mereka lalu menjawab perkataan itu dengan lebih sengit meningkatkan serangan terhadap musuh. Tetapi, apalah daya enam orang melawan berpuluh kali lipat musuh yang mengepung mereka. Lambat laun, serangan mereka pun semakin lemah. Dan pada gilirannya, pedang-pedang musuh menghunjam tubuh mereka satu demi satu.
”Mati itu haq dan hidup itu bathil,” jawab Ashim bin Tsabit di tengah serangan musuh. ”Tiap-tiap apa yang telah diputuskan Tuhan, tentu datang pada seseorang dan orang itu pasti kembali kepada-Nya!” Itulah kata-kata terakhir sebelum Ashim akhirnya gugur. Khalid pun menyusul bersimbah darah berkalang tanah. Demikian juga Martsad ambruk tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya. Pasukan tengik itu pun segera mengerubut ketiga sahabat yang tersisa, yang terus mengadakan perlawanan. Ketiganya berhasil diringkus, ditangkap, dan diikat dengan tali yang kuat, dan digelandang menuju Mekah sebagai tawanan.
Di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan ikatan tangannya. Ia segera menghunus pedang dan menyerang kembali pengawal di sekelilingnya. Ia pun dikeroyok puluhan orang, dilempari bertubi batu-batu besar, hingga akhirnya rebah, jatuh terhempas ke atas tanah dengan koyakan luka menganga di setiap bagian tubuhnya.
***
Hari itu Khubaib dibawa keluar dari kota Mekah. Seluruh tubuhnya masih ngilu dan pedih diantara luka yang belum sembuh, bekas aniaya dan siksaan Hujair bin Ihab, seorang dari keturunan al-Harits. Khubaib menjadi tumbal balas dendam atas kematian Uqbah bin al-Harits di tangan kaum muslimin dalam sebuah pertempuran.
Pada suatu tempat telah berkumpul segenap ketua dan kepala kabilah Quraisy atas undangan Hujair. Sebuah panggung bertiang gantungan telah disiapkan untuk Khubaib, ditonton oleh sekalian orang dari kalangan Quraisy. Khubaib dengan tenang memandang berkeliling tempat itu. Tak ada sedikit pun rasa takut hinggap di hatinya. Ia pun mengajukan sebuah permintaan terakhir kepada mereka. ”Tinggalkan aku barang sebentar, aku akan mengerjakan shalat.”
Segenap yang hadir meluluskan permintaannya. Khubaib pun bertakbir, menghadapkan wajahnya kepada sang Khaliq, dan bersujud syahdu menyelesaikan dua rakaat shalat terakhirnya. ”Demi Allah, jika sekiranya aku tidak khawatir bahwa kalian menyangka aku memanjang-manjangkan shalat karena takut dibunuh, niscaya aku menambah dan memperbanyak shalatku,” kata Khubaib seusai shalat kepada mereka yang hadir.
Ia pun diikat dan dinaikkan ke tiang gantungan. Matanya pun berlinang-linang bahagia. Semangat itu masih menyala-nyala sembari melihat kemarahan dan dendam terpancar dari wajah sekalian yang hadir kepadanya.
”Ya Allah! Hitunglah bilangan mereka!” serunya dalam bait doa. “Bunuhlah mereka dengan bercerai-berai. Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari mereka itu!”
Tali dilehernya pun kini dieratkan. Napasnya seperti terhenti di tenggorokan. ”Ya Allah!” serunya dalam sengal kesesakan. ”Beritakanlah dari kami kepada Rasul Engkau!” Lantas ia pun bersyair,
”Maka tidaklah mengapa ketika aku dibunuh dengan Islam;
atas belahan manapun bagi Allah, aku terbunuh.
Dan yang demikian itu, pada Zat Tuhan jika Ia berkehendak,
Ia akan memberkahi atas anggota tubuh yang dipotong-potong.”
Tali pun seketika ditarik. Tubuh itu kini melambung di udara dengan kaki tak menjejak tanah. Tergantung dengan leher nyaris patah dan napas terputus satu demi satu. Khubaib pun rela menemui syahid demi selembar iman yang terhunjam di dalam dada.
***
Hidup adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, hidup penuh kemuliaan dan kehormatan adalah sebuah pilihan hidup yang lebih baik. Mati pun adalah sebuah kepastian. Tetapi, mati secara syahid, membela iman di dalam dada, adalah sebuah pilihan mati yang jauh lebih baik.
Sekedar hidup atau sekedar mati begitu saja, karenanya, hanyalah kesia-siaan belaka. Sebuah kesalahan besar seseorang dalam hidup. Karena itu, dalam hidup, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan. Pun demikian dalam menggapai kematian, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan; agar hidup atau mati itu menjadi bermakna.
’Isy Kâriman au Mut Syâhidan!
Jika tak bisa hidup penuh kehormatan dan kemuliaan, berkalang tanah sebagai syahid adalah pilihan yang lebih baik. Bahkan syahid adalah cita-cita seorang muslim.
Hanyalah ketika dalam posisi yang notabene tak berdayalah seseorang justru akan teruji betul terhadap kesetiaannya pada apa yang dibela dan diperjuangkan. Apatah ia dalam kondisi serba kekurangan, serba dalam keterbatasan, kelaparan yang amat sangat, atau tak berpunya apa-apa. Dalam kondisi seperti ini, idealismenya akan perjuangan dan apa-apa yang dibelanya berada di ujung tanduk. Sedikit saja ia salah mengambil keputusan, maka tergelincirlah dia.
Dan kondisi paling kritis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hidup atau mati. Bagaimanapun, mati adalah keniscayaan yang kebanyakan orang takut kepadanya. Keniscayaan yang bakal pasti datangnya, tetapi orang seringkali lupa bahwa ia suatu saat akan datang tanpa diundang. Justru pada kondisi seperti inilah, ujian terberat terhadap idealisme dilangsungkan.
Itulah yang terjadi dengan keenam sahabat yang dikirim Nabi ke kabilah Bani Hudzail untuk mengajarkan Islam itu. Ketika dihadapkan pada 200 orang bersenjata yang menjebak mengepung mereka, maka kematian sudah pasti di pelupuk mata. Bagaimana tidak? Enam orang melawan dua ratus orang adalah hal yang secara nalar mustahil bisa selamat kecuali mengorbankan idealisme atau terjadi hal-hal yang luar biasa atas izin Allah. Dan keenam pahlawan dalam peritiwa Ar-Raji itu memilih memperjuangkan idealismenya hingga tetes darah penghabisan. Mereka memilih mempertahankan iman di dalam dadanya dan rela menyerahkan nyawanya demi seorang yang dicintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
***
”Hai Zaid!” kata Abu Sufyan. ”Apakah sekarang ini kamu suka jika sahabatmu, Muhammad, dijadikan ganti dirimu untuk dipotong batang lehernya, dan kamu pulang dan bersenang-senang di rumah keluargamu?”
Tiba-tiba saja Abu Sufyan datang tepat sebelum Nasthas, budak Shafwan bin Umayyah, membunuhnya. Dedengkot Quraisy itu datang menawarkan ampunan dan kebebasan asal ia meninggalkan Islam.
Zaid bin Datsinah tersenyum dan menjawab dengan tegas, ”Hmm, demi Allah! Tidak sekali-kali aku suka Nabiku Muhammad terkena sakit, bahkan lantaran tusukan sebatang duri sekalipun di atas tubuhnya, sementara aku bersenang-senang bersama keluargaku.”
Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya berkata, ”Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mencintai sahabatnya sebagaimana sahabat Muhammad mencintai dirinya.”
Nasthas pun langsung menuntaskan tugasnya. Zaid mati seketika, menggapai syahid, menyusul kelima sahabatnya menuju pintu surga.
***
Ia Yang Selalu Tersenyum
November 28, 2007 in Cinta, Kasih-sayang, Kesabaran, Uswah | Leave a comment
Madinah kering-kerontang. Debu beterbangan di setiap tempat, seperti kabut tipis yang dimainkan angin. Butirannya panas seperti bara ketika memercik wajah, ngilu serta perih ketika bersarang pada sudut mata. Pelepah kurma meranggas-ranggas dengan buahnya berjuntai-juntai mendekati ranum. Sumur-sumur dan kolam air kini tinggal kubangan tanah merekah yang merana dan sepi.
Hujan sudah lama tidak pernah turun.
Suatu hari, orang-orang datang kepada Rasûlullâh Saw. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Rasûlullâh. Hujan sudah lama tidak turun di Madinah. Sudilah kiranya engkau mintakan hujan kepada Rabb engkau!”
Laki-laki itu memandang lekat-lekat kepada setiap wajah yang hadir. Ia lalu memerintahkan mereka untuk memasang mimbar di tanah lapang tempat shalat. Dan sebuah hari telah dipilih agar orang-orang berkumpul di tanah lapang itu.
Hari yang ditetapkan itu pun tiba. Sekalian orang berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing menuju tanah lapang.
Rasul yang mulia itu pun keluar bersama dengan mereka. Ia lalu berdiri di atas mimbar, bertakbir menggelegar, dan bertahmid kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan kekeringan tempat tinggal kalian. Kalian juga mengadukan mundurnya turun hujan dari permulaan waktunya. Sementara Allâh telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk memenuhi permintaan kalian.”
Laki-laki kinasih itu kemudian memandang ke arah langit yang tinggi. Para sahabat yang berkumpul di tanah lapang itu pun menjadi saksi atas langit yang bersih, tempat tak sepotong mendung pun menggantung menghiasinya. Seperti tak ada harapan sedikitpun hujan bakal bisa ditumpahkan dari celah-celahnya.
Rasul Saw. lalu mengangkat kedua belah tangannya. Tinggi-tinggi menunjuk langit, sampai-sampai tampak kulit ketiaknya yang putih bercahaya diterpa sinar matahari. Kemudian ia membelakangi orang-orang dan mengalihkan kain selendangnya. Tangannya tetap terangkat ke udara. Tak lama kemudian, ia membalikkan badannya lagi dan menghadap ke orang banyak. Setelah itu, ia turun dari mimbar dan shalat dua rakaat.
Tiba-tiba, langit yang cerah itu berubah. Mendung berdatangan seperti payung-payung langit. Guntur menggelegar. Kilat menyambar-nyambar. Hujan pun turun deras seperti ditumpahkan dari langit. Tanah-tanah basah. Tempat shalat pun dialiri air yang deras.
Kerumunan di tanah lapang itu pun semburat pergi. Bergegas berlari-lari, pulang ke rumah masing-masing.
Melihat orang-orang yang bergegas pergi, Rasul yang agung itu pun tersenyum, hingga gusinya terlihat. Ia lalu bersabda, “Aku bersaksi bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
***
Hujan pun terus turun dari Jum’at hingga ke Jum’at berikutnya. Seperti dituangkan dari kolam air langit yang sumbernya tak pernah habis, yang tak hendak berhenti. Kota menjadi tergenang oleh air.
Ketika itu, Rasul sedang menyampaikan khutbahnya di masjid. Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Ya, Rasulullah. Kami kini tenggelam sebab hujan yang tak henti-henti. Sudilah kiranya engkau berdoa kepada Rabb engkau agar Ia menghentikan hujan ini dari kami.”
Rasul yang penuh kasih itu pun tersenyum mendengarnya. Lalu laki-laki kinasih itu berdoa, “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan kepada kami.”
Tak lama kemudian, sekumpulan mendung seperti diperintah menyingkir ke arah kiri dan kanan, menjauhi kota Madinah. Hujan pun kini beralih hanya di sekitar kota itu. Dan Madinah seketika reda dari hujan.
***
Mulutmu, Harimaumu.
Itu berarti, mulut adalah sebuah kekuatan dua arah. Di satu sisi, ia bisa mempengaruhi orang lain dengan kekuatannya. Tetapi di sisi lain, jika salah arah, maka sebab mulut, kekuatan itu bisa berbalik arah memakan diri sendiri. Seperti ketika kau salah melepas harimaumu, maka ia sangat mungkin akan menerkam dirimu sendiri.
Karena itu, mulut harus dijaga ketat; tidak saja dalam artian fisik, tetapi juga maknawi. Ia adalah salah satu dari dua lubang yang kita miliki — disamping farji, yang rawan menghantarkan seseorang masuk ke lubang lain yang lebih mengerikan: neraka. Penjagaan itu tidak saja terbatas pada apa yang mulut keluarkan – berupa kata-kata dan segala macam suara – melainkan juga apa yang ia kesankan. Oleh karena itu, kata orang, mulut mampu mengeluarkan berjuta makna bahkan tanpa perlu berkata-kata. Mulut sangat elastis hingga bisa menekuk, mengatup, menganga, memanjang, membentuk huruf O; dimana setiap bentuk mewakili sejuta arti.
Apa yang Anda rasakan jika sedang berbicara dengan seseorang, tetapi mulutnya terkatup rapat dan kaku serupa gembok karatan menguncinya? Atau apa yang Anda rasakan setelah penat peras keringat banting tulang seharian menjumpai putri tercinta menyambut Anda di pintu rumah dengan tawa yang riang?
Itulah kekuatan mulut. Karena itu, bahkan sesungging senyum di bibir mulut yang tulus bisa berarti sangat dalam. Rasûlullâh Saw. sampai-sampai mengatakan bahwa senyuman di bibir yang menghias wajah menjadi sumringah ketika bertemu dengan seseorang merupakan shadaqah.
Bahkan Rasûlullâh Saw. adalah orang yang paling banyak tersenyum. Tetapi senyum beliau adalah senyum ketika saatnya memang layak tersenyum. Paling banter menampakkan gigi atau gusinya, tanpa terbahak-bahak. Senyum yang demikian merupakan senyum yang penuh kharisma.
Aisyah ra. sendiri pernah ditanya seseorang, “Bagaimana keadaan Rasûlullâh saat berada di rumahnya?” Istri baginda tercinta itu menjawab, “Beliau adalah orang yang paling lemah-lembut, paling murah hati, dan tak berbeda dengan seorang laki-laki diantara kalian. Hanya saja, beliau sering tertawa yang berupa senyuman.”
Senyum Rasul itu bahkan terjadi pada banyak situasi dan kondisi. Ahmad Musthafa Qasim ath-Thahthawy menulis dalam Shifatu Dhahki wa Buka’in Nabi wa Muzajuhu Ma’a Ash-habihi, bahwa senyum Rasulullah bisa dikarenakan gembira, hal-hal yang kontradiktif, pemahaman yang tepat, salah paham, canda, dan perbuatan para sahabat beliau. Rasul Saw. pun tersenyum pada musuhnya sekalipun. Ini tentu contoh tersenyum yang sangat berat untuk diteladani.
Bahkan senyum Rasûlullâh Saw. itupun bisa terukir pada sebuah kecamuk peperangan, antara hidup dan mati.
***
Thaif sementara terlalu kuat untuk ditaklukkan. Musuh telah menguasai medan yang berbukit-bukit. Sementara kaum muslimin kesulitan menembusnya, meski sudah mengerahkan pasukan yang cukup banyak jumlahnya.
Rasul Saw. pun lalu bersabda, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”
Segolongan orang dari para sahabat segera menyampaikan keberatannya. “Janganlah engkau pergi petang ini, ya, Rasûlullâh, “ kata mereka sungguh-sungguh, “sebelum kita menaklukkan Thaif!”
Rasul diam sejenak, untuk kemudian bersabda, “Kalau begitu mau kalian, lanjutkan pertempuran besok pagi!”
Maka, ketika matahari menyingsing dari ufuk Timur keesokan harinya, para sahabat pun meneruskan pertempuran. Mereka bertarung dengan sengit melawan tentara musuh. Tetapi, bagaimanapun, musuh terlalu kuat untuk ditundukkan. Bahkan, ketika pertempuran usai, banyak anggota pasukan kaum muslimin yang jatuh terluka.
Rasul pun, sekali lagi, bersabda kepada mereka, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”
Kali ini, para sahabat itu, tak satu pun yang angkat bicara. Semua diam. Membisu.
Rasulullah Saw. yang agung itu pun tersenyum penuh arti.
***
