You are currently browsing the category archive for the 'Keteguhan' category.

“Maha suci Allah, ya Rasulullah!” seru mereka dalam ketidakpuasan setelah memperhatikan rancangan perjanjian itu. “Bagaimana mungkin jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, namun engkau harus menolaknya? Sementara jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka orang-orang musyrik Quraisy karena hendak murtad, mereka tidak harus mengembalikannya kepada engkau?”

Hari ini di bulan Dzulqadah tahun keenam selepas hijrah.

Di Tsanuyyatul Mirar rombongan ihram itu berhenti. Tak kurang 1.400 orang Muhajirin dan Anshar berpakaian serba putih mengelilingi lelaki kinasih itu pada sebuah lembah bernama Hudaibiyah, laksana sekawanan malaikat bersayap cahaya terbang bercengkerama mengitari matahari. Setiap hati telah berazam untuk membela agama Allah hingga titik darah penghabisan. Setiap diri telah bersiap untuk siap bertempur, pantang mundur setapak pun, dan mati berkalang tanah. Satu demi satu, tanpa kecuali, mereka telah berikrar dalam Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon Sidr* di tempat ini.

“Barangsiapa pergi dari kita kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjauhkannya,” jawab lelaki agung itu penuh kearifan. “Dan barangsiapa dari mereka datang kepada kita, lalu kita mengembalikannya kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjadikan keluasaan dan keringanan untuknya.”

Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian itu. Ia lantas mendapati Abu Bakar, berdiri di hadapannya, seperti hendak menerkamnya bulat-bulat.

”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?” tanyanya penasaran tak habis mengerti.

”Benar, wahai Umar!” jawab sahabat terkasih itu. “Beliau adalah Rasulullah!”

”Bukankah kita ini kaum muslimin?”

”Ya, kita ini kaum muslimin.”

”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”

”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”

”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”

Abu Bakar menghela napas sebentar. Menjinakkan sepuluh kuda liar padang pasir mungkin masih lebih mudah ketimbang mengendalikan lelaki di depannya ini ketika sedang naik darah.

”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”

”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar. Namun, ia lantas berlalu mencari Rasulullah. Baginya, rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr, utusan orang Quraisy itu, banyak merugikan kaum muslimin.

”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.

”Benar,” jawab Rasulullah Saw. ” Aku ini Rasulullah.”

”Bukankah kami ini kaum muslimin?”

”Ya, benar.”

”Bukankah mereka itu musyrikin?”

”Ya, betul.”

”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”

Rasulullah Saw. terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda lelaki agung itu sesaat kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”

Umar masih menyela sekali lagi. Lelaki putra al-Khaththab itu belum puas dengan jawaban Nabi. ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”

Sang Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”

Kali ini, Umar terdiam dan tak bertanya lagi.

***

”Tulislah olehmu ’Bismillâhirrahmânirrahîm’ wahai Ali!”

Ali menggerakkan pena di tangannya.

”Aku tidak mengerti ini,” Suhail bin Amr langsung menggerakkan tangannya, memotong ucapan lelaki agung itu. Tangan Ali pun berhenti bergerak. ”Tetapi tulislah ’Bismikallôhumma’.”

Nabi melirik utusan Quraisy Mekah itu. Benar kata orang, Suhail seorang yang cakap, berpembawaan tenang, dan seorang juru runding pilihan. Lalu Rasul pun bersabda, ”Tulislah olehmu ’Bismikallôhumma’ya Ali.”

Ali meneruskan tulisannya sesuai perintah Nabi.

Lelaki kinasih itu lalu melanjutkan sabdanya kepada Ali. ”Tulislah olehmu ’Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr’.”

Suhail kembali menggerakkan tangannya. Ia terlihat tidak senang dengan kalimat ’Muhammad Rasulullah’ itu. ”Demi Allah!” katanya tenang tetapi penuh penekanan, kata demi kata. ”Jika kami mengakui bahwa engkau itu Rasulullah, niscaya kami tidak menghalang-halangimu ke Baitullah dan tidak pula kami memerangimu.”

Angin mengalir perlahan. Segenap yang hadir berkeringat dingin. Di sini, di tempat ini, sebuah peperangan tanpa pedang sedang berlangsung.

Lelaki juru runding Quraisy itu pun melanjutkan kata-katanya, “Karena itu, tulislah ’Muhammad bin Abdullah’.”

“Demi Allah ! Sesungguhnya aku ini benar-benar Rasulullah,” sahut Baginda Nabi seketika, “meskipun kamu mendustakanku sekalipun.”

Sesaat udara seperti berhenti mengalir. Tangan-tangan segera memegang hulu pedang lebih kuat lagi. Keringat berjatuhan setetes demi setetes.

Perintah Rasul pun segera memecah ketegangan. “Hapuskanlah tulisan Rasulullah itu, wahai Ali!”

Ali terhenyak. Juga sekalian sahabat yang hadir. ”Tidak!” kata Ali meski tak berkehendak membantah lelaki agung itu. ”Demi Allah, saya tidak akan mengubahnya, ya Rasulullah!”

Rasul pun mendekati suami Fathimah itu. ”Tunjukkan kepadaku tempatnya, Ali.”

Pemuda itu dengan berat tangan menunjukkan tempat dituliskannya ’Muhammad Rasulullah’ itu kepada Nabi. Tulisan itu kemudian dihapus Nabi dengan tangannya sendiri. Lalu Ali menulis penggantinya ’Muhammad bin Abdullah’.

Rasul pun memerintahkan Ali menuliskan isi perjanjian itu.

”Dengan nama Engkau, ya Allah. Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amr. Keduanya telah berjanji menghindari peperangan atas segala manusia selama sepuluh tahun. Pada masa itu, orang-orang memperoleh keamanan dan sebagian mereka menahan diri atas sebagian yang lain. Barangsiapa dari orang Quraisy yang datang kepada Muhammad dengan tidak seizin walinya, hendaklah Muhammad mengembalikannya kepada mereka; dan barangsiapa dari orang yang beserta Muhammad datang kepada orang Quraisy, kaum Quraisy tidak berkewajiban mengembalikannya kepada Muhammad ….”

Suhail menambahkan, ”Engkau pada tahun ini harus kembali, maka tidak boleh masuk Mekah kepada kami. Tahun depan, kami akan keluar dari Mekah, maka engkau boleh masuk dengan para sahabatmu, lalu berdiam di sana selama tiga hari ….”

***

Orang Jawa boleh jadi benar. Kata mereka, wani ngalah luhur wekasane. Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan.

Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:

Dedalane guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah luhur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur

Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna.

Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan. Tentu bukan mengalah dalam arti semata-mata karena lemah dan penuh keterbatasan, melainkan dalam konteks stratak, strategi dan taktik dalam perjuangan.

Inilah sikap yang dipraktekkan Rasul ketika perjanjian Hudaibiyah diteken. Secara lahiriah, akad perjanjian itu sangat merugikan kaum muslimin. Bagaimana tidak? Penduduk Mekah yang datang ke Madinah harus dikembalikan ke Mekah. Namun, tidak berlaku sebaliknya. Kaum muslimin yang sudah siap berpakaian ihram harus kembali ke Madinah saat itu juga dan ditolak memasuki Baitullah. Mereka baru boleh berziarah ke tanah suci pada tahun berikutnya.

Tidak heran orang seperti Umar sampai mempertanyakan, ”Bukankah engkau itu Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslimin?”

Namun tidak demikian dengan Rasulullah. Ia memang dihinakan. Direndahkan, sedemikian hingga menulis dirinya sebagai utusan Allah saja ditolak oleh kaum Quraisy. Tetapi, lelaki agung itu tidak meladeninya dengan gelegak kemarahan. Justru ia mengedepankan kelemahlembutan dan cinta kasih, sehingga seperti mengiyakan begitu saja apa yang menjadi kemauan Suhail bin Amr, juru runding pihak Quraisy. Ia mengalah. Apakah ia kalah?

Di atas kertas, orang-orang Quraisy Mekah jelas merasa menang. Tetapi, di sebalik kertas, di tengah lapangan, kenyataan yang terjadi sungguh sangat berkebalikan.

***

Setahun telah lewat. Bulan Dzulqadah tahun ketujuh hijriyah pun hadir.

Rombongan itu kini berjumlah tak kurang dari 2000 orang Muhajirin dan Anshar. Berpakaian ihram serba putih, mereka berbondong dengan penuh kegembiraan menuju gerbang kota Mekah. Rindu yang tertahan akan Baitullah yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun serasa membuncah menunggu tumpah. Masjidil Haram pun menjadi lautan putih dipenuhi sekalian kaum muslimin. Dan talbiyah pun mengalun syahdu memenuhi langit Mekah,

Labbaikallôhumma labbaik
Labbaika lâ syarîka laka labbaik
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka
Lâ syarîka laka

Dari atas Bukit Abi Qubais, Bukit Hira, dan tempat tinggi lainnya di sekeliling Mekah, kaum Quraisy menyaksikan perhelatan akbar itu. Orang yang dulu dihinakan, disakiti, dianiaya, dikejar-kejar, diboikot, diancam bunuh, kini telah kembali dengan kemenangan yang besar. Perjanjian yang mereka buat setahun lalu di Hudaibiyah ternyata tidak membuat cahaya itu redup. Justru sebaliknya, kini makin berpijar menerangi sekalian jazirah Arab.

***

6 Syawal selepas penaklukan kota Mekkah yang gemilang.

Abdullah bin Abi Hadrad al-Islami telah kembali tanpa secuil kulit pun yang terluka. Bagaimanapun penyusupannya seorang diri ke dalam pasukan kabilah Hawazin yang telah bersekutu dengan kabilah Tsaqif, Nashr, Jusyam, dan Bani Bakr sama sekali tak terendus. Ia kini bahkan membawa berita penting: sejumlah pasukan besar telah bersiap dengan pedang di tangan. Mereka bermaksud mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Dua puluh ribu orang dengan dua puluh ribu pedang! Di lembah Hunain, lebih dari sehari perjalanan dari Mekkah menuju Thaif.

Nabi SAW segera mempersiapkan pasukan perang. Maka terkumpullah 10.000 personil dari Muhajirin dan Anshar berikut 2.000 orang penduduk Mekkah yang baru saja masuk Islam. Bahkan kaum musyrikin Mekkah pun turut bergabung dalam pasukan Nabi sejumlah 80 orang, termasuk Shafwan bin Umayyah, pada siapa Nabi telah meminjam 100 buah baju besi lengkap dengan persenjataannya.

Pasukan besar itu pun segera bertolak ke Hunain. Barisan berjalan kaki dan barisan pasukan berkuda tentara Islam bergerak serentak diiringi barisan beratus unta yang membawa perbekalan makanan serta persenjataan lengkap. Tiap-tiap kabilah membawa benderanya masing-masing yang berkibar-kibar di tiup angin lembah padang pasir dari balik bukit-bukit. Sementara setiap orang memegang pedang, busur gandewa berikut warastra penuh anak panah, ataupun tombak panjang bermata besi yang berkilat-kilat. Debu-debu beterbangan di setiap hentakan kaki-kaki mereka, membubung tinggi memenuhi langit, meninggalkan jejak yang panjang di belakang barisan.

Setiap wajah terlihat begitu bangga dan gembira. Bagaimanapun, baru sekali itu pasukan muslimin bergerak dalam jumlah yang begitu besar. Persenjataan lengkap. Persediaan makanan dan perlengkapan perang lebih dari cukup. Bahkan pada saat itu, mereka diiringi pula oleh kaum perempuan dari Mekkah yang baru saja masuk Islam. Kekuatan mereka kini hampir empat puluh kali lipat dibanding ketika menghadapi musuh pertama kali di Badar!

Tercetuslah dari mulut sebagian anggota pasukan dalam perjalanan itu di tengah debu-debu yang beterbangan, “Kita yakin, kemenangan pasti jatuh ke tangan kita. Pihak musuh tidak akan dapat mengalahkan kita.”

 

***

Pagi menyingsing. Namun gelap pekat masih membayang, karena matahari belum juga muncul di ufuk timur. Hunain yang berbukit-bukit sudah di depan kelopak mata pasukan muslimin.

Setelah beristirahat dalam semalam, Nabi SAW lalu memberangkatkan lebih dulu pasukan Khalid bin Walid dan kabilah Bani Sulaim. Nabi beserta sekalian Muhajirin dan Anshar berada di barisan belakang mereka.

Kedua pasukan pelopor itu tak lama kemudian menuruni gurun Tihamah. Pedang-pedang masih berada dalam sarungnya. Tombak-tombak masih teracung ke atas. Busur panah masih dalam kalungan di dada. Namun, belum genap kaki dilangkahkan menuruni gurun, seketika terdengar suara menggemuruh membelah udara yang dingin dan gelap. Beberapa anggota pasukan tiba-tiba sudah bertumbangan tanpa sadar dan sempat mengelak. Panah-panah tertancap di tubuh-tubuh mereka!

Teriakan histeris lantas menggema memenuhi gurun itu! Ribuan panah terus datang susul-menyusul. Seketika puluhan tubuh berjatuhan mencium tanah yang kering seperti pohon-pohon yang ditumbangkan serentak. Pasukan kocar-kacir di tengah kepanikan dan ketakutan. Juga kegelapan pagi. Mereka tak dapat melihat dimana lawan dan dari arah mana panah-panah itu diluncurkan. Bahkan karenanya, anggota pasukan muslimin saling baku hantam dengan kawan sendiri!

Mereka kemudian lari tunggang-langgang meninggalkan medan peperangan demi sepotong nyawa yang masih tersisa. Lari ke garis belakang dan melupakan rasa malu! Musuh pun turun dari bukit dan keluar dari gua-gua tersembunyi, mengejar pasukan besar yang tercerai-berai itu, dan menghujaninya dengan panah-panah maut. Jerit kematian pun datang susul-menyusul.

Nabi SAW segera berseru dari atas bighal-nya, “Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?”

Pasukan yang kocar-kacir itu pun masih terus mundur menyelamatkan diri mereka sendiri-sendiri.

“Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?” Sekali lagi Nabi berseru. “Marilah kalian datang kepadaku. Aku Rasulullah! Aku Muhammad bin Abdullah!”

Teriakan Nabi itu seperti hilang tertelan hiruk-pikuk pasukan yang tengah putus-asa. Lari tak terkendali. Telinga mereka seperti tuli, tak mendengar sedikitpun seruan Nabi. Bahkan karenanya, justru pasukan musuhlah yang kini mengarahkan serangannya pada diri lelaki yang agung itu!

Dan Nabi kini dalam bahaya!

 

***

Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang seseorang yang membocorkan dasar kapal ketika rasa hausnya tak segera terlampiaskan. Tak ada air di dalam kapal itu yang bisa ia teguk kecuali air lautan. Namun, tindakan itu justru telah menenggelamkan tidak saja dirinya sendiri, melainkan seluruh penumpang dan isi kapal.

Begitulah jika gerak perjuangan sebuah kelompok (jama’ah) ternoda meski hanya dilakukan oleh segelintir anggota. Bukankah Nabi pernah bersabda, bahwa setiap muslim ibaratnya adalah anggota tubuh? Sakit salah satu diantaranya, maka sakit pula seluruh tubuh itu. Maka apa yang dilakukan oleh salah seorang diantaranya berpengaruh pada kaum muslimin secara keseluruhan.

Banyak peperangan kaum muslimin dengan musuhnya telah mengajarkan bahwa jumlah yang besar saja belum tentu menang. Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang begitu besar berlipat-lipat dengan izin dan pertolongan Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah: 249). Di Badar, Khandaq, Khaibar, juga Mu’tah. Dan pada perang Uhud pun kaum muslimin sebenarnya sudah pernah mendapatkan pelajaran berharga, bagaimana ketika perintah dilanggar oleh segelintir pemanah dapat mencelakakan seluruh pasukan.

Itulah yang kemudian terjadi pada Perang Hunain. Jumlah pasukan muslimin yang begitu besar dengan persenjataan dan perlengkapan yang lengkap telah membuat takjub, bangga dan sombong sebagian anggota pasukan. Sebagian anggota saja! Namun kebesaran pasukan itu seperti tak ada artinya ketika ternyata harus kocar-kacir oleh serangan musuh yang tidak disangka-sangka datangnya. Bahkan, mereka sempat lari terbirit-birit meninggalkan medan peperangan.

Hanya karena izin Allah SWT dan kokohnya pendirian Nabi SAW sajalah situasi kacay ini akhirnya dapat berbalik dan pulih kembali.

 

***

Keadaan semakin genting dan sulit. Nabi tetap bergeming di atas bighal-nya. Sementara Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan bin Harits, Usamah bin Zaid,  berikut segenap sahabatnya yang setia tetap berada di sekeliling Nabi dan melindunginya.

Atas permintaan Nabi, Abbas kemudian berseru, “Wahai orang-orang Anshar yang pernah menjadi pelindung dan penolong Nabi!”

Suara paman Nabi ini keras menggema memenuhi lembah itu.

“Wahai orang-orang Muhajirin yang pernah bersumpah setia di bawah pohon*!”

Suara teriakan itu mengatasi jerit kesakitan dan bahkan desingan panah-panah!

“Sesungguhnya Muhammad masih hidup! Muhammad masih hidup!”

Berulang kali Abbas meneriakkan kalimat-kalimat itu. Berulang kali suara itu menggema memenuhi bukit, menembus relung-relung hati yang putus-asa. Berulang kali. Pada akhirnya, sayup-sayup terdengarlah sambutan-sambutan itu di setiap tempat:

Labbaik! Labbaik! Labbaik!

Maka berkumpullah kembali pasukan yang telah tercerai-berai itu di sekitar Nabi yang tak pernah surut langkah sedikitpun dari tempatnya berpijak. Mereka kini bersatu kembali dan siap berbalik menggilas musuh.

 

***

Keterangan.

* bersumpah di bawah pohon = maksudnya di bawah pohon Samurah dimana kaum muslimin pernah bersumpah setia membela Islam hingga titik darah penghabisan saat di Hudaibiyah sebelum Fathu Makkah.

Dimuat dalam Al-Mu’tashim rubrik Napak Tilas edisi bulan Juli 2007

Pasukan muslimin telah bersiap di dusun Dzi Amarra pada suatu hari ketika langit bulan Rabiul Awwal selepas Perang Badar tiba. Empat ratus lima puluh orang dengan senjata di tangan berdiri tegap siap tempur. Syahid yang selalu hendak diraih serupa sudah di depan mata.

Lelaki kinasih itu kemudian mengatur barisan serapi-rapinya laksana tegak dalam shaf salat. Demi mengetahui hal itu, Bani Muharib dan Bani Tsa’labah yang telah berpadu hendak memadamkan terang cahaya Madinah pun seketika lari terbirit ke atas gunung. Tak dinyana begitu cepat pasukan muslimin itu datang ke dusun mereka. Tak mencari hidup, justru menyongsong mati.

Namun, hujan lebat tiba-tiba bagai dimuntahkan dari langit! Deras mengguyur bumi. Meningkahi setiap jengkal tanah, juga helai daun-daun. Bumi yang kering seketika basah. Debu yang melayang-layang seketika hilang. Bau tanah pun telah berubah menjadi lembab. Dan lelaki itu beserta pasukannya pun basah-kuyup.

Tatkala hujan reda, mereka kemudian sibuk menjemur pakaian masing-masing. Lelaki itu menjemur pula pakaiannya sembari berbaring di bawah sebatang pohon. Seorang diri. Dan tak seorang anggota pasukan pun menyadari ketika sebuah bayangan bergerak ke arah lelaki itu. Seseorang telah menyamar mendekati tempat berbaringnya dari arah belakang. Diam-diam. Beringsut mendekat dan semakin dekat. Sebilah pedang tajam pun telah terhunus mengkilat.

Secepat kilat, pedang yang telah terlepas dari sarungnya itu kini teracung ke arah kepala lelaki yang sedang terbaring itu.

“Siapakah yang akan menghalangi engkau dariku hari ini, hai Muhammad?” gertak sosok bayangan itu penuh kesombongan. Orang yang selama ini ditakutinya itu, kini hanya berjarak sejengkal saja dari ujung pedangnya. Dunia serasa ada di dalam genggamannya. Hanya dengan sekali tebas, maka pasti robohlah lelaki itu. Dan namanya segera terkenal di seantero jazirah Arab. Du’tsur telah membunuh Muhammad!

“Allah!” jawab lelaki itu dengan jelas dan tenang. Tak ada sepotong ketakutan pun pada rona wajahnya. Tak ada kepanikan tersirat pada gerak tubuhnya. Energi yang begitu besar seperti mengelilingi dirinya. Melindungi dirinya. Begitu rupa.

Du’tsur seketika terperanjat. Seluruh sendi tubuhnya bergetar hebat demi mendengar jawaban yang hanya sepatah kata itu. Allah! Hanya sepatah kata, yang tak pernah terbayangkan bakal keluar dari mulut lelaki yang nasibnya sudah ada dalam genggamannya itu. Tangannya langsung gemetar dan lunglai. Pedangnya memberat serupa gunung Uhud telah diletakkan di ujungnya. Senjata itu pun kemudian jatuh terkulai ke tanah.

Lelaki kinasih itu pun secepat kilat bangkit, mengambil pedang Du’tsur yang tergolek di atas tanah, dan kini mengacungkannya balik ke arah tuannya sendiri. Pedang itu berkilat hanya sejengkal dari kulit wajahnya. Dengan sekali tebas, kepalanya tentu akan segera menggelinding di tanah yang basah.

“Siapakah kini yang akan melindungi engkau dariku, hai kisanak?” lelaki itu kini ganti bertanya padanya.

Du’tsur merasa riwayatnya seketika usai. Kini ia bergetar sangat hebat bagai diguncang hujan badai. Wajahnya pun berubah pasi seputih kapas di musim panas yang terik. Maut serasa sudah bertengger di ubun-ubunnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya melebihi guyuran hujan. Dan ia kini kelu, tak memiliki sepatah jawaban apapun di bawah acungan pedangnya sendiri.

***

Membeli (to buy) dalam Kamus Webster dikatakan sebagai “to acquire possession, ownership, or rights to the use or service by payment esp. of money”. Mendapatkan hak milik untuk menggunakan sesuatu dengan cara membayarnya, biasanya dengan uang. Proses itulah yang biasa kita sebut sebagai jual-beli atau perniagaan.

Pada galibnya, seorang pembeli akan mendapatkan barang yang dibelinya setara dengan harga yang ia bayar. Sungguh mustahil ada seorang pembeli yang mau membeli suatu barang dengan harga berlipat-lipat dengan begitu ikhlasnya. Kalaupun itu ada, tentu ia sedang “membeli” nilai intrinsik yang tak bisa dinilai di balik barang itu. Membeli barang bernilai seni tingkat tinggi misalnya. Kita kadang tak mudah percaya sebuah lukisan di atas kanvas sebagaimana jamaknya bisa bernilai ratusan juta rupiah.

Namun, semua itu masih dalam batas wajar dalam sebuah transaksi jual-beli. Kalaupun penjual mengambil untung dalam sebuah transaksi perniagaan, sedikit ataupun banyak, itu adalah sesuatu yang jamak adanya. Business as usual. Dan memang untuk itulah sebuah perniagaan dilakukan.

Jika ada transaksi jual-beli, dimana barang yang dibeli bahkan tidaklah sepadan sama sekali dengan harga yang harus dibayar, pastilah itu sebuah transaksi yang luar biasa. Dan tentu luar biasa pula Sang Pembelinya. Karena hal itu tidaklah akan pernah terjadi kecuali Sang Pembeli memiliki kekayaan yang tak terukur dan tak berbatas.

Adakah perniagaan semacam ini? Ada! Dan sesungguhnyalah, transaksi jual-beli itu bahkan sudah terjadi. Sudah terjadi! Ya. Transaksi itu telah berlangsung antara Al-Ghaniy, Yang Mahakaya, sebagai pembeli dan orang-orang mukmin sebagai penjual. Untuk sekadar membeli diri dan harta orang-orang mukmin, Ia, Sang Pembeli itu, telah menukarnya dengan syurga, yang luasnya seluas langit dan bumi dan kenikmatan di dalamnya berlangsung tak pernah henti (Q.S. At-Taubah: 111).

Ini adalah sebuah transaksi jual-beli yang sama sekali tak berimbang. Ironisnya, Sang Penjual – dan itu tak lain adalah diri kita — tak semua menyadari bahwa diri dan harta kita telah terbeli. Diri dan harta kita sebenarnya sudah bukan milik kita lagi. Itu berarti, kapan saja Sang Pembeli yang telah mengambil alih ownership atas diri dan harta kita itu berkehendak mengambil milik-Nya, tak ada hak lagi buat kita untuk menolak apapun yang Ia kehendaki. Yang bisa kita lakukan sebenarnya dan seharusnya hanyalah sumarah, pasrah bongkokan kepada-Nya. Dan di genggaman tangan-Nyalah diri kita menjadi atau tak-menjadi.

Jika kita mau berjuang di atas jalan-Nya, baik menang maupun gugur di dalamnya, syurga sudah akan berada di tangan sebagaimana Ia janjikan.

Hanya mereka yang menyadari posisi inilah yang bisa bersikap begitu tenang menghadapi situasi apapun. Bahkan ketika jiwanya terancam sekalipun. Karena, dirinya sudah terbeli dan bukan miliknya lagi.

***

“Siapakah kini yang akan melindungi engkau dariku, hai Du’tsur?”

“Tidak ada seorangpun, wahai Muhammad,” jawab Du’tsur dalam gemetar yang sangat. Ia kemudian berucap, “Ayshadu an Laa ilaaha illa Allah, wa annaka Rasulullah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya engkau adalah utusan-Nya.”

Nabi SAW pun menurunkan acung pedangnya. Tangan yang mulia itu kemudian mengangsurkan senjata itu kepada tuannya. Laki-laki itu, Du’tsur ibnul al-Harts al-Ghatafany, menerimanya dengan rasa suka-cita di antara ketakpercayaannya. Ia lalu kembali kepada anggota pasukannya yang sedang berada di atas gunung, memberitahukan apa yang sudah terjadi, dan menyeru mereka untuk mengikut seruan Nabi kepada ajaran yang benar.

Dan perang pun urung. Mereka lebih memilih perniagaan yang tak akan pernah merugi.

***

Dimuat di rubrik Napak Tilas Majalah Al-Mu’tashim edisi Januari 2007