<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>NapakTilas.com</title>
	<atom:link href="http://napaktilas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://napaktilas.wordpress.com</link>
	<description>Meniti Jalan Rasulullah SAW dan Mereka yang Mengikutinya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 May 2011 05:04:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='napaktilas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>NapakTilas.com</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://napaktilas.wordpress.com/osd.xml" title="NapakTilas.com" />
	<atom:link rel='hub' href='http://napaktilas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hati Yang Seluas Samudera</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2008/05/20/hati-yang-seluas-samudera/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2008/05/20/hati-yang-seluas-samudera/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 10:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Zaid bin Arqam geregetan! Daun cuping telinganya seketika merah dan berdiri tegak. Darah panas serasa menggelegak memenuhi seluruh lekuk tubuhnya. “Cobalah lihat wahai saudaraku kaum Khazraj! Mereka kaum Muhajirin sudah mengalahkan kita, memperbanyak jiwa di negeri kita, menyingkirkan agama kita!” kata Abdullah bin Ubay berapi-api. Kaum Muhajirin dan Anshar baru saja nyaris terlibat bentrokan bersenjata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=28&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bahtiarhs.multiply.com/photos/hi-res/upload/SDKrSwoKCEEAACBHeUI1"><IMG style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://images.bahtiarhs.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SDKrSwoKCEEAACBHeUI1/samudera.jpg?et=cvBp0%2Bix0NCqhLZwxpWREA&amp;nmid=" border="0"></a>Zaid bin Arqam geregetan! Daun cuping telinganya seketika merah dan berdiri tegak. Darah panas serasa menggelegak memenuhi seluruh lekuk tubuhnya.</p>
<p>“Cobalah lihat wahai saudaraku kaum Khazraj! Mereka kaum Muhajirin sudah mengalahkan kita, memperbanyak jiwa di negeri kita, menyingkirkan agama kita!” kata Abdullah bin Ubay berapi-api. Kaum Muhajirin dan Anshar baru saja nyaris terlibat bentrokan bersenjata hanya karena sebuah kesalahpahaman di sumur Muraisi. “Kita tidak menyangka, mereka akan seperti kata pepatah orang tua kita dahulu ‘Gemukkanlah olehmu anjingmu biar ia menggigitmu!’”</p>
<p>Perkataan ini penuh fitnah! Seperti api dalam sekam, ia bisa menyambar apapun dan membakar liar ke segala arah. </p>
<p>“Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah,” lanjut dedengkot kaum munafik itu dengan sombongnya, “niscaya orang yang mulia akan mengusir orang yang hina dina dari Madinah!”</p>
<p>“Kamulah yang hina dina pada sisi kaummu, wahai Ibnu Ubay!” sahut Zaid seketika dengan gigi gemeretak mendengar ejekan itu. “Adapun Muhammad adalah mulia di sisi Allah dan berkekuatan dari kaum muslimin.”</p>
<p>Abdullah bin Ubay tak menyangka pemuda Muhajirin itu akan menyahut perkataannya. “Diamlah kisanak! Aku tidak akan berbuat apa-apa,” katanya pada Zaid. “Aku hanya bergurau belaka!”</p>
<p>***</p>
<p>Rasulullah sedang berkumpul bersama beberapa orang sahabat. Bagaimanapun dari tangan Bani Musthaliq yang baru saja ditaklukkan, kaum muslimin memperoleh ghanimah yang banyak. Tak kurang 2.000 ekor unta, 5.000 ekor kambing, dan 700 orang tawanan laki-laki dan perempuan telah jatuh ke tangan mereka. </p>
<p>Namun karena didorong oleh persoalan yang menurutnya harus segera disampaikan, maka Zaid pun memberanikan diri menghadap lelaki kinasih itu. Ketika diberikan kesempatan, maka ia pun lantas menuturkan perkataan Abdullah bin Ubay yang didengarnya dengan telinganya sendiri itu. </p>
<p>Raut muka lelaki agung itu berubah seketika. Sesaat ruang itu mendadak sunyi. Dengan berhati-hati, lelaki mulia itu lantas bertanya pada Zaid, “Barangkali kamu saja yang marah-marah padanya, wahai Ibnu Arqam?”</p>
<p>Zaid agak tersentak dengan jawaban lelaki agung itu. Ia tak menduga mendapatkan jawaban berupa pertanyaan demikian. Dengan tangkas ia lalu menyahut, “Demi Allah, ya Rasulullah! Sungguh aku mendengarnya benar-benar demikian itu.”</p>
<p>“Barangkali kamu saja yang salah mendengarnya, wahai Zaid?”</p>
<p>“Ya Rasulullah! Betul-betul saya mendengarnya demikian.”</p>
<p>Pemuda Muhajirin itu tampak merasa susah dan malu ketika Rasulullah seperti tidak percaya dengan laporannya. Namun ia agak sedikit terobati ketika salah seorang sahabat yang hadir di tempat itu ikut angkat bicara. </p>
<p>“Ya, Rasulullah,” kata Umar bin Khatthab dengan nada berat. “Jika yang dikatakan Zaid itu benar, maka ijinkan saya memenggal batang leher Ibnu Ubay sekarang juga!”</p>
<p>Rasulullah seketika menjawab, “Bagaimanakah wahai Umar jika orang-orang membicarakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya?”</p>
<p>“Wahai Rasulullah,” sambung Umar belum akan berhenti, “jika saja Baginda tidak suka orang Muhajirin membunuh Ibnu Ubay, maka perintahkanlah Muhammad bin Maslamah (seorang Anshar) untuk membunuhnya.”</p>
<p>Berkali Ibnu Khatthab meminta ijin. Berkali pula Rasulullah tetap bergeming. Bahkan beliau kemudian memerintahkan pasukan kaum muslimin segera kembali ke Madinah. Padahal, matahari begitu teriknya hingga kerontang tanah mengeluarkan hawa panas serupa bongkahan bara api. Dan Nabi sendiri tidak biasa berjalan jauh dalam musim panas seperti ini. Bahkan sehari semalam mereka berjalan tanpa henti. Ketika berhenti pun pada siang hari berikutnya, banyak yang kemudian berbaring dan tidur untuk beristirahat. Cerita tentang Abdullah bin Ubay pun lenyap ditelan mimpi-mimpi.</p>
<p>***</p>
<p>“Hai Ibnu Ubay!” kata Nabi kepada Abdullah bin Ubay ketika mereka bertemu dalam perjalanan kembali ke Madinah itu. “Jika telah telanjur perkataanmu sebagaimana yang telah aku dengar, tobatlah kamu kepada Allah. Jika tidak, hendaklah kamu menunjukkan kebenaran kamu dengan sumpah kepada Allah. Yang demikian itu agar menunjukkan bahwa kamu tidak berkata sebagaimana dikatakan oleh Zaid kepadaku.”</p>
<p>“Demi Dzat yang telah menurunkan kitab atas Baginda, Muhammad!” jawab Abdullah bin Ubay penuh penghormatan. “Sungguh saya tidak berkata seperti dikatakan Zaid sedikitpun. Bahkan, sungguh Zaid-lah yang berdusta kepada Baginda!”</p>
<p>Ibnu Ubay terus menyangkal hingga Nabi tak lagi menanyainya. Justru seorang keluarga Zaid mendatangi pemuda itu dan berkata, “Kamu ini tidak lain hendak meminta kepada Rasulullah supaya kamu didustakan dan dimurkai olehnya. Bukan begitu, Zaid?”</p>
<p>“Demi Allah! Sungguh aku telah mendengar perkataan Ibnu Ubay!” sanggah Zaid. “Jika aku mendengar perkataan seperti itu dari bapakku, niscaya akan aku sampaikan juga kepada Rasulullah.”</p>
<p>***</p>
<p>Berita itu akhirnya tiba juga di telinganya. Tentang perkataan penuh ejekan ayahnya kepada Baginda Nabi. Umar bin Khatthab bahkan telah berulang kali meminta ijin kepada Rasulullah untuk membunuh ayahnya. Maka ia pun segera menemui lelaki agung itu.</p>
<p>“Ya Rasulullah! Telah sampai kabar kepada saya bahwa Baginda hendak membunuh ayah saya,” kata pemuda itu kepada Nabi. “Jika kabar itu benar, saya minta hendaklah Baginda perintahkan saya. Nanti sayalah yang akan membawa kepalanya ke hadapan Baginda.”</p>
<p>“Tidak, wahai Abdullah!” Lelaki agung itu menggeleng tegas. Seperti seorang ayah menasihati anaknya, ia pun berkata kepada putra Ibnu Ubay itu, “Tidak. Aku tidak berkehendak menyuruh seseorang membunuh ayahmu. Aku tidak berkehendak membunuhnya. Bahkan aku sahabat baiknya, selama ia bersahabat denganku.”</p>
<p>Abdullah memandang junjungannya itu. Sorot mata lelaki agung itu memancar penuh kasih, serasa mengisi kesejukan rongga dadanya yang sesak.</p>
<p>“Wahai Abdullah,” kata Nabi menyambung pembicaraan. “Berbuat baiklah kamu pada ayahmu!”</p>
<p>***</p>
<p>Tepat ketika tiba di dusun Walid Aqiq, seorang pemuda mendahului perjalanan barisan tentara itu. Dan di sebuah tempat dekat Madinah, ia berbalik arah, berhenti, dan menanti barisan itu lewat. Bukan. Lebih tepatnya, ia tengah menanti seseorang.</p>
<p>“Apa maksudmu berada di sini, hai Khubab[1]?” tanya seorang laki-laki pada pemuda di pintu gerbang Madinah itu.</p>
<p>“Demi Allah!” jawab sang pemuda. “Janganlah Ayah masuk ke Madinah sebelum mengakui bahwa Ayahlah yang hina dina dan Rasulullah yang mulia.”</p>
<p>Merah-padamlah raut muka Ibnu Ubay, laki-laki itu. “Sungguh, akulah yang lebih hina daripada perempuan dan sungguh aku lebih hina daripada anak-anak,” jawabnya pada pemuda itu. “Adakah kamu ikut kemauan orang-orang itu atau tak mau ikut kepadaku?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab dengan tegas. “Ya. Aku ikut orang-orang itu.”</p>
<p>Abdullah bin Ubay memalingkan mukanya. Ketika Nabi datang ke tempat itu, laki-laki itu memarahi anaknya, lalu menuturkan perbuatan anaknya kepada lelaki agung itu. </p>
<p>Rasulullah menyuruh Abdullah membiarkan ayahnya memasuki Madinah.</p>
<p>Kata Abdullah, “Jika Ayah tidak mengakui bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya, niscaya sayalah yang akan memenggal leher Ayah!”</p>
<p>“Apakah kamu akan berbuat begitu padaku, Khubab?” tanya laki-laki itu gusar. Tetapi dengan bersungut-sungut, akhirnya ia berkata, “Aku menyaksikan bahwa kemuliaan itu bagi Allah dan utusan-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.”</p>
<p>Rasulullah tersenyum. Sabdanya pada pemuda itu, “Wahai Abdullah! Mudah-mudahan Allah membalas kebaikanmu dari Rasul-Nya dan dari orang-orang yang beriman.”</p>
<p>***</p>
<p>Akhirnya wahyu Allah pun turun  untuk menetralisir peristiwa itu [2]. Ketika itu Nabi sedang mengendarai untanya menuju Madinah. Tiba-tiba beliau mendekati unta Zaid bin Arqam, menarik telinga pemuda itu, lalu bersabda, “Sempurnakanlah pendengaranmu, hai pemuda. Allah telah membenarkan perkataanmu dan mendustakan orang-orang munafik.”</p>
<p>***</p>
<p>Selalu saja yang remang-remang, abu-abu, samar, syubhat, atau apapun istilahnya bagi sesuatu atau seseorang yang tidak jelas posisinya membuat sulit bersikap. Demikian juga bersikap terhadap orang munafik, yang jelas bukan kafir, tetapi selalu merecoki perjuangan. Mungkin karena itulah, pada pembukaan Q.S. Al-Baqarah, jumlah ayat yang membahas orang-orang munafik ini jauh lebih banyak dibanding orang mukmin ataupun kafir.</p>
<p>Karena posisinya yang demikian, maka tidaklah serta merta mereka halal darahnya. Bagaimanapun mereka beriman atau setidaknya mengaku beriman, meski di belakang mereka berkata lain. Namun ketika diajak membela agama Allah, pergi ke medan perang misalnya, ada saja alasannya untuk tidak ikut serta. Meski sudah berangkat bersama kaum muslimin lainnya, dalam perang Khandaq maupun Tabuk misalnya, tetapi di tengah jalan mereka memutuskan untuk kembali dan meninggalkan medan. Yang lebih memuakkan adalah ketika di depan kita mereka memuji, di belakang kita mereka mengejek dan menghina. Itulah yang dilakukan Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik Madinah, terhadap Nabi Saw. </p>
<p>Sikap yang demikian sungguh merepotkan. Dihabisi tidak boleh. Dibiarkan hanya akan menjadi sandungan. Bahkan boleh jadi mereka menjadi “musuh dalam selimut.” Pada posisi inilah Rasulullah Saw. dituntut bersikap bijak. Berbeda dengan musuh-musuh Allah yang sudah sangat jelas kekafiran dan permusuhannya terhadap Islam, Nabi bersikap lebih sabar dan cenderung menahan diri terhadap ulah kaum munafik, dalam hal ini diwakili oleh Abdullah bin Ubay. Apa saja yang mereka katakan, hinaan dan ejekan terhadap pribadinya, paling menyakitkan hati sekalipun, selalu saja Nabi tetap sabar dan menahan diri. Kebijaksanaan seperti inilah yang kiranya harus beliau tunjukkan, meski sahabat di sekeliling beliau, terutama Umar, sudah tak sabar untuk menutup mulut Ibnu Ubay selamanya dan habis perkara. </p>
<p>Bahkan Abdullah, putra Abdullah bin Ubay pun sampai mengajukan diri untuk mengeksekusi ayahnya daripada keduluan orang lain. Tetapi, lelaki yang agung itu tetap bergeming. Hatinya begitu luas untuk menampung pedih-perih. Juga gelegak marah.</p>
<p>***</p>
<p>Pada sebuah kesempatan, Rasulullah tengah meminum air. Abdullah datang menguluk salam, lantas duduk di hadapan beliau. </p>
<p>“Ya, Rasulullah!” katanya pada lelaki agung itu. “Demi Allah! Sudikah engkau menyisakan barang sedikit saja dari air yang engkau minum itu? Nanti air sisa engkau itu akan aku sampaikan kepada ayahku agar diminumnya. Mudah-mudahan dengan minum air sisa engkau, ayahku dibersihkan hatinya oleh Allah.”</p>
<p>Nabi menyisakan air minum beliau dan memberikannya pada anak berbudi itu.</p>
<p>Abdullah lalu membawa air sisa minum Rasulullah itu kepada ayahnya, menyerahkannya dan meminta ayahnya untuk meminumnya. </p>
<p>“Apa ini, Khubab?” tanya Ibnu Ubay kepada Abdullah.</p>
<p>“Ini adalah sisa air minum Rasulullah yang sengaja saya bawa untuk Ayah agar Ayah sudi meminumnya,” kata Abdullah apa adanya. “Dengan demikian, semoga Allah membersihkan hati Ayah.”</p>
<p>Laki-laki itu seketika tersenyum sinis. “Mengapa kamu tidak datang kepadaku dengan membawa air kencing ibumu saja?” katanya mengejek. “Karena air kencing ibumu itu lebih bersih daripada sisa air Muhammad. Bukan begitu, Khubab?”</p>
<p>Darah Abdullah menggelegak ke ubun-ubun. Seketika ia meninggalkan ayahnya. Ia lalu menghadap Nabi dan melaporkan kejadian itu. </p>
<p>“Ya, Rasulullah,” katanya memohon kepada lelaki agung itu. “Perkenankanlah saya membunuh Ayah saya yang jahat itu.”</p>
<p>Lelaki mulia itu, dengan kesabaran seluas samudera, menjawab permintaan Abdullah. “Bertemanlah dengan ayahmu, hai Abdullah,” sabdanya dengan penuh kasih. “Dan berbuat baiklah kamu kepadanya.”</p>
<p>***</p>
<p>[1] Khubab, nama lain Abdullah bin Abdullah bin Ubay.</p>
<p>[2] Yakni Q.S. Al-Munâfiqûn: 1-8</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=28&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2008/05/20/hati-yang-seluas-samudera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebab Mengalah Belum Tentu Berarti Kalah</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/sebab-mengalah-belum-tentu-berarti-kalah/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/sebab-mengalah-belum-tentu-berarti-kalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 11:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Keteguhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[“Maha suci Allah, ya Rasulullah!” seru mereka dalam ketidakpuasan setelah memperhatikan rancangan perjanjian itu. “Bagaimana mungkin jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, namun engkau harus menolaknya? Sementara jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka orang-orang musyrik Quraisy karena hendak murtad, mereka tidak harus mengembalikannya kepada engkau?” Hari ini di bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=27&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Maha suci Allah, ya Rasulullah!” seru mereka dalam ketidakpuasan setelah memperhatikan rancangan perjanjian itu. “Bagaimana mungkin jika seorang Quraisy datang kepada engkau karena hendak mengikut Islam, namun engkau harus menolaknya? Sementara jika seorang dari kaum muslimin datang kepada mereka orang-orang musyrik Quraisy karena hendak murtad, mereka tidak harus mengembalikannya kepada engkau?”</p>
<p>Hari ini di bulan Dzulqadah tahun keenam selepas hijrah.</p>
<p>Di Tsanuyyatul Mirar rombongan ihram itu berhenti. Tak kurang 1.400 orang Muhajirin dan Anshar berpakaian serba putih mengelilingi lelaki kinasih itu pada sebuah lembah bernama Hudaibiyah, laksana sekawanan malaikat bersayap cahaya terbang bercengkerama mengitari matahari. Setiap hati telah berazam untuk membela agama Allah hingga titik darah penghabisan. Setiap diri telah bersiap untuk siap bertempur, pantang mundur setapak pun, dan mati berkalang tanah. Satu demi satu, tanpa kecuali, mereka telah berikrar dalam Bai’atur Ridhwan di bawah sebuah pohon Sidr* di tempat ini. </p>
<p>“Barangsiapa pergi dari kita kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjauhkannya,” jawab lelaki agung itu penuh kearifan. “Dan barangsiapa dari mereka datang kepada kita, lalu kita mengembalikannya kepada mereka, maka Allahlah yang akan menjadikan keluasaan dan keringanan untuknya.”</p>
<p>Seperti singa lapar yang sedang terlepas talinya, Umar bin Khaththab melompat dari tempat duduknya ketika mendengar pasal pertama rancangan perjanjian itu. Ia lantas mendapati Abu Bakar, berdiri di hadapannya, seperti hendak menerkamnya bulat-bulat. </p>
<p>”Ya, Abu Bakar! Bukankah beliau itu Rasulullah?” tanyanya penasaran tak habis mengerti.</p>
<p>”Benar, wahai Umar!&#8221; jawab sahabat terkasih itu. &#8220;Beliau adalah Rasulullah!”</p>
<p>”Bukankah kita ini kaum muslimin?”</p>
<p>”Ya, kita ini kaum muslimin.”</p>
<p>”Bukankah mereka, kaum Quraisy itu, musyrikin?”</p>
<p>”Ya, benar. Mereka itu musyrikin.”</p>
<p>”Mengapa kita suka menerima kerendahan dan kehinaan dalam agama kita?”</p>
<p>Abu Bakar menghela napas sebentar. Menjinakkan sepuluh kuda liar padang pasir mungkin masih lebih mudah ketimbang mengendalikan lelaki di depannya ini ketika sedang naik darah.</p>
<p>”Wahai, Umar,” kata Abu Bakar sesaat kemudian, ”tetaplah engkau di tempat dudukmu, karena aku menyaksikan bahwa beliau itu Rasulullah!”</p>
<p>”Aku pun menyaksikan bahwa beliau itu adalah Rasulullah, wahai Abu Bakar!” kata Umar. Namun, ia lantas berlalu mencari Rasulullah. Baginya, rancangan perjanjian dengan Suhail bin Amr, utusan orang Quraisy itu, banyak merugikan kaum muslimin. </p>
<p>”Ya Rasulullah! Bukankah engkau itu Rasulullah?” tanya Umar.</p>
<p>”Benar,” jawab Rasulullah Saw. ” Aku ini Rasulullah.”</p>
<p>”Bukankah kami ini kaum muslimin?”</p>
<p>”Ya, benar.”</p>
<p>”Bukankah mereka itu musyrikin?”</p>
<p>”Ya, betul.”</p>
<p>”Mengapa kami diberi kerendahan dalam agama kami?”</p>
<p>Rasulullah Saw. terdiam sesaat. “Aku ini hamba Allah dan utusan-Nya,” sabda lelaki agung itu sesaat kemudian. “Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”</p>
<p>Umar masih menyela sekali lagi. Lelaki putra al-Khaththab itu belum puas dengan jawaban Nabi. ”Bukankah engkau pernah bersabda kepada kami bahwa kita akan datang bersama-sama ke Baitullah dan berthawaf di sana serta mengerjakan ibadah haji dengan aman dan tenteram?”</p>
<p>Sang Rasul pun tersenyum. ”Ya, engkau benar, wahai Umar,” katanya dengan lembut. ”Tetapi, aku tidak mengatakan kepada engkau bahwa kita akan datang ke Mekah sana pada tahun ini.”</p>
<p>Kali ini, Umar terdiam dan tak bertanya lagi.</p>
<p>***</p>
<p>”Tulislah olehmu ’Bismillâhirrahmânirrahîm’ wahai Ali!”</p>
<p>Ali menggerakkan pena di tangannya. </p>
<p>”Aku tidak mengerti ini,” Suhail bin Amr langsung menggerakkan tangannya, memotong ucapan lelaki agung itu. Tangan Ali pun berhenti bergerak. ”Tetapi tulislah ’Bismikallôhumma’.”</p>
<p>Nabi melirik utusan Quraisy Mekah itu. Benar kata orang, Suhail seorang yang cakap, berpembawaan tenang, dan seorang juru runding pilihan. Lalu Rasul pun bersabda, ”Tulislah olehmu ’Bismikallôhumma’ya Ali.”</p>
<p>Ali meneruskan tulisannya sesuai perintah Nabi. </p>
<p>Lelaki kinasih itu lalu melanjutkan sabdanya kepada Ali. ”Tulislah olehmu ’Inilah perjanjian perdamaian antara Muhammad Rasulullah dan Suhail bin Amr’.”</p>
<p>Suhail kembali menggerakkan tangannya. Ia terlihat tidak senang dengan kalimat ’Muhammad Rasulullah’ itu. ”Demi Allah!” katanya tenang tetapi penuh penekanan, kata demi kata. ”Jika kami mengakui bahwa engkau itu Rasulullah, niscaya kami tidak menghalang-halangimu ke Baitullah dan tidak pula kami memerangimu.”</p>
<p>Angin mengalir perlahan. Segenap yang hadir berkeringat dingin. Di sini, di tempat ini, sebuah peperangan tanpa pedang sedang berlangsung.</p>
<p>Lelaki juru runding Quraisy itu pun melanjutkan kata-katanya, &#8220;Karena itu, tulislah ’Muhammad bin Abdullah’.”</p>
<p>&#8220;Demi Allah ! Sesungguhnya aku ini benar-benar Rasulullah,&#8221; sahut Baginda Nabi seketika, &#8220;meskipun kamu mendustakanku sekalipun.&#8221;</p>
<p>Sesaat udara seperti berhenti mengalir. Tangan-tangan segera memegang hulu pedang lebih kuat lagi. Keringat berjatuhan setetes demi setetes.</p>
<p>Perintah Rasul pun segera memecah ketegangan. &#8220;Hapuskanlah tulisan Rasulullah itu, wahai Ali!”</p>
<p>Ali terhenyak. Juga sekalian sahabat yang hadir. ”Tidak!” kata Ali meski tak berkehendak membantah lelaki agung itu. ”Demi Allah, saya tidak akan mengubahnya, ya Rasulullah!”</p>
<p>Rasul pun mendekati suami Fathimah itu. ”Tunjukkan kepadaku tempatnya, Ali.”</p>
<p>Pemuda itu dengan berat tangan menunjukkan tempat dituliskannya ’Muhammad Rasulullah’ itu kepada Nabi. Tulisan itu kemudian dihapus Nabi dengan tangannya sendiri. Lalu Ali menulis penggantinya ’Muhammad bin Abdullah’.</p>
<p>Rasul pun memerintahkan Ali menuliskan isi perjanjian itu. </p>
<p>”Dengan nama Engkau, ya Allah. Inilah perjanjian perdamaian yang dilaksanakan antara Muhammad bin Abdullah dan Suhail bin Amr. Keduanya telah berjanji menghindari peperangan atas segala manusia selama sepuluh tahun. Pada masa itu, orang-orang memperoleh keamanan dan sebagian mereka menahan diri atas sebagian yang lain. Barangsiapa dari orang Quraisy yang datang kepada Muhammad dengan tidak seizin walinya, hendaklah Muhammad mengembalikannya kepada mereka; dan barangsiapa dari orang yang beserta Muhammad datang kepada orang Quraisy, kaum Quraisy tidak berkewajiban mengembalikannya kepada Muhammad &#8230;.”</p>
<p>Suhail menambahkan, ”Engkau pada tahun ini harus kembali, maka tidak boleh masuk Mekah kepada kami. Tahun depan, kami akan keluar dari Mekah, maka engkau boleh masuk dengan para sahabatmu, lalu berdiam di sana selama tiga hari &#8230;.”</p>
<p>***</p>
<p>Orang Jawa boleh jadi benar. Kata mereka, wani ngalah luhur wekasane. Barangsiapa berani mengalah, maka pada akhirnya ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan. </p>
<p>Falsafah ini begitu melekat dalam masyarakat Jawa, terutama generasi tua mereka. Mungkin karena ia hari-hari didendangkan sebagai tembang mijil di segala tempat; sawah, sungai, hutan-hutan, pendapa, serambi rumah, bahkan ketika mendorong si kecil yang sedang tumbuh dalam ayunan kayu di atas rerumputan hijau samping rumah. Dengarkan bait-bait tembang itu:</p>
<p>	<em>Dedalane guna lawan sekti<br />
	Kudu andhap asor<br />
	Wani ngalah luhur wekasane<br />
	Tumungkula yen dipun dukani<br />
	Bapang den simpangi<br />
	Ana catur mungkur</em></p>
<p>Kemuliaan diri itu bisa diraih jika memiliki kesalehan yang tinggi, mau mengalah untuk sesuatu yang lebih mulia, bersikap merunduk bagai padi, tidak suka dipuji, dan menjaga diri dari hal yang tidak berguna. </p>
<p>Mengalah bukan berarti kalah atau terkalahkan. Mengalah justru sebuah sikap yang penuh kedewasaan: melihat sesuatu jauh ke depan, melihat sesuatu bukan pada lahiriahnya saja. Mengalah adalah sikap seorang yang telah matang dalam mengarungi samudera kesulitan, kenyang akan asam-garam dan pahit-getir kehidupan. Ia seorang yang futuristik. Mengalah boleh jadi memang mundur selangkah, tetapi setelah itu maju menghentak dan melesat jauh ke depan. Tentu bukan mengalah dalam arti semata-mata karena lemah dan penuh keterbatasan, melainkan dalam konteks stratak, strategi dan taktik dalam perjuangan.</p>
<p>Inilah sikap yang dipraktekkan Rasul ketika perjanjian Hudaibiyah diteken. Secara lahiriah, akad perjanjian itu sangat merugikan kaum muslimin. Bagaimana tidak? Penduduk Mekah yang datang ke Madinah harus dikembalikan ke Mekah. Namun, tidak berlaku sebaliknya. Kaum muslimin yang sudah siap berpakaian ihram harus kembali ke Madinah saat itu juga dan ditolak memasuki Baitullah. Mereka baru boleh berziarah ke tanah suci pada tahun berikutnya. </p>
<p>Tidak heran orang seperti Umar sampai mempertanyakan, ”Bukankah engkau itu Rasulullah? Bukankah kita ini kaum muslimin?” </p>
<p>Namun tidak demikian dengan Rasulullah. Ia memang dihinakan. Direndahkan, sedemikian hingga menulis dirinya sebagai utusan Allah saja ditolak oleh kaum Quraisy. Tetapi, lelaki agung itu tidak meladeninya dengan gelegak kemarahan. Justru ia mengedepankan kelemahlembutan dan cinta kasih, sehingga seperti mengiyakan begitu saja apa yang menjadi kemauan Suhail bin Amr, juru runding pihak Quraisy. Ia mengalah. Apakah ia kalah?</p>
<p>Di atas kertas, orang-orang Quraisy Mekah jelas merasa menang. Tetapi, di sebalik kertas, di tengah lapangan, kenyataan yang terjadi sungguh sangat berkebalikan.</p>
<p>***</p>
<p>Setahun telah lewat. Bulan Dzulqadah tahun ketujuh hijriyah pun hadir. </p>
<p>Rombongan itu kini berjumlah tak kurang dari 2000 orang Muhajirin dan Anshar. Berpakaian ihram serba putih, mereka berbondong dengan penuh kegembiraan menuju gerbang kota Mekah. Rindu yang tertahan akan Baitullah yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun serasa membuncah menunggu tumpah. Masjidil Haram pun menjadi lautan putih dipenuhi sekalian kaum muslimin. Dan talbiyah pun mengalun syahdu memenuhi langit Mekah,</p>
<p>	<em>Labbaikallôhumma labbaik<br />
	Labbaika lâ syarîka laka labbaik<br />
	Innal hamda wanni’mata laka wal mulka<br />
	Lâ syarîka laka</em></p>
<p>Dari atas Bukit Abi Qubais, Bukit Hira, dan tempat tinggi lainnya di sekeliling Mekah, kaum Quraisy menyaksikan perhelatan akbar itu. Orang yang dulu dihinakan, disakiti, dianiaya, dikejar-kejar, diboikot, diancam bunuh, kini telah kembali dengan kemenangan yang besar. Perjanjian yang mereka buat setahun lalu di Hudaibiyah ternyata tidak membuat cahaya itu redup. Justru sebaliknya, kini makin berpijar menerangi sekalian jazirah Arab.</p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=27&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/sebab-mengalah-belum-tentu-berarti-kalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih Mati Untuk Kekasih</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/memilih-mati-untuk-kekasih/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/memilih-mati-untuk-kekasih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 11:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Keberanian]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[“Hudzail! Hudzail! Hudzail!” Utusan dari Adhal dan Qarah itu tiba-tiba berteriak-teriak, seperti seorang kepala perampok memanggil gerombolan tengiknya. Seketika bermunculan orang-orang Bani Hudzail di sekeliling mereka, beramai-ramai, serasa seperti keluar begitu saja dari dalam bumi tempat mereka berpijak. Tak kurang 200 orang berwajah tak ramah kini meringsek maju mendekati mereka. Pedang-pedang terhunus dan teracung di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=25&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Hudzail! Hudzail! Hudzail!”</p>
<p>	Utusan dari Adhal dan Qarah itu tiba-tiba berteriak-teriak, seperti seorang kepala perampok memanggil gerombolan tengiknya. Seketika bermunculan orang-orang Bani Hudzail di sekeliling mereka, beramai-ramai, serasa seperti keluar begitu saja dari dalam bumi tempat mereka berpijak. Tak kurang 200 orang berwajah tak ramah kini meringsek maju mendekati mereka. Pedang-pedang terhunus dan teracung di tangan. Pasukan yang tiba-tiba muncul itu bergerak merapat membentuk formasi lingkaran, membuat rombongan kecil itu terkepung tanpa celah untuk meloloskan diri.</p>
<p>	Ashim bin Tsabit, Martsad bin Abi Martsad, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, Khalid bin Bukair, dan Abdullah bin Thariq merapatkan tubuh mereka satu dengan lainnya. Naluri mereka sama: ini sebuah jebakan! Mereka telah masuk perangkap utusan Adhal dan Qarah yang telah meminta Nabi mengirim utusan untuk mengajari mereka akan Islam. Semua itu ternyata hanyalah dusta! </p>
<p>	Keenam sahabat yang dipilih Nabi sebagai utusan itu pun mencabut pedang masing-masing: senjata yang biasa mereka bawa, yang sama sekali tak memadai untuk bertempur menghadapi musuh dalam peperangan. Karena itu, melawan dua ratus orang bersenjata lengkap adalah hal gila yang pernah mereka putuskan dalam hidup. Tetapi, buat mereka tak ada pilihan lain. Lebih baik berputih mata berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Mereka pun bertarung sengit, melayani serangan demi serangan yang datang tak seimbang, mengikhlaskan luka demi luka tergores dan tertoreh di badan mereka.</p>
<p>	“Kami tidak memerangi kamu sekalian!” seru seorang dari pengepung itu. ”Demi Allah, kami tidak akan membunuh kalian! Tetapi kami hanya bermaksud mencari upah dari orang-orang Quraisy Mekah terhadap diri kalian!”</p>
<p>	Tetapi keenam sahabat itu sudah menulikan telinga mereka. Tak ada perkataan yang layak dipercaya di belakang dusta. Mereka dengan gagah berani meladeni musuh yang silih berganti datang menyerang dari segala sudut. </p>
<p>	”Kami tidak akan membunuh kalian!” seru seorang musuh diantara percik denting pedang yang sengit beradu. ”Kami hendak mengantarkan kalian kembali ke Mekah. Kembali kepada keluarga kalian sendiri!”</p>
<p>	Kembali ke Mekah sebagai tawanan Quraisy adalah aib besar dan kehinaan yang tak bisa mereka terima. Mereka lalu menjawab perkataan itu dengan lebih sengit meningkatkan serangan terhadap musuh. Tetapi, apalah daya enam orang melawan berpuluh kali lipat musuh yang mengepung mereka. Lambat laun, serangan mereka pun semakin lemah. Dan pada gilirannya, pedang-pedang musuh menghunjam tubuh mereka satu demi satu. </p>
<p>”Mati itu haq dan hidup itu bathil,” jawab Ashim bin Tsabit di tengah serangan musuh. ”Tiap-tiap apa yang telah diputuskan Tuhan, tentu datang pada seseorang dan orang itu pasti kembali kepada-Nya!” Itulah kata-kata terakhir sebelum Ashim akhirnya gugur. Khalid pun menyusul bersimbah darah berkalang tanah. Demikian juga Martsad ambruk tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya. Pasukan tengik itu pun segera mengerubut ketiga sahabat yang tersisa, yang terus mengadakan perlawanan. Ketiganya berhasil diringkus, ditangkap, dan diikat dengan tali yang kuat, dan digelandang menuju Mekah sebagai tawanan. </p>
<p>	Di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan ikatan tangannya. Ia segera menghunus pedang dan menyerang kembali pengawal di sekelilingnya. Ia pun dikeroyok puluhan orang, dilempari bertubi batu-batu besar, hingga akhirnya rebah, jatuh terhempas ke atas tanah dengan koyakan luka menganga di setiap bagian tubuhnya.</p>
<p>***</p>
<p>Hari itu Khubaib dibawa keluar dari kota Mekah. Seluruh tubuhnya masih ngilu dan pedih diantara luka yang belum sembuh, bekas aniaya dan siksaan Hujair bin Ihab, seorang dari keturunan al-Harits. Khubaib menjadi tumbal balas dendam atas kematian Uqbah bin al-Harits di tangan kaum muslimin dalam sebuah pertempuran. </p>
<p>	Pada suatu tempat telah berkumpul segenap ketua dan kepala kabilah Quraisy atas undangan Hujair. Sebuah panggung bertiang gantungan telah disiapkan untuk Khubaib, ditonton oleh sekalian orang dari kalangan Quraisy. Khubaib dengan tenang memandang berkeliling tempat itu. Tak ada sedikit pun rasa takut hinggap di hatinya. Ia pun mengajukan sebuah permintaan terakhir kepada mereka. ”Tinggalkan aku barang sebentar, aku akan mengerjakan shalat.”</p>
<p>	Segenap yang hadir meluluskan permintaannya. Khubaib pun bertakbir, menghadapkan wajahnya kepada sang Khaliq, dan bersujud syahdu menyelesaikan dua rakaat shalat terakhirnya. ”Demi Allah, jika sekiranya aku tidak khawatir bahwa kalian menyangka aku memanjang-manjangkan shalat karena takut dibunuh, niscaya aku menambah dan memperbanyak shalatku,” kata Khubaib seusai shalat kepada mereka yang hadir.</p>
<p>	Ia pun diikat dan dinaikkan ke tiang gantungan. Matanya pun berlinang-linang bahagia. Semangat itu masih menyala-nyala sembari melihat kemarahan dan dendam terpancar dari wajah sekalian yang hadir kepadanya. </p>
<p>	”Ya Allah! Hitunglah bilangan mereka!” serunya dalam bait doa. “Bunuhlah mereka dengan bercerai-berai. Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari mereka itu!”</p>
<p>	Tali dilehernya pun kini dieratkan. Napasnya seperti terhenti di tenggorokan. ”Ya Allah!” serunya dalam sengal kesesakan. ”Beritakanlah dari kami kepada Rasul Engkau!” Lantas ia pun bersyair,</p>
<p>	”Maka tidaklah mengapa ketika aku dibunuh dengan Islam;<br />
	atas belahan manapun bagi Allah, aku terbunuh.<br />
	Dan yang demikian itu, pada Zat Tuhan jika Ia berkehendak,<br />
	Ia akan memberkahi atas anggota tubuh yang dipotong-potong.”</p>
<p>	Tali pun seketika ditarik. Tubuh itu kini melambung di udara dengan kaki tak menjejak tanah. Tergantung dengan leher nyaris patah dan napas terputus satu demi satu. Khubaib pun rela menemui syahid demi selembar iman yang terhunjam di dalam dada.</p>
<p>***</p>
<p>Hidup adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, hidup penuh kemuliaan dan kehormatan adalah sebuah pilihan hidup yang lebih baik. Mati pun adalah sebuah kepastian. Tetapi, mati secara syahid, membela iman di dalam dada, adalah sebuah pilihan mati yang jauh lebih baik.</p>
<p>Sekedar hidup atau sekedar mati begitu saja, karenanya, hanyalah kesia-siaan belaka. Sebuah kesalahan besar seseorang dalam hidup. Karena itu, dalam hidup, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan. Pun demikian dalam menggapai kematian, harus ada sesuatu yang dibela dan diperjuangkan; agar hidup atau mati itu menjadi bermakna. </p>
<p>’Isy Kâriman au Mut Syâhidan!</p>
<p>	Jika tak bisa hidup penuh kehormatan dan kemuliaan, berkalang tanah sebagai syahid adalah pilihan yang lebih baik. Bahkan syahid adalah cita-cita seorang muslim. </p>
<p>	Hanyalah ketika dalam posisi yang notabene tak berdayalah seseorang justru akan teruji betul terhadap kesetiaannya pada apa yang dibela dan diperjuangkan. Apatah ia dalam kondisi serba kekurangan, serba dalam keterbatasan, kelaparan yang amat sangat, atau tak berpunya apa-apa. Dalam kondisi seperti ini, idealismenya akan perjuangan dan apa-apa yang dibelanya berada di ujung tanduk. Sedikit saja ia salah mengambil keputusan, maka tergelincirlah dia. </p>
<p>Dan kondisi paling kritis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara hidup atau mati. Bagaimanapun, mati adalah keniscayaan yang kebanyakan orang takut kepadanya. Keniscayaan yang bakal pasti datangnya, tetapi orang seringkali lupa bahwa ia suatu saat akan datang tanpa diundang. Justru pada kondisi seperti inilah, ujian terberat terhadap idealisme dilangsungkan.</p>
<p>Itulah yang terjadi dengan keenam sahabat yang dikirim Nabi ke kabilah Bani Hudzail untuk mengajarkan Islam itu. Ketika dihadapkan pada 200 orang bersenjata yang menjebak mengepung mereka, maka kematian sudah pasti di pelupuk mata. Bagaimana tidak? Enam orang melawan dua ratus orang adalah hal yang secara nalar mustahil bisa selamat kecuali mengorbankan idealisme atau terjadi hal-hal yang luar biasa atas izin Allah. Dan keenam pahlawan dalam peritiwa Ar-Raji itu memilih memperjuangkan idealismenya hingga tetes darah penghabisan. Mereka memilih mempertahankan iman di dalam dadanya dan rela menyerahkan nyawanya demi seorang yang dicintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri. </p>
<p>***</p>
<p>”Hai Zaid!” kata Abu Sufyan. ”Apakah sekarang ini kamu suka jika sahabatmu, Muhammad, dijadikan ganti dirimu untuk dipotong batang lehernya, dan kamu pulang dan bersenang-senang di rumah keluargamu?”</p>
<p>	Tiba-tiba saja Abu Sufyan datang tepat sebelum Nasthas, budak Shafwan bin Umayyah, membunuhnya. Dedengkot Quraisy itu datang menawarkan ampunan dan kebebasan asal ia meninggalkan Islam. </p>
<p>	Zaid bin Datsinah tersenyum dan menjawab dengan tegas, ”Hmm, demi Allah! Tidak sekali-kali aku suka Nabiku Muhammad terkena sakit, bahkan lantaran tusukan sebatang duri sekalipun di atas tubuhnya, sementara aku bersenang-senang bersama keluargaku.”</p>
<p>	Abu Sufyan menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya berkata, ”Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu mencintai sahabatnya sebagaimana sahabat Muhammad mencintai dirinya.”</p>
<p>	Nasthas pun langsung menuntaskan tugasnya. Zaid mati seketika, menggapai syahid, menyusul kelima sahabatnya menuju pintu surga.</p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=25&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2008/04/15/memilih-mati-untuk-kekasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Cinta di Sebalik Gua</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/25/ada-cinta-di-sebalik-gua/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/25/ada-cinta-di-sebalik-gua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 09:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Keberanian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uswah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[“Ada apa, wahai Abu Quhafah?” tanya Rasulullah heran. “Aku tidak mengerti akan perbuatanmu ini!” Lepas dari Makkah, kedua lelaki itu segera menyusur jalan menuju Yatsrib di Utara. Menuju tanah yang ditunjukkan Tuhan seperti Musa membelah Laut Merah menuju tanah yang dijanjikan di seberang lautan yang terbelah. Sesekali Abu Bakar berjalan di depan lelaki yang dicintainya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=24&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://www.abubakartravel.com.sg/graphics/jabal%20tsur.JPG" alt="Gua Tsur" />“Ada apa, wahai Abu Quhafah?” tanya Rasulullah heran. “Aku tidak mengerti akan perbuatanmu ini!”</p>
<p>Lepas dari Makkah, kedua lelaki itu segera menyusur jalan menuju Yatsrib di Utara. Menuju tanah yang ditunjukkan Tuhan seperti Musa membelah Laut Merah menuju tanah yang dijanjikan di seberang lautan yang terbelah. Sesekali Abu Bakar berjalan di depan lelaki yang dicintainya itu. Sebentar kemudian putra Abu Quhafah itu pindah di belakangnya. Sebentar kemudian, ia pindah di kanannya. Sebentar kemudian pindah pula di sisi kirinya. Demikian itu dilakukannya berulang-ulang.</p>
<p>“Ya, Rasulullah!” jawab Abu Bakar. “Saya teringat akan pengintai, maka saya ada di depan engkau. Saya teringat akan para pencari, maka saya ada di belakang engkau. Sesekali saya di kanan engkau. Sesekali saya di kiri engkau.&#8221;</p>
<p>Sampailah mereka pada malam yang larut. Gelap pekat membungkus bumi. Tak ada seberkas sinar pun di sekeliling mereka kecuali kerlip bintang di langit sahara bulan Shafar. Gunung Tsur yang kini menjulang di hadapan keduanya serupa raksasa hitam yang berdiri kokoh dan angkuh, siap menerkam bulat-bulat. Senyap menyergap. Sunyi. Tak ada suara yang tertangkap telinga kecuali derap langkah kaki telanjang mereka pada kerontang tanah padang pasir sepanjang jalan.<br />
Kedua orang itu lantas mendaki raksasa hitam di hadapan mereka dan menemukan sebuah lubang besar di perutnya. Orang-orang menyebutnya Gua Tsur. Sebuah gua yang terkenal berbahaya karena di dalamnya berisikan binatang liar dan buas, terutama ular-ular berbisa. Tak seorang pun mau memasuki lubang itu, menyerahkan tubuhnya tercabik dan nyawanya hilang percuma pada sekelompok ular kelaparan.</p>
<p>Abu Bakar lantas meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk memeriksa bagian dalam gua itu. Lelaki kinasih itu pun mengiyakan. Masih membekas dalam ingatannya, bagaimana teman seperjalanannya itu menjaga dirinya ketika keluar dari Makkah beberapa saat yang lalu. Ia kini memasang badan memasuki sebuah gua yang mungkin tak seorang pun pernah merambahnya. Segala sesuatu bisa terjadi pada laki-laki itu. Tapi bagaimanapun mereka perlu tempat berteduh, bermalam, sekaligus bersembunyi. Orang-orang Quraisy Makkah pasti sedang disebar ke segenap penjuru untuk mencari jejak-jejak kaki mereka, memburu, dan menangkap mereka hidup atau mati.</p>
<p>Abu Bakar lalu membersihkan bagian dalam gua itu dari semak-perdu dan kotoran. Ia mengoyak kain bajunya untuk alas mengambil dan memindah batu demi batu yang teronggok di sana. Sesobek demi sesobek. Secarik demi secarik. Bagaimanapun, di dalam ruang yang gelap seperti itu siapa yang bisa membedakan antara sebongkah batu dengan ular yang sedang bertapa?</p>
<p>Kini seluruh bagian bajunya sudah terkoyak habis. Namun masih ada seonggok batu yang belum terpindahkan. Ia sepakkan kakinya untuk memindah batu itu. Namun tiba-tiba … crep! Seekor ular menyarangkan mulut bertaringnya dan mematuk kaki laki-laki itu. Luka pun menganga. Bekas gigitan tercipta dengan luka menetes darah. Bisa pun bertukar tempat dan kini bersemayam dalam aliran darah laki-laki itu. </p>
<p>Tanpa mengindahkan keadaannya, Abu Bakar mempersilakan lelaki kinasihnya itu masuk ke dalam gua. Rasulullah pun segera tertidur di pangkuan laki-laki itu karena saking payahnya.</p>
<p>Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya. </p>
<p>Terkejut lelaki kinasih itu. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. &#8220;Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?&#8221; tanyanya penuh keheranan.</p>
<p>Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, &#8220;Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”</p>
<p>“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.</p>
<p>Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”</p>
<p>                                                               ***</p>
<p>True love doesn&#8217;t need words, true love can speak for itself. Cinta sejati tak perlu ‘dikatakan’, karena cinta yang sebenar-benar cinta bisa berbicara tentang dirinya sendiri. </p>
<p>Orang boleh mengobral kata ketika mengungkapkan rasa cinta. Orang sah-sah saja menulis berlembar surat dan menumpahkan segala perasaan cintanya pada seseorang lewat tulisan itu. Tetapi jika semuanya berhenti hanya dalam bentuk demikian, maka rasa cinta itu tak lebih dari sebatas artifisial belaka. Ia cinta cap tong kosong. Rapuh dan hanya nyaring bunyinya. </p>
<p>Karena itu, cinta pada hakikatnya adalah pengorbanan. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Postulat ini sudah begitu mendarah daging dalam jagad percintaan. Cinta karenanya bukanlah jalan di tempat. Ia harus bergerak. Ia harus dibuktikan. Itulah mengapa seseorang rela menyelam ke dasar lautan, terbang menembus batas langit, berjalan bermil-mil mengitari bumi hingga ke ujungnya karena cinta yang sedemikian. </p>
<p>Dan puncak dari pengorbanan itu kiranya adalah pertaruhan nyawa. Puncak pengorbanan adalah ketika nyawa direlakan untuk keselamatan yang dicinta. Cinta ibunda kepada anaknya adalah contoh yang paling nyata. Saat melahirkannya, sang Ibunda ikhlas sepenuh hati seandainya terambil nyawanya sekalipun, asal anak yang dikandungnya selamat terlahir ke dunia.</p>
<p>Adakah pengorbanan demi cinta yang lebih besar dari itu semua? </p>
<p>Abu Bakar mendemonstrasikan cinta yang tak terukur itu empat belas abad yang lalu. Dalam gelap gua. Ia rela menahan perih dan lara yang tak terkira. Lebih dari itu, ia ikhlas meregang nyawa ketika bisa ular itu bekerja menyusuri aliran darahnya hingga membuat bengkak di kakinya, hanya karena tidak ingin tidur Rasulullah, seorang yang dicintanya melebihi siapapun, terusik di atas pangkuannya. Ia mengorbankan nyawanya hanya karena “takut membangunkan” Rasulullah! Amboi, betapa tidak sepadannya antara nyawa dan tidur yang terusik?</p>
<p>Tidaklah heran jika sahabat yang satu ini sangat tinggi kedudukannya di mata Rasulullah Saw dan para sahabat. Kepadanyalah kita patut belajar tentang cinta.</p>
<p>                                                                ***</p>
<p>Fajar menyingsing. Sinarnya memasuki celah-celah gua itu. </p>
<p>Rasulullah pun memeriksa bengkak luka di kaki Abu Bakar. Lelaki kinasih itu lalu mengusap luka itu perlahan dengan tangannya. Seketika itu juga lenyaplah segala perih dan bengkak luka itu. Abu Bakar merasakan kakinya telah kembali seperti semula tanpa sakit yang tersisa. </p>
<p>Kemudian Rasulullah melihat pakaian sahabatnya yang telah habis terkoyak. “Mengapa pakaianmu, wahai Abu Bakar?”</p>
<p>Abu Bakar pun menceritakan semuanya yang telah terjadi.</p>
<p>Demi mendengar cerita lelaki budiman itu, Rasulullah pun mengangkat tangan seraya mengucap doa, “Ya Allah! Jadikanlah Abu Bakar kelak di Hari Kiamat pada derajat (pangkat)ku!”</p>
<p>                                                                  ***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=24&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/25/ada-cinta-di-sebalik-gua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.abubakartravel.com.sg/graphics/jabal%20tsur.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Gua Tsur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teladan Penting di Situasi Genting</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/04/teladan-penting-di-situasi-genting/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/04/teladan-penting-di-situasi-genting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2008 12:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Keberanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/04/teladan-penting-di-situasi-genting/</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu Sabtu, akhir bulan Shafar, tahun ke-13 setelah kenabian. Darun Nadwah hari itu begitu riuh. Seratus dedengkot kepala kabilah Arab di kota Mekah dan sekitarnya hadir berkumpul. Tak ada satu kabilah pun yang tak datang kecuali mengutus perwakilannya. Tak ayal lagi, ini adalah majelis terbesar yang mewakili suara seluruh kabilah Arab. Karena bagaimanapun, tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=23&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.subudyouth.org/UserFiles/Image/The%20Hijrah.jpg"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://www.subudyouth.org/UserFiles/Image/The%20Hijrah.jpg" border="0"></a>Hari itu Sabtu, akhir bulan Shafar, tahun ke-13 setelah kenabian. </p>
<p>Darun Nadwah hari itu begitu riuh. Seratus dedengkot kepala kabilah Arab di kota Mekah dan sekitarnya hadir berkumpul. Tak ada satu kabilah pun yang tak datang kecuali mengutus perwakilannya. Tak ayal lagi, ini adalah majelis terbesar yang mewakili suara seluruh kabilah Arab. Karena bagaimanapun, tidak ada agenda pembicaraan hari itu kecuali: mencari cara bagaimana membungkam lelaki Bani Hasyim itu untuk selama-lamanya!</p>
<p>Pada saat yang sama, seorang lelaki berjalan terburu-buru ke arah rumah Abu Bakar. Ia menutupi muka dan kepalanya di bawah terik matahari yang membakar. Lantas dengan suara keras, ia memanggil-manggil sahabatnya itu.</p>
<p>“Wahai Abu Quhafah,” kata lelaki itu begitu Abu Bakar menyongsongnya dengan bergegas. Wajah sang pemiliki rumah masih diliputi keheranan, karena Rasulullah datang tidak seperti biasanya. “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengizinkan aku keluar dan hijrah ke Madinah.”</p>
<p>Dengan berseri, Abu Bakar menyahut, “Berkawan dengan saya, ya Rasulullah?”</p>
<p>Lelaki itu pun menjawab, “Ya, dengan izin Allah.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Abu Bakar menangis tersedu. Betapa sudah berbilang bulan ia menantikan hari itu, hari ketika Allah mengizinkan berhijrah bersama lelaki yang dicintainya itu ke negeri Yatsrib di utara. </p>
<p>Seperti tersadar, tiba-tiba Abu Bakar berkata, &#8220;Ya Rasulullah! Ambillah salah satu dari kedua ekor unta saya untuk kendaraan engkau.”</p>
<p>“Tidak, ya Abu Bakar,” jawab Rasulullah. “Aku tidak akan mengambilnya kecuali dengan membelinya lebih dulu darimu seharga ketika engkau membelinya.” Lelaki kinasih itu lantas memilih salah satu dari kedua unta itu dan membelinya seharga 800 dirham. Ia lalu bergegas kembali ke rumahnya*.</p>
<p>***</p>
<p>Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala. Terang berangsur bertukar dengan gelap. Dan Mekah pun segera dibekap gelapnya malam.</p>
<p>Serombongan pemuda terpilih dipimpin Khalid bin Walid segera datang ke rumah Rasulullah. Mereka bersenjata lengkap di tangan. Lalu berbondong seratus orang kepala kabilah Quraisy mengiringi para pemuda itu. Mereka lalu menyebar, mengepung rapat kediaman lelaki agung itu dari depan, belakang, kiri, dan kanan. Tak ada celah yang tersisa untuk dirinya lewat kecuali berpuluh pedang siap menebasnya. </p>
<p>Di dalam rumah, Rasulullah dengan suara perlahan meminta Ali bin Abi Thalib yang telah hadir untuk tidur di tempat tidurnya. “Tidurlah di tempat tidurku berselimutkan kain Hadramiku!&#8221; kata lelaki itu. &#8220;Tidak akan mengenai dirimu sesuatu yang tidak kau sukai dari mereka, Ali.&#8221;</p>
<p>Pemuda itu mengangguk, lantas berbaring di tempat tidur Rasulullah dan berselimutkan kain hijau dari Hadramaut. Tanpa ragu. Padahal seratus pedang terhunus haus darah di luar rumah siap menerkamnya sewaktu-waktu. Tugas lain dari Rasulullah masih menantinya esok hari untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan orang kepada beliau ke masing-masing pemiliknya.</p>
<p>Sementara itu, Abu Jahal berteriak-teriak dari luar rumah. &#8220;Muhammad menyangka jika kita mengikutinya, kita akan menjadi penguasa atas bangsa Arab dan menjadi raja atas bangsa-bangsa lain. Jika kita mati, kita akan dihidupkan kembali, lalu dimasukkan ke dalam surga. Di sana kita akan diberi makanan yang enak, perempuan yang cantik-cantik, pakaian dan perhiasan yang elok. Dan jika kita tidak mengikutinya, kita akan akan dibunuh, dipotong-potong seperti kambing, dan diperlakukan sebagai budak belian oleh dirinya. Sesudah mati, kita akan dibakar dengan api yang panasnya luar biasa di dalam neraka!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku berkata demikian,&#8221; jawab lelaki kinasih itu dari dalam rumah. &#8220;Kaulah salah seorang diantara mereka!”</p>
<p>Rasulullah lantas keluar rumah dengan perlahan. Ia mengambil segenggam pasir, lalu menaburkannya ke atas kepala para pemuda terpilih yang mengepungnya sambil membaca, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. 36: 9).</p>
<p>***</p>
<p>Force Majeur atau keadaan kahar adalah suatu keadaan yang di luar prediksi, terjadi tanpa bisa dicegah dan berpotensi merusak atau mengancam sebuah usaha atau pekerjaan sehingga tak mungkin bisa diteruskan lagi. Biasanya di dalam setiap perjanjian kerja sama selalu dicantumkan klausul tentang keadaan luar biasa ini sebagai antisipasi kalau-kalau dalam masa kerja sama ternyata terjadi. Jika benar-benar terjadi, maka ada klausul-klausul yang memberikan dispensasi, kelonggaran-kelonggaran, perpanjangan waktu, dan bentuk-bentuk kemudahan dan permisif lainnya.</p>
<p>Bentuk-bentuk force majeur beragam. Bencana alam, huru-hara, gempa bumi, kebakaran, hingga peperangan. Secara logika, pemberian kelonggaran terhadap keadaan luar biasa seperti ini tentu sangatlah wajar.</p>
<p>Suasana menjelang hijrah Rasulullah adalah saat yang genting. Betapa tidak? Hampir tiap saat, jiwa Rasulullah selalu terancam. Sejak tahu bahwa kaum muslimin secara berangsur hijrah ke Yatsrib, maka kaum musyrikin Quraisy sampai pada pendapat bahwa tidak ada jalan lain untuk menghentikan dakwah ini kecuali terlebih dahulu membinasakan Rasulullah Saw. Maka, tiap saat mereka mengintai Nabi, siang malam, dengan maksud kalau dapat menjumpainya di suatu tempat yang sunyi, maka Nabi hendak dibunuh. Pada peristiwa dakwah Nabi kepada orang-orang yang berhaji di Mina misalnya, beliau dilempari batu dan pasir, dihina, dicacimaki sekeji-kejinya oleh mereka, terutama Abu Lahab. Bahkan Allah sampai menurunkan ayat, “… Allah memelihara kamu (Muhammad) dari (gangguan) manusia.” (Q.S. 5: 67).</p>
<p>Bahkan malam ketika Rasulullah hendak hijrah ke Madinah, sepasukan pemuda perkasa dan para ketua kabilah musyrikin Mekah mengepung rumah beliau dengan senjata terhunus. Apalagi kalau bukan mengincar nyawa beliau? Bukankah ini adalah keadaan kahar yang nyata? Keadaan genting yang jelas-jelas mengancam jiwa, dimana rukhsoh  atau kemudahan pada situasi seperti ini wajar diterima.</p>
<p>Tetapi, itulah bedanya Rasulullah Saw., sang qudwatul hasanah. Pada keadaan terjepit itu, beliau kuasa menolak pemberian gratis Abu Bakar berupa seekor unta sebagai tunggangan. Padahal Abu Bakar adalah sahabat dekatnya yang terpercaya, kepada siapa dirinya biasa bertukar pikiran. Situasi saat itu pun menyebabkan sangatlah wajar jika beliau mendapatkan bantuan. Tetapi, kenyataannya: tidak. Beliau hanya mau menerima unta itu dengan jalan jual-beli dan bukan semata hadiah. Itu berarti, Nabi memikirkan efek jangka panjang dalam dakwah jika saja menerima hadiah unta itu dari Abu Bakar. Karena hadiah, bagaimanapun, bisa memicu perasaan keharusan membalas budi. Dan itu sungguh tak baik untuk jalannya dakwah.</p>
<p>Yang kedua, beliau pun masih sempat berpesan kepada Ali bin Abi Thalib sebelum pergi untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan orang kepadanya. Ini adalah akhlak yang luar biasa. Seorang yang tajam pedang sudah teracung di lehernya masih sempat menunaikan amanah yang diberikan orang kepadanya. Andai saja tak dikembalikan, barangkali mereka yang titip sesuatu kepada beliau pun tidak akan menuntut macam-macam karena sangat maklum.</p>
<p>Di tengah merebaknya kasus-kasus grativikasi (istilah hadiah di zaman modern ini, tetapi kebablasan) yang menimpa banyak pejabat saat ini, juga banyaknya amanah yang diabaikan dengan alasan keterpaksaan atau keadaan darurat, maka teladan Rasulullah saat hijrah ke Madinah di atas agaknya layak kita ambil sebagai ibrah. </p>
<p>***</p>
<p>Malam telah bergulir larut. Tiba-tiba seorang lelaki tua datang ke kerumunan pengepung di luar rumah itu, yang bahkan semuanya telah tertidur di tempatnya masing-masing. “Hai orang banyak!” serunya lantang. “Kalian di sini menunggu apa?”</p>
<p>Mereka terperanjat dan geragapan bangun dari tidurnya. Sebagian dari mereka menjawab, “Kami sedang menunggu Muhammad!”</p>
<p>“Mengapa kalian enak-enakan tidur dengan pulasnya?” sergah lelaki asing itu. “Kalau kalian menanti Muhammad di sini, ia tidak akan kalian dapati!”</p>
<p>“Mengapa begitu? Bukankah Muhammad masih di dalam rumah?”</p>
<p>“Oh, betapa kasihannya kalian ini! Muhammad sudah pergi dari tadi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana mungkin? Kami tahu Muhammad masih tidur di dalam rumah, mengapa kau bilang sudah pergi?&#8221;</p>
<p>Lelaki tua itu lalu berkata, &#8220;Kalau kalian tak percaya, cobalah lihat kepala kalian. Siapakah yang menaburkan pasir di atas kepala kalian masing-masing?”</p>
<p>Para pemuda perkasa itu meraba kepalanya, saling memandang satu sama lain, dan menemukan butiran pasir di atas kepalanya masing-masing.</p>
<p>“Kurang ajar!” sungut mereka. Lalu mereka bergegas mengetuk rumah Nabi dengan bertubi dan memanggil dengan kerasnya. “Muhammad! Muhammad! Muhammad!”</p>
<p>Pintu rumah itu pun kemudian dibuka dari dalam. Dengan suara lembut, seorang pemuda yang kemudian muncul di balik pintu bertanya, “Ada apa?”</p>
<p>Para pengepung bersenjata lengkap itu terperanjat. “Mana Muhammad? Mana Muhammad, ya Ali?”</p>
<p>Pemuda itu menjawab, “Entah, aku tidak tahu.”</p>
<p>“Lho, siapakah yang tidur di tempat tidur Muhammad dari tadi?”</p>
<p>“Aku.”</p>
<p>***</p>
<p>Ket.<br />
* Kisah hijrah ini diambil dari satu versi sejarah diantara beberapa versi sejarah hijrah yang sedikit berbeda.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=23&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2008/01/04/teladan-penting-di-situasi-genting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.subudyouth.org/UserFiles/Image/The%20Hijrah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ia Yang Selalu Tersenyum</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2007/11/28/ia-yang-selalu-tersenyum/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2007/11/28/ia-yang-selalu-tersenyum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 16:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih-sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Uswah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2007/11/28/ia-yang-selalu-tersenyum/</guid>
		<description><![CDATA[Madinah kering-kerontang. Debu beterbangan di setiap tempat, seperti kabut tipis yang dimainkan angin. Butirannya panas seperti bara ketika memercik wajah, ngilu serta perih ketika bersarang pada sudut mata. Pelepah kurma meranggas-ranggas dengan buahnya berjuntai-juntai mendekati ranum. Sumur-sumur dan kolam air kini tinggal kubangan tanah merekah yang merana dan sepi. Hujan sudah lama tidak pernah turun. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=22&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://images.bahtiarhs.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R03nuwoKCr0AAH5CdfM1/ais%20fia.JPG?et=njTnlwB%2CIuZLXN5txvGMSw"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://images.bahtiarhs.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R03nuwoKCr0AAH5CdfM1/ais%20fia.JPG?et=njTnlwB%2CIuZLXN5txvGMSw" border="0"></a>Madinah kering-kerontang. Debu beterbangan di setiap tempat, seperti kabut tipis yang dimainkan angin. Butirannya panas seperti bara ketika memercik wajah, ngilu serta perih ketika bersarang pada sudut mata. Pelepah kurma meranggas-ranggas dengan buahnya berjuntai-juntai mendekati ranum. Sumur-sumur dan kolam air kini tinggal kubangan tanah merekah yang merana dan sepi. </p>
<p>Hujan sudah lama tidak pernah turun. </p>
<p>Suatu hari, orang-orang datang kepada Rasûlullâh Saw. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, Rasûlullâh. Hujan sudah lama tidak turun di Madinah. Sudilah kiranya engkau mintakan hujan kepada Rabb engkau!”</p>
<p>Laki-laki itu memandang lekat-lekat kepada setiap wajah yang hadir. Ia lalu memerintahkan mereka untuk memasang mimbar di tanah lapang tempat shalat. Dan sebuah hari telah dipilih agar orang-orang berkumpul di tanah lapang itu.</p>
<p>Hari yang ditetapkan itu pun tiba. Sekalian orang berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing menuju tanah lapang. </p>
<p>Rasul yang mulia itu pun keluar bersama dengan mereka. Ia lalu berdiri di atas mimbar, bertakbir menggelegar, dan bertahmid kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan kekeringan tempat tinggal kalian. Kalian juga mengadukan mundurnya turun hujan dari permulaan waktunya. Sementara Allâh telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan berjanji untuk memenuhi permintaan kalian.”</p>
<p>Laki-laki kinasih itu kemudian memandang ke arah langit yang tinggi. Para sahabat yang berkumpul di tanah lapang itu pun menjadi saksi atas langit yang bersih, tempat tak sepotong mendung pun menggantung menghiasinya. Seperti tak ada harapan sedikitpun hujan bakal bisa ditumpahkan dari celah-celahnya.</p>
<p>Rasul Saw. lalu mengangkat kedua belah tangannya. Tinggi-tinggi menunjuk langit, sampai-sampai tampak kulit ketiaknya yang putih bercahaya diterpa sinar matahari. Kemudian ia membelakangi orang-orang dan mengalihkan kain selendangnya. Tangannya tetap terangkat ke udara. Tak lama kemudian, ia membalikkan badannya lagi dan menghadap ke orang banyak. Setelah itu, ia turun dari mimbar dan shalat dua rakaat. </p>
<p>Tiba-tiba, langit yang cerah itu berubah. Mendung berdatangan seperti payung-payung langit. Guntur menggelegar. Kilat menyambar-nyambar. Hujan pun turun deras seperti ditumpahkan dari langit. Tanah-tanah basah. Tempat shalat pun dialiri air yang deras.  </p>
<p>Kerumunan di tanah lapang itu pun semburat pergi. Bergegas berlari-lari, pulang ke rumah masing-masing. </p>
<p>Melihat orang-orang yang bergegas pergi, Rasul yang agung itu pun tersenyum, hingga gusinya terlihat. Ia lalu bersabda, &#8220;Aku bersaksi bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Hujan pun terus turun dari Jum’at hingga ke Jum’at berikutnya. Seperti dituangkan dari kolam air langit yang sumbernya tak pernah habis, yang tak hendak berhenti. Kota menjadi tergenang oleh air.</p>
<p>Ketika itu, Rasul sedang menyampaikan khutbahnya di masjid. Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata, “Ya, Rasulullah. Kami kini tenggelam sebab hujan yang tak henti-henti. Sudilah kiranya engkau berdoa kepada Rabb engkau agar Ia menghentikan hujan ini dari kami.&#8221; </p>
<p>Rasul yang penuh kasih itu pun tersenyum mendengarnya. Lalu laki-laki kinasih itu berdoa, &#8220;Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan bukan kepada kami.&#8221;</p>
<p>Tak lama kemudian, sekumpulan mendung seperti diperintah menyingkir ke arah kiri dan kanan, menjauhi kota Madinah. Hujan pun kini beralih hanya di sekitar kota itu. Dan Madinah seketika reda dari hujan. </p>
<p>***</p>
<p>Mulutmu, Harimaumu.</p>
<p>Itu berarti, mulut adalah sebuah kekuatan dua arah. Di satu sisi, ia bisa mempengaruhi orang lain dengan kekuatannya. Tetapi di sisi lain, jika salah arah, maka sebab mulut, kekuatan itu bisa berbalik arah memakan diri sendiri. Seperti ketika kau salah melepas harimaumu, maka ia sangat mungkin akan menerkam dirimu sendiri.</p>
<p>Karena itu, mulut harus dijaga ketat; tidak saja dalam artian fisik, tetapi juga maknawi. Ia adalah salah satu dari dua lubang yang kita miliki &#8212; disamping farji, yang rawan menghantarkan seseorang masuk ke lubang lain yang lebih mengerikan: neraka. Penjagaan itu tidak saja terbatas pada apa yang mulut keluarkan – berupa kata-kata dan segala macam suara – melainkan juga apa yang ia kesankan. Oleh karena itu, kata orang, mulut mampu mengeluarkan berjuta makna bahkan tanpa perlu berkata-kata. Mulut sangat elastis hingga bisa menekuk, mengatup, menganga, memanjang, membentuk huruf O; dimana setiap bentuk mewakili sejuta arti.</p>
<p>Apa yang Anda rasakan jika sedang berbicara dengan seseorang, tetapi mulutnya terkatup rapat dan kaku serupa gembok karatan menguncinya? Atau apa yang Anda rasakan setelah penat peras keringat banting tulang seharian menjumpai putri tercinta menyambut Anda di pintu rumah dengan tawa yang riang?</p>
<p>Itulah kekuatan mulut. Karena itu, bahkan sesungging senyum di bibir mulut yang tulus bisa berarti sangat dalam. Rasûlullâh Saw. sampai-sampai mengatakan bahwa senyuman di bibir yang menghias wajah menjadi sumringah ketika bertemu dengan seseorang merupakan shadaqah. </p>
<p>Bahkan Rasûlullâh Saw. adalah orang yang paling banyak tersenyum. Tetapi senyum beliau adalah senyum ketika saatnya memang layak tersenyum. Paling banter menampakkan gigi atau gusinya, tanpa terbahak-bahak. Senyum yang demikian merupakan senyum yang penuh kharisma. </p>
<p>Aisyah ra. sendiri pernah ditanya seseorang, “Bagaimana keadaan Rasûlullâh saat berada di rumahnya?” Istri baginda tercinta itu menjawab, “Beliau adalah orang yang paling lemah-lembut, paling murah hati, dan tak berbeda dengan seorang laki-laki diantara kalian. Hanya saja, beliau sering tertawa yang berupa senyuman.” </p>
<p>Senyum Rasul itu bahkan terjadi pada banyak situasi dan kondisi. Ahmad Musthafa Qasim ath-Thahthawy menulis dalam Shifatu Dhahki wa Buka’in Nabi wa Muzajuhu Ma’a Ash-habihi, bahwa senyum Rasulullah bisa dikarenakan gembira, hal-hal yang kontradiktif, pemahaman yang tepat, salah paham, canda, dan perbuatan para sahabat beliau. Rasul Saw. pun tersenyum pada musuhnya sekalipun. Ini tentu contoh tersenyum yang sangat berat untuk diteladani.</p>
<p>Bahkan senyum Rasûlullâh Saw. itupun bisa terukir pada sebuah kecamuk peperangan, antara hidup dan mati.</p>
<p>***</p>
<p>Thaif sementara terlalu kuat untuk ditaklukkan. Musuh telah menguasai medan yang berbukit-bukit. Sementara kaum muslimin kesulitan menembusnya, meski sudah mengerahkan pasukan yang cukup banyak jumlahnya. </p>
<p>Rasul Saw. pun lalu bersabda, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”</p>
<p>Segolongan orang dari para sahabat segera menyampaikan keberatannya. “Janganlah engkau pergi petang ini, ya, Rasûlullâh, “ kata mereka sungguh-sungguh, “sebelum kita menaklukkan Thaif!&#8221;</p>
<p>Rasul diam sejenak, untuk kemudian bersabda, “Kalau begitu mau kalian, lanjutkan pertempuran besok pagi!”</p>
<p>Maka, ketika matahari menyingsing dari ufuk Timur keesokan harinya, para sahabat pun meneruskan pertempuran. Mereka bertarung dengan sengit melawan tentara musuh. Tetapi, bagaimanapun, musuh terlalu kuat untuk ditundukkan. Bahkan, ketika pertempuran usai, banyak anggota pasukan kaum muslimin yang jatuh terluka. </p>
<p>Rasul pun, sekali lagi, bersabda kepada mereka, “Insya Allah, besok kita akan kembali dari peperangan.”</p>
<p>Kali ini, para sahabat itu, tak satu pun yang angkat bicara. Semua diam. Membisu.</p>
<p>Rasulullah Saw. yang agung itu pun tersenyum penuh arti.</p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=22&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2007/11/28/ia-yang-selalu-tersenyum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.bahtiarhs.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R03nuwoKCr0AAH5CdfM1/ais%20fia.JPG?et=njTnlwB%2CIuZLXN5txvGMSw" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Yang Sebenar Cinta</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2007/09/26/yang-sebenar-cinta/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2007/09/26/yang-sebenar-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2007 04:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih-sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Uswah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2007/09/26/yang-sebenar-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Matahari memancar terang di cakrawala timur seperti bola raksasa yang terlontar dari balik bukit-bukit. Pasar kota Madinah pagi itu begitu ramai. Orang berlalu-lalang, datang dan pergi dengan unta ataupun keledai. Juga sekadar berjalan kaki. Riuh-rinai para pedagang yang beradu suara menawarkan barang dagangannya seperti sekumpulan lebah yang tengah membangun sarangnya. Dirham dan dinar segera bertukar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=21&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://beritaseni.files.wordpress.com/2007/04/paul-mountain.jpg"><img style="width:280px;height:181px;float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" src="http://beritaseni.files.wordpress.com/2007/04/paul-mountain.jpg?w=490" border="0"></a>Matahari memancar terang di cakrawala timur seperti bola raksasa yang terlontar dari balik bukit-bukit.</p>
<p>Pasar kota Madinah pagi itu begitu ramai. Orang berlalu-lalang, datang dan pergi dengan unta ataupun keledai. Juga sekadar berjalan kaki. Riuh-rinai para pedagang yang beradu suara menawarkan barang dagangannya seperti sekumpulan lebah yang tengah membangun sarangnya. Dirham dan dinar segera bertukar tempat dengan sekarung gandum, setangkup daging, sebungkus roti, sepasang baju besi, atau sebotol minyak wangi kesturi. </p>
<p>Pada sebuah sudut, seorang pengemis sedang duduk. Tulang-belulang lelaki Yahudi itu telah renta. Badannya lusuh, kusut-masai. Sebuah tongkat kayu ada di tangannya, tergenggam erat, seperti sesuatu yang tak hendak dilepaskannya meski barang sesaat. Sesekali tangannya yang lain menggapai-gapai sesuatu di sekelilingnya. Ia buta, hingga menggantungkan hidupnya di sudut pasar itu pada orang yang mau memberinya sesuap makanan untuk mengarungi sisa hidup.</p>
<p>Namun seperti tak pernah berhenti, dari mulutnya keluar serangkaian perkataan, setengah berteriak, kepada orang yang lewat di dekatnya. Bukan menawarkan semacam barang dagangan. Bukan pula rintihan menghiba mengharap belas-kasihan. Tapi, rentetan pesan berisi caci-maki. </p>
<p>“Wahai saudaraku. Jangan dekati Muhammad! Jangan dekati Muhammad!” teriaknya seperti tukang syair kesetanan. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kalian mendekatinya, kalian pasti akan terkena pengaruhnya!”</p>
<p>Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya datang ke tempat itu dengan makanan di tangan. Didekatinya lelaki buta itu. Perlahan, seperti tak ingin mengusiknya. Dan tanpa sepatah katapun terucap, ia kemudian menyuapinya makanan dengan tangannya sendiri. Lembut. Santun. Telaten, hingga suap terakhir. </p>
<p>Lelaki buta itu tampak merasa nyaman mendapatkan suapan makanan hari ini. Dari seorang lelaki paruh baya yang dengan lembut menyuapinya. Ia pun menyampaikan terima kasih dan juga sebuah pesan, sebagaimana disampaikannya pada setiap orang. “Jangan dekati Muhammad, kisanak!” katanya berapi. Keroncongan perutnya sudah lenyap. “Dia itu orang gila! Pembohong! Tukang sihir! Apabila kamu mendekatinya, kamu pasti akan terkena pengaruhnya!”</p>
<p>Lelaki paruh baya itu pun diam menyimak. Kemudia ia pamit, untuk kemudian kembali ke sudut pasar itu pada suatu pagi yang cerah keesokan harinya. Ia membawa makanan seperti kemarin. Ia juga menyuapi lelaki pengemis buta itu dengan kelembutan yang sama seperti sebelumnya. Dengan tangannya sendiri. Ia pun mendapatkan pesan yang sama dari pengemis buta itu sebelum pamit pergi. </p>
<p>Demikian hal itu berlangsung berbilang hari hingga pada suatu hari, lelaki paruh baya yang lembut itu tak pernah datang lagi. Dan suapan lembut itu pun berakhir sudah.</p>
<p>***</p>
<p>Suatu hari, Abu Bakar ra. datang kepada &#8216;Aisyah ra., anaknya yang istri tercinta Baginda Nabi. Ia bertanya, “Wahai anakku. Adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan?”</p>
<p>’Aisyah mengernyitkan dahi sesaat, seperti mengingat sesuatu. “Wahai Ayahku. Engkau adalah ahli sunnah Rasulullah,” kata ummul mu’minin itu lembut. “Hampir tidak ada sunnah Rasulullah yang belum engkau kerjakan kecuali satu hal saja.”</p>
<p>“Sunnah apakah itu, anakku?” tanya Abu Bakar dengan penuh penasaran.</p>
<p>“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berkunjung ke sudut pasar kota Madinah,” terang &#8216;Aisyah mengingat kembali kebiasaan suami tercintanya itu sebelum hari wafatnya. “Beliau membawakan makanan untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”</p>
<p>Tanpa menunggu waktu, pagi keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke sudut pasar kota Madinah. Ia membawa makanan di tangan. Didapatinya seorang pengemis Yahudi di sana. Tulangnya telah renta dengan badan yang lusuh dan kusut-masai. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mulai menyuapinya dengan makanan.</p>
<p>Tiba-tiba, lelaki pengemis buta itu pun berteriak marah. “Siapa kamu?” tanyanya ketus.</p>
<p>“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar. Sesuap makanan berikutnya telah siap di tangannya.</p>
<p>“Bukan! Bukan!” sergah si Yahudi dengan tongkat tergenggam erat di kedua tangannya. Matanya seperti memicing. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku!”</p>
<p>Abu Bakar termangu. “Bagaimana mungkin engkau tahu, wahai kisanak?”</p>
<p>“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah,” lanjut pengemis itu pada Abu Bakar. “Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan lembut.”</p>
<p>Abu Bakar seketika tak kuasa menahan bulir air di matanya jatuh satu demi satu. Ia pun sesenggukan di hadapan pengemis itu. “Wahai, kisanak! Aku memang bukanlah orang yang biasa datang kepadamu,” lanjut Abu Bakar diantara isak. “Aku hanyalah salah seorang sahabatnya.”</p>
<p>“O, ya? Dimana dia?”</p>
<p>“Orang yang mulia itu kini telah tiada.” </p>
<p>“Telah tiada? Siapakah dia? Siapa dia sebenarnya, wahai kisanak?”</p>
<p>“Dialah Muhammad! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”</p>
<p>***</p>
<p>Cintailah kekasihmu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar, siapa tahu suatu ketika ia menjadi kekasihmu. Ada yang mengatakan ini sebuah hadits atau setidaknya sebuah nasihat yang berharga. Apapun itu, tetapi cinta dan benci mungkin memang tak dapat mengisi tempat yang sama. Keduanya berhadapan secara diametral. Ketika salah satu menipis, maka yang lain akan menebal. Jika yang satu pergi, maka yang lain akan datang.</p>
<p>Jika cinta dan benci mengisi sebuah waktu, dan waktu terus berlalu, maka cinta dan benci pun ikut berlalu. Jika cinta dan benci mengisi ruang hati, dan hati (kalbu) itu bersifat “berbolak-balik”, maka cinta dan benci pun bisa bersifat berbolak-balik, fluktuatif: kadang naik dan kadang turun. Maka, tidak ada cinta sebenar-benar cinta kecuali cinta sebagaimana mencintai diri sendiri. Bahkan mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri, kata Nabi, merupakan salah satu tanda beriman seseorang. Bukanlah sebuah kebetulan jika iman itu juga bersifat yazidu wa yanqusu, kadang naik dan kadang turun. </p>
<p>Implementasi mencintai seseorang sebagaimana mencintai diri sendiri tercermin pada bagaimana memperlakukan seseorang sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Senangnya seseorang adalah senangnya juga. Derita seseorang tak lain deritanya juga. Jika kesadaran ini yang muncul pada diri seseorang, maka sesungguhnya tidak akan ada rasa benci dalam hatinya pada seseorang yang lain, sebagaimana dia pada dasarnya tidak akan pernah membenci diri sendiri. Tidak akan ada ruang di dalam hatinya kecuali dipenuhi dengan: cinta, cinta, dan cinta. Bahkan kepada seseorang yang membenci dirinya sekalipun.</p>
<p>Itulah yang dipraktekkan Baginda Rasul di sudut pasar Madinah itu untuk kita teladani. Kebencian seorang Yahudi kepada al-Musthofa tidak menghalangi langkahnya untuk datang berbagi dengannya. Bahkan tanpa perlu menyebutkan jati diri, laksana tangan kiri yang tak tahu-menahu ketika tangan kanannya mengulur memberi. Penyebutan jati diri hanya akan memberi warna cinta dengan setitik noktah pamrih, sehingga tak lagi putih bersih.</p>
<p>Tidaklah itu semua terjadi kecuali berangkat dari rasa cinta dan kasih sayang Baginda Nabi yang tak terkira. Tidak saja untuk sesama muslim, tetapi untuk semesta alam (rahmatan lil’âlamîn). Sebuah teladan yang tak mudah diteladani, memang. Bahkan oleh seorang Abu Bakar sekalipun. </p>
<p>***</p>
<p>“Dia Muhammad? Benarkah demikian?”</p>
<p>Abu Bakar mengiyakan.</p>
<p>Linang air matapun membahasi pelupuk pengemis itu. Ia sesenggukan, meratap teramat sangat. Menyesali apa yang sudah terjadi pada dirinya. </p>
<p>“Wahai kisanak! Selama ini aku telah menghinanya. Memfitnahnya!” katanya diantara tangis. “Dan ia tidak pernah marah kepadaku sedikitpun. Ia justru mendatangiku setiap hari, dengan membawa makanan di tangannya. Ia bahkan menyuapiku dengan tangannya yang lembut. Betapa mulia dirinya! Betapa mulia dirinya!”</p>
<p>Lelaki itupun lalu bersyahâdat di depan Abu Bakar.</p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=21&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2007/09/26/yang-sebenar-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://beritaseni.files.wordpress.com/2007/04/paul-mountain.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Konspirasi Yang Tak Mengenal Usai</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2007/08/24/konspirasi-yang-tak-mengenal-usai/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2007/08/24/konspirasi-yang-tak-mengenal-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Aug 2007 03:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasih-sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Syahid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2007/08/24/konspirasi-yang-tak-mengenal-usai/</guid>
		<description><![CDATA[Asap putih mengepul. Angin gurun yang bertiup memerahkan bara, mengobarkan api di antara serak kayu kering. Seekor kambing panggang tengah digantung di atasnya. Aroma lezatnya memenuhi udara, membangkitkan selera makan siapa saja. Seorang wanita tua tengah membolak-balik onggokan daging itu, seperti khawatir ada bagian yang terlewatkan dari jilat api. Ia kemudian mengingat kembali selaksa peristiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=20&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" alt="" src="http://images.dvdpost.be/dvd/conspiracybfr.jpg" border="0">Asap putih mengepul. Angin gurun yang bertiup memerahkan bara, mengobarkan api di antara serak kayu kering. Seekor kambing panggang tengah digantung di atasnya. Aroma lezatnya memenuhi udara, membangkitkan selera makan siapa saja. Seorang wanita tua tengah membolak-balik onggokan daging itu, seperti khawatir ada bagian yang terlewatkan dari jilat api.</p>
<p>Ia kemudian mengingat kembali selaksa peristiwa yang menimpanya dan takkan pernah dilupakannya sepanjang hidup. Khaibar telah jatuh. Salam bin Misykam, suaminya, mati di medan perang. Juga saudaranya, Marhaban, prajurit andalan kaum Yahudi. </p>
<p>Hidupnya mendadak berubah drastis. Ia kini sebatang kara dengan kesumat terpendam di dalam dada. Ia harus membalaskan dendam itu! Dan kesempatan itu kiranya telah datang ketika ia berjumpa dengan Shafiyyah, bibi Nabi, pada suatu siang yang terik.</p>
<p> “Ya, Shafiyyah,” kata wanita itu dengan senyum simpul yang paling manis terukir di bibirnya. “Sudah lama aku ingin memberi hadiah kepada Rasulullah sebagai wujud terima kasih kami atas kembalinya kedamaian di kampung kami dan atas perdamaian di antara kita.” </p>
<p>Shafiyyah memandang sosok wajah di depannya itu seakan tak percaya. Wanita Yahudi itu belum lama dikenalnya selepas benteng Khaibar ditaklukkan kaum muslimin. “Hadiah macam apa, wahai Zainab?” tanya bibi Nabi itu.</p>
<p>“Sebuah kambing panggang yang lezat,” kata Zainab bersungguh-sungguh. Matanya bertabur binar. “O, ya. Bagian tubuh kambing mana yang paling disukai Rasulullah, Shafiyyah?”</p>
<p>Shafiyyah tampak berpikir sesaat. “Tidak ada yang lebih disukai Rasulullah melebihi lengannya.” </p>
<p>Wanita tua itu pun tersenyum. Dibakarnya kambing itu dengan sempurna. Meresapkan campuran racun yang telah dioleskannya ke setiap serat daging dan tulang. Terutama lengan-lengan itu. </p>
<p>Ia lalu mengenakan perhiasan paling indah yang pernah ia punya, membawakan kambing panggang itu kepada Shafiyyah, dan memintanya untuk diberikan kepada Rasulullah SAW sebagai tanda terima kasih.</p>
<p>***</p>
<p>Siang itu Rasulullah datang ke tempat Shafiyyah. Bisyr bin Barra’ tampak bersamanya. Shafiyyah pun menghidangkan kambing panggang itu kepada keduanya. </p>
<p>“Apa ini, wahai ibu saudaraku?” tanya lelaki kinasih itu.</p>
<p>“Ini hadiah, ya Abal Qashim,” jawab Shafiyyah.</p>
<p>Dengan tangannya yang mulia, ia kemudian mencomot bagian lengan. Lantas menggigitnya. Bisyr pun mengikutinya, mengambil sekerat daging, menggigitnya dan mengunyahnya. Lalu menelannya.</p>
<p>“Angkat tangan kalian!” seru Rasulullah tiba-tiba sambil memuntahkan segumpal daging di mulutnya. “Lengan kambing ini telah memberitahuku bahwa kematianku telah diberitakan di dalamnya.”</p>
<p>Bisyr tetap menelan daging di mulutnya. “Demi dzat yang telah memuliakanmu. Aku telah mendapatinya dalam makanan yang kumakan dan aku akan memuntahkannya, aku khawatir engkau mengira makanan kesenanganmu tidak aku sukai,” jawab sahabat itu. “Aku tidak akan mementingkan diriku atas dirimu dengan mengharapkanmu menjadi korban. Biarlah aku saja, ya Rasulullah!”</p>
<p>Rasul pun menanyakan asal kambing itu pada Shafiyyah. Bibinya itu pun menyebut sebuah nama. “Dia Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam!”</p>
<p>***</p>
<p>Agaknya tidak ada Nabi sebanyak yang diutus untuk mendakwahi Bani Israel, nenek moyang kaum Yahudi. Meski begitu, mereka selalu saja membuat ulah, mengingkari ayat-ayat Allah, membangkang perintahNya, dan menyelewengkan ajaranNya. Bahkan tak cukup sampai di situ saja, mereka pun dengan kejam membunuh para Nabi. (Q.S. Al-Baqarah: 61). </p>
<p>Hal itu, nampaknya terus berlangsung hingga detik ini. Bahkan hingga dunia berakhir kelak sesaat setelah orang Yahudi terakhir terbunuh di bawah bayang pohon Gharqat.</p>
<p>Ruth Anderson, wartawan penulis dari The Palestine Chronicle, dengan penuh kegetiran menulis, “… Setiap orang tahu bahwa bayi-bayi tidak bisa melempar batu. Setiap orang tahu, kecuali orang-orang Israel dan Amerika.” Begitulah Rizki Ridyasmara mengutip majalah online itu dalam bukunya Knight Templar Knight of Christ. Itulah mengapa, tulisnya lebih lanjut, Israel dengan dukungan penuh Amerika setiap hari terus saja membunuhi bayi-bayi Palestina dengan dalih memerangi terorisme. Mereka adalah tunas-tunas yang akan tumbuh dan pada gilirannya menjadi penghalang bagi mereka untuk menguasai dunia. </p>
<p>Reagan, Clinton, dan dua Bush adalah orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat (janji) Tuhan seperti tercantum dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Ketika terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia nanti, antara Tuhan melawan Iblis, maka Kristus akan mengalahkan Anti-Christ. Karena itu, mereka harus melempangkan jalan bagi suatu hari dimana Kristus akan datang kedua kalinya ke bumi. Tak lain di tanah Palestina. Bekerjasama dengan Yahudi Israel, Amerika pun berupaya menguasai tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya pada orang-orang Yahudi untuk rencana besar itu. Bukankah kaum Yahudi yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin? (Q.S. Al-Maidah: 82)</p>
<p>Inilah konspirasi global. Ini adalah tipu-daya yang telah berusia ribuan tahun. Hingga kalian mengikuti millah mereka, begitu Al-Qur’an menulis (Q.S. Al-Baqarah: 120). Konspirasi ini sudah dimulai sejak Samiri menciptakan patung sapi emas untuk menandingi Tuhan ketika Nabi Musa menuju Thursina. Bahkan Harun Yahya mencatat bibitnya sudah ada jauh sebelumnya ketika zaman Mesir Kuno. Ada yang menyebut, mereka itulah kaum Kabbalah, yang menjadi biang-kerok perubahan Taurat, penulisan Talmud yang sarat dengan kesesatan, menjunjung tinggi kaumnya dan menganggap kaum di luar mereka sebagai ghoyim (manusia kelas dua), yang boleh dijadikan budak ataupun sekalian dibinasakan. Tak heran jika Ralph Schoenman menulis dalam The Hidden History of Zionism pada 1988, bahwa antara 29 Nopember 1947, ketika Palestina diberi dinding pembatas PBB, hingga 15 Mei 1948, jumlah orang Palestina yang tinggal di 500 kota besar, kota kecil dan desa turun drastis dari 950.000 menjadi 138.000 orang!</p>
<p>Akar konspirasi ribuan tahun itulah yang kemudian melahirkan dalam sejarah apa yang disebut Biara Sion, Orde Ksatria Templar, Fremason, kelompok Neo-Con di Amerika, Judeo-Christian atau Zionis-Kristen, Oikumene negeri-negeri Eropa dan sebagainya yang membawa kita pergi jauh ke masa silam ketika Fir’aun disembah sebagai Tuhan dan Samiri menciptakan Tuhan berupa patung sapi emas. Oleh karena itu, pengkhianatan Yahudi Bani Quraidah, Bani Nadzir, termasuk upaya meracuni Rasulullah SAW yang dilakukan Zainab binti Harits, adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan untuk membungkam dakwah kepada al-haq ini. Juga penindasan di Palestina, peristiwa 9/11, penyerbuan Afghanistan dan Irak dan sebagainya. </p>
<p>Jangan lupa kalau itu juga termasuk tontotan TV yang melenakan di sudut kamar kita.</p>
<p>***</p>
<p>“Apakah kamu yang meracuni kambing ini?”</p>
<p>Zainab binti Harits, tanpa berusaha mengelak, menjawab, “Benar. Siapa yang memberitahumu?” </p>
<p>Rasul yang agung itu pun menjawab, ”Aku diberitahu oleh yang ada di tanganku ini.” Beliau lalu menunjuk lengan kambing itu dan bertanya, “Apa maksudmu meracuni kambing ini?”</p>
<p>Wanita itu lantas menceritakan nasib yang menimpa keluarganya dalam perang Khaibar. “Engkau telah melakukan hal yang sangat tragis kepada kaumku. Lalu aku berkata, ‘Jika dia seorang Nabi, dia tidak akan dapat diracun dan akan diberitahu. Namun jika ia bukan Nabi, kami akan beristirahat dari mengurusinya.’”</p>
<p>Mendengar penuturan Zainab, dan tak seorang pun terbunuh saat itu, maka Rasulullah pun melepaskan Zainab dan membiarkannya pergi*.</p>
<p>***</p>
<p>* Dalam sebuah riwayat, ketika beberapa hari kemudian Bisyr bin Barra meninggal karena racun yang menyebar di tubuhnya, maka Zainab pun dihukum bunuh (qishash).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=20&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2007/08/24/konspirasi-yang-tak-mengenal-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.dvdpost.be/dvd/conspiracybfr.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Guru Para Pemberani</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2007/06/18/guru-para-pemberani/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2007/06/18/guru-para-pemberani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 05:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keberanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2007/06/18/guru-para-pemberani/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu pagi di kaki Gunung Uhud, 11 Syawal tahun ke-3 selepas hijrah. Di kejauhan sana, debu membubung tinggi memenuhi angkasa diiringi talu genderang perang yang ditabuh bersahutan. Tepuk-sorak membahana disela-sela wanita-wanita yang menari riang. Pasukan Quraisy Makkah telah datang lebih dulu dengan kekuatan 3000 pasukan terlatih bersenjata lengkap di tempat ini. Tujuh ratus diantaranya berbaju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=17&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" alt="" src="http://serialsilat.tungning.com/images/ss_mainimg.gif" border="0">Suatu pagi di kaki Gunung Uhud, 11 Syawal tahun ke-3 selepas hijrah. </p>
<p>Di kejauhan sana, debu membubung tinggi memenuhi angkasa diiringi talu genderang perang yang ditabuh bersahutan. Tepuk-sorak membahana disela-sela wanita-wanita yang menari riang. Pasukan Quraisy Makkah telah datang lebih dulu dengan kekuatan 3000 pasukan terlatih bersenjata lengkap di tempat ini. Tujuh ratus diantaranya berbaju besi, dua ratus orang menunggang kuda, dan sisanya menunggang unta. Tempat-tempat strategis telah mereka kuasai. </p>
<p>Pasukan muslimin tinggal mendapatkan sisanya. Sebuah ruang di kaki gunung dengan jalan lebar membentang di belakangnya, jalan empuk bagi musuh menyerang dari belakang. Setelah 300 pasukan Abdullah bin Ubay lebih dulu meninggalkan mereka di Syawath dan kembali ke Madinah, maka lengkaplah sudah kondisi pasukan yang mengikuti Nabi ke tempat ini. Tujuh ratus orang tersisa, peralatan seadanya, dan sebagian besar diantaranya tak terbiasa berperang. </p>
<p>Seorang anggota pasukan Quraisy maju menunggang untanya ke tengah medan pertempuran. Pedang di tangannya terhunus berkilat-kilat diterpa cahaya matahari seperti haus darah mangsanya.</p>
<p>“Siapa yang akan maju berperang tanding?” tanyanya pongah ke arah barisan kaum muslimin.</p>
<p>Zubair bin Awwam meringsek maju di atas untanya. Perang tanding pun berlangsung seru hingga keduanya terpental dari untanya. Zubair terjatuh di atas musuhnya. Dan dengan sekali tebas, maka terbunuhlah orang musyrik itu.</p>
<p>Nabi pun bersabda, “Bagi setiap nabi tentu ada pembantunya. Dan pembantuku adalah Zubair.”</p>
<p>Kini maju seorang pasukan Quraisy bernama Thalhah. Ia pun sesumbar. “Siapa kini yang akan berperang tanding denganku?”</p>
<p>Pasukan muslimin bergeming. </p>
<p>“Hai pengikut Muhammad! Kalian telah menyangka Tuhan mempercepat kami dengan pedangmu ke neraka dan mempercepat kalian dengan pedang kami ke syurga?” Thalhah berteriak beberapa kali menantang. “Sungguh kalian berdusta, demi Latta dan Uzza! Kalau kalian tahu betul-betul begitu, keluarlah seorang dari kalian sekarang!”</p>
<p>Seketika keluarlah dari barisan muslimin Ali bin Abi Thalib. Keduanya lantas berperang-tanding dengan sengit. Pada suatu kesempatan, menantu Nabi itu berhasil membabat kaki Thalhah dan jatuhlah orang itu dengan kaki terputus. Tampaklah kemaluannya! Ali segera meninggalkannya meski orang itu belum mati.</p>
<p>“Apa yang melarang kamu membunuhnya, wahai Ali?” seru Nabi. </p>
<p>“Karena dia menampakkan kemaluannya padaku, ya Rasulullah!” jawab pemuda itu. “Aku kasihan kepadanya.”</p>
<p>Nabi bersabda, “Bunuhlah!”</p>
<p>Ali pun kembali ke medan pertempuran dan menyelesaikan tugasnya. Sorak-sorai takbir membahana dari barisan kaum muslimin.</p>
<p>Pasukan Quraisy kemudian mengeluarkan prajurit terbaiknya. Utsman bin Abi Thalhah. Keluarlah Hamzah bin Abdul Muthalib dari pasukan muslimin. Hamzah pun berhasil membunuh Utsman. Kaum musyrikin mengeluarkan lagi prajuritnya, Abu Sa’id bin Abi Thalhah. Keluar pula Sa’ad bin Abi Waqqash dari kaum muslimin. Sa’ad pun berhasil membungkam Abu Sa’id dalam perang tanding itu.</p>
<p>Keluarlah Musafi bin Thalhah dari kaum musyrikin. Ashim bin Tsabit maju dari barisan kaum muslimin untuk menghadapinya. Dalam duel itu, Musafi tewas di tangan Ashim. Harts bin Thalhah, saudara Musafi, keluar menantang Ashim. Ashim kembali ke arena dan terbunuhlah Harts di tangannya. </p>
<p>Kilab bin Thalhah kini maju dari barisan kaum musyrikin. Untuk menghadapi, kaum muslimin mengeluarkan Zubair untuk kedua kalinya. Zubair pun berhasil membunuh Kilab. Pasukan musyrikin lalu mengeluarkan Jallas bin bin Thalhah, saudara Musafi, Harts, dan Kilab. Kaum muslimin mengeluarkan Thalhah bin Ubaidillah. Dalam perang tanding itu, Jallas terbunuh oleh pedang Thalhah.</p>
<p>Kaum musyrikin belum puas. Mereka mengeluarkan seorang yang gagah perkasa bernama Arthah bin Surahbil. Kaum muslimin mengeluarkan Ali bin Abi Thalib untuk kedua kalinya. Keduanya bertanding sama-sama kuatnya. Hingga akhirnya, setelah melalui duel yang keras, Ali berhasil membunuh Arthah. </p>
<p>Seorang lagi keluar dari barisan kaum musyrikin. Suraih bin Qaridh. Hamzah keluar kedua kalinya untuk menghadapinya. Dan tewaslah Suraih di tangan Hamzah. Mereka masih menantang juga dengan keluarnya Abu Zaid bin Amr. Qasman dari kaum muslimin maju menghadapinya. Abu Zaid pun dikalahkan oleh Qasman. </p>
<p>Quraiys kembali mengeluarkan jagonya. Kini anak Surahbil, saudara Arthah yang telah dibunuh Ali, keluar dari barisan kaum musyrikin. Qasman kembali menghadapinya. Dan terbunuhlah anak Surahbil itu di tangannya.</p>
<p>Belum puas juga, Quraisy mengeluarkan Shu’ab dari Habsyi. Qasman kembali menghadapi Shu’ab. Qasman, untuk ketiga kalinya, bisa membunuh musuhnya di medan perang tanding.<br />
Setelah itu, kaum Quraisy tak mengeluarkan lagi seorang jagonya untuk berperang tanding.</p>
<p>Peperangan kedua pasukan belum juga mulai. Tetapi, kaum Quraisy sudah kehilangan 12 orang anggota pasukan terbaiknya. Dan tak seorangpun terbunuh dari kaum muslimin. </p>
<p>***</p>
<p>Ketika sebuah pasukan kecil yang tak semuanya terlatih dengan penuh kesadaran datang ke sebuah tempat yang tak menguntungkan untuk berhadapan dengan sebuah pasukan yang empat kali lipat lebih banyak, lebih besar, lebih lengkap persenjataannya, dan sebagian besar diantaranya jago berperang, apa yang dimiliki oleh pasukan kecil itu? </p>
<p>Jawabnya adalah sebuah “keberanian” yang tiada tara.</p>
<p>Apakah “keberanian” itu? Ketika menghadapi orang yang lebih lemah, pasukan yang lebih kecil, ataupun situasi yang sangat mudah dan dapat diduga, apakah diperlukan sebuah keberanian? </p>
<p>Mungkin tak perlu, karena keberanian adalah “having no fear when faced with something dangerous, difficult, or unknown.” Sebuah sikap yang tidak memiliki rasa takut ketika menghadapi sesuatu yang berbahaya, lebih sukar, dan tak bisa ditebak.</p>
<p>Keberanian bisa tumbuh karena banyak hal. Namun apapun alasannya, konsekuensi sebuah keberanian adalah adanya suatu resiko yang harus dibayar. Boleh jadi berupa hilangnya jabatan, kekayaan, kesempatan. Juga rasa sakit. Atau bahkan hilangnya nyawa. Dan inilah keberanian yang paling puncak itu. </p>
<p>Tidaklah seseorang bisa memiliki keberanian yang paling puncak itu kecuali pasti ia telah ditempa oleh sebuah didikan yang maha hebat untuk bisa sampai pada pencapaian itu. Sebuah didikan yang menjadikan “menang” dan “mati” sebagai dua motivasi paling dominan. Bahwa Allah pasti akan memberikan “kemenangan” kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuhnya. Dan bahwasanya “mati” justru menjadi sesuatu yang bahkan sangat dicari dan dirindukan (syahid). Bagaimanapun, mati seperti ini adalah sebuah “kemenangan” pula, meski dalam bentuk yang lain.</p>
<p>Inilah yang menyebabkan mereka, pasukan muslimin itu, memiliki keberanian yang luar biasa untuk menghadapi pasukan yang lebih besar dibanding pertempuran mereka di Badar setahun sebelumnya. Dan hanya berbekal keberanian puncak itulah Zubair, Ali, Hamzah, Sa’ad, Ashim, Thalhah, Qasman maju ke arena dan menyelesaikan perang tandingnya. </p>
<p>Jika mereka saja mampu menjadi pasukan pemberani seperti itu, apatah lagi gurunya: Rasulullah SAW. Perang Uhud ini pun sempat menjadi saksi akan keberanian itu.</p>
<p>***</p>
<p>Akibat teledornya regu pemanah, pasukan muslimin dibuat kocar-kacir oleh pasukan berkuda Khalid bin Walid. Nabi terluka di beberapa bagian mukanya yang mulia. Dahi, pipi, bibir bawah. Sebagian gigi sang kinasih itu pun pecah dan menusuk daging bibirnya. Bahkan dua potong besi menembus gusinya. Wajahnya berlumur darah.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, datanglah Ubay bin Khalaf. Ia berbaju besi lengkap dan memacu kudanya dengan kencang ke arah Nabi dengan pedang di tangan. Ia lalu meloncat dari kudanya hendak menyerang lelaki mulia itu. Seorang sahabat segera menghadangnya. Namun, ia terbunuh oleh pedang Ubay yang menyerang ganas.</p>
<p>“Mana orang yang mendakwahkan dirinya nabi itu? Hendaklah ia melawanku!” serunya sombong dengan pedang berlumur darah di tangan. “Jika ia benar-benar seorang nabi, tentu aku dibunuh olehnya. Ayo majulah melawanku!”</p>
<p>Ia terus meringsek maju ke arah Nabi yang dijaga ketat oleh sekalian sahabat yang tersisa. “Mana Muhammad!” Ia mengacung-acungkan pedangnya. “Aku tidak selamat kalau kamu selamat! Aku tidak selamat kalau kamu selamat!”</p>
<p>Mendengar seruan Ubay, lelaki mulia itu pun menyuruh para sahabatnya untuk minggir. Tersibaklah pagar betis para sahabat. Ia kini berdiri tanpa pendamping, tegak di tempatnya seperti gunung Uhud, dan dengan tenang menunggu serangan Ubay. Di tangannya tergenggam tombak milik Harits ibnu Shammah. Pada mukanya darah segar masih tampak menetes-netes.</p>
<p>Ubay nyalang! Ia segera menghambur ke arah lelaki itu dengan pedang teracung. Membunuh Muhammad, membungkam dakwahnya untuk selamanya, adalah tujuan utamanya datang ke medan perang ini. Dan kesempatan itu agaknya sudah ada di depan matanya.</p>
<p>Tetapi belum lagi ia menyadari, lelaki mulia itu tiba-tiba mengayunkan tombak di tangannya. Keras! Deras! Dan … jraabb! Senjata berujung runcing itu menembus satu-satunya celah terbuka antara baju besi dan topi besi Ubay. Menusuknya tepat di leher!</p>
<p>Laki-laki itu pun jatuh tersungkur dari kudanya. Pedang terlepas dari tangannya. Ia lalu berusaha bangkit dengan susah-payah, tertatih menunggang kudanya kembali, lalu lari terbirit-birit dengan luka menganga di lehernya (1).</p>
<p>***</p>
<p>(1) Menurut riwayat, Ubay bin Khalaf akhirnya meninggal karena luka-lukanya di sebuah tempat bernama Saraf.</p>
<p>Untuk persiapan napak tilas bulan Agustus 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=17&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2007/06/18/guru-para-pemberani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serialsilat.tungning.com/images/ss_mainimg.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sebab Nila Setitik</title>
		<link>http://napaktilas.wordpress.com/2007/05/08/sebab-nila-setitik-rusak-susu-sebelanga/</link>
		<comments>http://napaktilas.wordpress.com/2007/05/08/sebab-nila-setitik-rusak-susu-sebelanga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2007 14:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bahtiar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesombongan]]></category>
		<category><![CDATA[Keteguhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://napaktilas.wordpress.com/2007/05/08/sebab-nila-setitik-rusak-susu-sebelanga/</guid>
		<description><![CDATA[6 Syawal selepas penaklukan kota Mekkah yang gemilang. Abdullah bin Abi Hadrad al-Islami telah kembali tanpa secuil kulit pun yang terluka. Bagaimanapun penyusupannya seorang diri ke dalam pasukan kabilah Hawazin yang telah bersekutu dengan kabilah Tsaqif, Nashr, Jusyam, dan Bani Bakr sama sekali tak terendus. Ia kini bahkan membawa berita penting: sejumlah pasukan besar telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=16&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><img style="float:left;cursor:pointer;margin:0 15px 15px 0;" alt="" src="http://img.dailymail.co.uk/i/pix/2006/08/allergies310806_228x239.jpg" border="0">6 Syawal selepas penaklukan kota Mekkah yang gemilang. </p>
<p class="MsoNormal">Abdullah bin Abi Hadrad al-Islami telah kembali tanpa secuil kulit pun yang terluka. Bagaimanapun penyusupannya seorang diri ke dalam pasukan kabilah Hawazin yang telah bersekutu dengan kabilah Tsaqif, Nashr, Jusyam, dan Bani Bakr sama sekali tak terendus. Ia kini bahkan membawa berita penting: sejumlah pasukan besar telah bersiap dengan pedang di tangan. Mereka bermaksud mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Dua puluh ribu orang dengan dua puluh ribu pedang! Di lembah Hunain, lebih dari sehari perjalanan dari Mekkah menuju Thaif.</p>
<p class="MsoNormal">Nabi SAW segera mempersiapkan pasukan perang. Maka terkumpullah 10.000 personil dari Muhajirin dan Anshar berikut 2.000 orang penduduk Mekkah yang baru saja masuk Islam. Bahkan kaum musyrikin Mekkah pun turut bergabung dalam pasukan Nabi sejumlah 80 orang, termasuk Shafwan bin Umayyah, pada siapa Nabi telah meminjam 100 buah baju besi lengkap dengan persenjataannya.</p>
<p class="MsoNormal">Pasukan besar itu pun segera bertolak ke Hunain. Barisan berjalan kaki dan barisan pasukan berkuda tentara Islam bergerak serentak diiringi barisan beratus unta yang membawa perbekalan makanan serta persenjataan lengkap. Tiap-tiap kabilah membawa benderanya masing-masing yang berkibar-kibar di tiup angin lembah padang pasir dari balik bukit-bukit. Sementara setiap orang memegang pedang, busur gandewa berikut warastra penuh anak panah, ataupun tombak panjang bermata besi yang berkilat-kilat. Debu-debu beterbangan di setiap hentakan kaki-kaki mereka, membubung tinggi memenuhi langit, meninggalkan jejak yang panjang di belakang barisan.</p>
<p class="MsoNormal">Setiap wajah terlihat begitu bangga dan gembira. Bagaimanapun, baru sekali itu pasukan muslimin bergerak dalam jumlah yang begitu besar. Persenjataan lengkap. Persediaan makanan dan perlengkapan perang lebih dari cukup. Bahkan pada saat itu, mereka diiringi pula oleh kaum perempuan dari Mekkah yang baru saja masuk Islam. Kekuatan mereka kini hampir empat puluh kali lipat dibanding ketika menghadapi musuh pertama kali di Badar! </p>
<p class="MsoNormal">Tercetuslah dari mulut sebagian anggota pasukan dalam perjalanan itu di tengah debu-debu yang beterbangan, “Kita yakin, kemenangan pasti jatuh ke tangan kita. Pihak musuh tidak akan dapat mengalahkan kita.”</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">***</p>
<p class="MsoNormal">Pagi menyingsing. Namun gelap pekat masih membayang, karena matahari belum juga muncul di ufuk timur. Hunain yang berbukit-bukit sudah di depan kelopak mata pasukan muslimin. </p>
<p class="MsoNormal">Setelah beristirahat dalam semalam, Nabi SAW lalu memberangkatkan lebih dulu pasukan Khalid bin Walid dan kabilah Bani Sulaim. Nabi beserta sekalian Muhajirin dan Anshar berada di barisan belakang mereka. </p>
<p class="MsoNormal">Kedua pasukan pelopor itu tak lama kemudian menuruni gurun Tihamah. Pedang-pedang masih berada dalam sarungnya. Tombak-tombak masih teracung ke atas. Busur panah masih dalam kalungan di dada. Namun, belum genap kaki dilangkahkan menuruni gurun, seketika terdengar suara menggemuruh membelah udara yang dingin dan gelap. Beberapa anggota pasukan tiba-tiba sudah bertumbangan tanpa sadar dan sempat mengelak. Panah-panah tertancap di tubuh-tubuh mereka! </p>
<p class="MsoNormal">Teriakan histeris lantas menggema memenuhi gurun itu! Ribuan panah terus datang susul-menyusul. Seketika puluhan tubuh berjatuhan mencium tanah yang kering seperti pohon-pohon yang ditumbangkan serentak. Pasukan kocar-kacir di tengah kepanikan dan ketakutan. Juga kegelapan pagi. Mereka tak dapat melihat dimana lawan dan dari arah mana panah-panah itu diluncurkan. Bahkan karenanya, anggota pasukan muslimin saling baku hantam dengan kawan sendiri! </p>
<p class="MsoNormal">Mereka kemudian lari tunggang-langgang meninggalkan medan peperangan demi sepotong nyawa yang masih tersisa. Lari ke garis belakang dan melupakan rasa malu! Musuh pun turun dari bukit dan keluar dari gua-gua tersembunyi, mengejar pasukan besar yang tercerai-berai itu, dan menghujaninya dengan panah-panah maut. Jerit kematian pun datang susul-menyusul. </p>
<p class="MsoNormal">Nabi SAW segera berseru dari atas <i>bighal</i>-nya, “Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?” </p>
<p class="MsoNormal">Pasukan yang kocar-kacir itu pun masih terus mundur menyelamatkan diri mereka sendiri-sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">“Wahai sekalian manusia, mau kemana kalian?” Sekali lagi Nabi berseru. “Marilah kalian datang kepadaku. Aku Rasulullah! Aku Muhammad bin Abdullah!”</p>
<p class="MsoNormal">Teriakan Nabi itu seperti hilang tertelan hiruk-pikuk pasukan yang tengah putus-asa. Lari tak terkendali. Telinga mereka seperti tuli, tak mendengar sedikitpun seruan Nabi. Bahkan karenanya, justru pasukan musuhlah yang kini mengarahkan serangannya pada diri lelaki yang agung itu! </p>
<p class="MsoNormal">Dan Nabi kini dalam bahaya!</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">***</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin kita pernah mendengar cerita tentang seseorang yang membocorkan dasar kapal ketika rasa hausnya tak segera terlampiaskan. Tak ada air di dalam kapal itu yang bisa ia teguk kecuali air lautan. Namun, tindakan itu justru telah menenggelamkan tidak saja dirinya sendiri, melainkan seluruh penumpang dan isi kapal.</p>
<p class="MsoNormal">Begitulah jika gerak perjuangan sebuah kelompok (jama’ah) ternoda meski hanya dilakukan oleh segelintir anggota. Bukankah Nabi pernah bersabda, bahwa setiap muslim ibaratnya adalah anggota tubuh? Sakit salah satu diantaranya, maka sakit pula seluruh tubuh itu. Maka apa yang dilakukan oleh salah seorang diantaranya berpengaruh pada kaum muslimin secara keseluruhan.</p>
<p class="MsoNormal">Banyak peperangan kaum muslimin dengan musuhnya telah mengajarkan bahwa jumlah yang besar saja belum tentu menang. Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang begitu besar berlipat-lipat dengan izin dan pertolongan Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah: 249). Di Badar, Khandaq, Khaibar, juga Mu’tah. Dan pada perang Uhud pun kaum muslimin sebenarnya sudah pernah mendapatkan pelajaran berharga, bagaimana ketika perintah dilanggar oleh segelintir pemanah dapat mencelakakan seluruh pasukan.</p>
<p class="MsoNormal">Itulah yang kemudian terjadi pada Perang Hunain. Jumlah pasukan muslimin yang begitu besar dengan persenjataan dan perlengkapan yang lengkap telah membuat takjub, bangga dan sombong sebagian anggota pasukan. Sebagian anggota saja! Namun kebesaran pasukan itu seperti tak ada artinya ketika ternyata harus kocar-kacir oleh serangan musuh yang tidak disangka-sangka datangnya. Bahkan, mereka sempat lari terbirit-birit meninggalkan medan peperangan.</p>
<p class="MsoNormal">Hanya karena izin Allah SWT dan kokohnya pendirian Nabi SAW sajalah situasi kacay ini akhirnya dapat berbalik dan pulih kembali.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">***</p>
<p class="MsoNormal">Keadaan semakin genting dan sulit. Nabi tetap bergeming di atas <i>bighal</i>-nya. Sementara Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan bin Harits, Usamah bin Zaid,<span>&nbsp; </span>berikut segenap sahabatnya yang setia tetap berada di sekeliling Nabi dan melindunginya.</p>
<p> Atas permintaan Nabi, Abbas kemudian berseru, “Wahai orang-orang Anshar yang pernah menjadi pelindung dan penolong Nabi!” </p>
<p class="MsoNormal">Suara paman Nabi ini keras menggema memenuhi lembah itu. </p>
<p class="MsoNormal">“Wahai orang-orang Muhajirin yang pernah bersumpah setia di bawah pohon*!” </p>
<p class="MsoNormal">Suara teriakan itu mengatasi jerit kesakitan dan bahkan desingan panah-panah!</p>
<p class="MsoNormal">“Sesungguhnya Muhammad masih hidup! Muhammad masih hidup!”</p>
<p class="MsoNormal">Berulang kali Abbas meneriakkan kalimat-kalimat itu. Berulang kali suara itu menggema memenuhi bukit, menembus relung-relung hati yang putus-asa. Berulang kali. Pada akhirnya, sayup-sayup terdengarlah sambutan-sambutan itu di setiap tempat:</p>
<p class="MsoNormal"><i>Labbaik! Labbaik! Labbaik!</i></p>
<p class="MsoNormal">Maka berkumpullah kembali pasukan yang telah tercerai-berai itu di sekitar Nabi yang tak pernah surut langkah sedikitpun dari tempatnya berpijak. Mereka kini bersatu kembali dan siap berbalik menggilas musuh.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">***</p>
<p> Keterangan.
<p class="MsoNormal">* bersumpah di bawah pohon = maksudnya di bawah pohon <i>Samurah</i> dimana kaum muslimin pernah bersumpah setia membela Islam hingga titik darah penghabisan saat di Hudaibiyah sebelum <i>Fathu</i> Makkah.</p>
<p>Dimuat dalam Al-Mu&#8217;tashim rubrik Napak Tilas edisi bulan Juli 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/napaktilas.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/napaktilas.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/napaktilas.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/napaktilas.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=napaktilas.wordpress.com&amp;blog=757029&amp;post=16&amp;subd=napaktilas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://napaktilas.wordpress.com/2007/05/08/sebab-nila-setitik-rusak-susu-sebelanga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab20b241141150a74871b14b46cd56c1?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">napaktilas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.dailymail.co.uk/i/pix/2006/08/allergies310806_228x239.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
