Bahtiar HS dilahirkan di Kota Reog Ponorogo, sebuah daerah yang diapit Gunung Wilis di Timur dan Gunung Lawu di Barat. Berjarak 4 jam perjalanan dengan kendaraan umum dari Surabaya ke arah jalur barat-selatan, kota ini mempengaruhi masa kecil dan remajanya hingga menyelesaikan sekolahnya di SMA.
Ia kemudian hijrah ke Surabaya, menimba ilmu sebagai mahasiswa di Teknik Komputer — kini Teknik Informatika — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sejak 1990. Tahun 1997 ia lulus dari jurusan itu dengan sebuah tugas akhir berjudul: “Perancangan dan Pembuatan Perangkat Lunak untuk Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan Awak Kabin Pesawat.”
Ia aktivis laboratorium, disamping sempat aktif pula di Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Teknik Elektro-Komputer. Sebelum lulus, ia sempat memprakarsai berdirinya FUSI (Forum Ukhuwah dan Study Islam) yang menggabungkan aktivis LDK dari kampus-kampus Surabaya dan Malang menjelang masa reformasi.
Debutnya di dunia kepenulisan diawali dengan karya cerita pendeknya di majalah OSIS SMP Negeri 1 Ponorogo, tempat ia bersekolah. Judulnya yang meski tak ia ingat lagi tetap membekaskan kenangan yang tak bisa ia lupakan dalam riwayat kepengarangannya. Beberapa kali ia memenangkan lomba menulis puisi di SMP yang sama, juga juara baca puisi. Yang terakhir ini sempat mengantarnya menjadi juara 1 Lomba Baca Puisi kota Ponorogo tingkat pelajar SMA.
Ketika mahasiswa sering mengisi majalah dinding Himpunan Mahasiswa dengan tulisan beragam, khususnya features yang kata teman-temannya ’sulit ditebak maunya apa’.
Cerpennya pernah dimuat di Harian Surya Surabaya sekitar tahun 1995, berjudul Beras Vietnam. Silaturahminya dengan Helvy Tiana Rosa pada awal 1997 yang cerpen terkenalnya berjudul Ketika Mas Gagah Pergi begitu mempengaruhinya, telah membawanya bersinggungan dengan penulisan fiksi islami, Annida, dan Forum Lingkar Pena (FLP).
Pada Juli 1997, cerpennya yang berjudul “Oh, Indahnya Chatting” untuk pertama kali dimuat di Annida begitu ia kirim. Dan pada Lomba Menulis Cerita Pendek Annida ke-IV, ia menjadi salah seorang pemenang dengan penghargaan bersama Sakti Wibowo dengan cerpennya yang berjudul “Basyir atawa Seorang Sahabat yang Hilang.” Beberapa cerpennya kemudian muncul di majalah cerita islami ini. Juga di majalah Ummi.
Di FLP, ia sempat menjadi pengurus Jaringan Wilayah Indonesia FLP Pusat pada 2000 s.d. 2004. Pada 2004 s.d. 2006, ia menjadi Ketua FLP Wilayah Jatim yang membawa FLP Jatim berkembang dari sebelumnya 2 Cabang FLP menjadi 9 Cabang dan beberapa Ranting FLP. Pada Munas FLP ke-II tahun 2004 di Kaliurang, ia sempat didapuk menjadi Pimpinan Sidang yang membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga FLP serta memilih pengurus FLP Pusat yang baru pimpinan Irfan Hidayatullah. Kini ia anggota FLP biasa yang sering diminta mengisi pelatihan penulisan fiksi / non fiksi, bedah buku, dan moderator diskusi penulisan di berbagai tempat.
Ia pernah menjadi salah seorang pemenang pada Lomba Penulisan Cerita Keagamaan tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Agama RI pada 2002 dengan noveletnya yang berjudul “Perseteruan Doea Bintang”.
Beberapa cerpennya sempat dibukukan dalam antologi cerita pendek di Suatu Petang di Kafe Kuningan (2002), Cahaya di Lorong Purnama (Syaamil, 2003), dan Merah di Jenin (Syaamil, 2003). Beberapa tulisannya tercantum di buku Matahari Tak Pernah Sendiri (Mizan, 2004).
Saat ini menulis beberapa tulisan non-fiksi di Oase Iman EraMuslim.com, Majalah Al-Mu’tashim, dan beberapa blog yang ia punya seperti di multiply, blogspot, wordpress, dan juga blog perusahaan.
Ia juga dipercaya sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Al-Mu’tashim mulai Juli 2007. Sehari-hari, ia bekerja di Infoglobal Group, sebuah perusahaan penyedia solusi di bidang ICT berbasis di Surabaya, dan dipercaya sebagai Corporate Secretary — disamping masih terlibat dalam berbagai proyek, seperti Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) di TNI AL, Content Management System (CMS) di ITS Surabaya, dan juga Consultant Individual di Bappenas untuk membangun arsitektur e-Procurement Nasional.
Memiliki seorang istri, Farida Megalini, seorang dokter-herbalis, dengan 4 (empat) orang anak: Ais, Fia, Maura, Azril, ia kini tinggal di rumahnya yang sederhana di Surabaya.
***
updated: June, 27, 2007

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini